Rekaman Videonya Dipotong, Sukmawati Minta Polri Tangkap Otak Penyebar

Rekaman Videonya Dipotong, Sukmawati Minta Polri Tangkap Otak Penyebar
Sukmawati Soekarnoputri. ( Foto: Antara )
Yustinus Paat / AO Selasa, 19 November 2019 | 06:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kuasa hukum Sukmawati Soekarnoputri, Petrus Selestinus meminta Polri segera menangkap otak dan pelaku penyebaran rekaman video yang sudah tidak utuh atau sudah dipotong-potong. Rekaman video itu berisi pembicaraan atau pandangan Sukmawati dalam forum diskusi kebangsaan dengan tema "Bangkitkan Nasionalisme, Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme" yang diselenggarakan oleh Divisi Humas Polri, beberapa waktu lalu.

Petrus menyayangkan masih ada pihak-pihak yang secara sengaja dan tanpa hak mencoba melakukan kejahatan berupa menyebarkan informasi yang tidak mengandung kebenaran dengan tujuan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan SARA.

"Rekaman video yang beredar dalam keadaan tidak utuh berupa potongan-potongan rekaman isi pembicaraan yang sengaja disebarkan ke publik berbeda dari narasi asli isi pembicaraan Ibu Sukmawati yang utuh dalam diskusi kebangsaan tersebut. Ini sangat kita sesalkan," ujar Petrus di Jakarta, Senin (18/11/2019).

Petrus mendorong pihak Divisi Humas Polri untuk segera mengklarifikasi rekaman yang utuh dari pembicaraan atau pandangan Sukmawati dalam acara seminar kebangsaan tersebut. Hal ini penting, kata Petrus, agar menjadi jelas dan terang bahwa tidak ada satu pun narasi dalam isi pembicaraan Sukmawati berisi pernyataan yang kontennya menista agama.

"Kami meminta kepolisian untuk segera mengklarifikasi guna mencegah penyalahgunaan terhadap video yang telah beredar secara tidak utuh dan bertujuan memprovokasi dan memecah belah umat," kata dia.

Petrus juga meminta Polda Metro Jaya untuk segera memprioritaskan penyelidikan untuk mencari dan menemukan otak dan pelaku penyebaran informasi melaui video yang sudah dipotong-potong dan ditujukan untuk menimbulkan perpecahan berdasarkan SARA. Menurut dia, polisi tidak perlu menunggu adanya laporan atas otak dan pelaku penyebaran rekaman video tak utuh tersebut.

"Polda Metro Jaya bisa proaktif meskipun belum ada pihak yang melaporkan adanya dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja dan tanpa hak telah menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian di kalangan masyarakat tertentu berdasarkab sara, dengan cara memanipulasi, memotong-motong rekaman video isi pembicaraan Ibu Sukmawati sehingga menjadi tidak utuh dan berpotensi mengarah kepada tuduhan penistaan agama," kata Petrus.

Menurut Petrus, tidak ada niat dan konten sedikit pun dari pembicaraan Sukmawati yang berisikan tindak pidana penistaan agama. Dia menilai, justru ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab menyebarkan rekaman video yang sudah dipotong-potong.

"Oknum-oknum ini tidak boleh dibiarkan oleh polisi. Harus segera ditangkap dan ditahan oleh polisi," kata Petrus.

Sebelumnya, Sukmawati dilaporkan sejumlah pihak ke Bareskrim Polri atas tudingan penistaan agama saat menjadi pembicara di acara yang diselenggarakan Divisi Humas Polri. Sukmawati dianggap menistakan agama karena membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno.



Sumber: Suara Pembaruan