Air Waduk Sutami Menyusut, Pasokan Listrik Jawa-Bali Terancam

Air Waduk Sutami Menyusut, Pasokan Listrik Jawa-Bali Terancam
Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). ( Foto: Beritasatu.com/ Gugun A Suminarto )
Aries Sudiono / YUD Kamis, 21 November 2019 | 05:52 WIB

Malang, Beritasatu.com - Pasokan air di Bendungan (Waduk) Ir Sutami, di Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, kini terus menurun dikarenakan awal musim penghujan sekarang ini tidak merata di wilayah Malang Raya yang meliputi Kota Batu, Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Pasokan air dari anak-anak sungai dan badan Sungai Brantas sebagai pendukung utama pasokan air guna menggerakan dua turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Bendungan Ir Sutami dan satu turbin lainnya di Bendungan Lahor yang ada di sebelahnya Bendungan Ir Sutami, kini terus menurun. Ketiga turbin PLTA itu ditangani Unit Pembangkitan (UP) Brantas dirasakan penurunan pasokan airnya sejak Oktober 2019 yang lalu.

“Karena pasokan air penggerak ketiga turbin pembangkit tenaga listrik itu berkurang, praktis putaran turbin juga menurun. Jika rata-rata kapasitas turbin itu 35 MW atau 360 GwH per tahun, manakala volume luncuran air sebagai pemutar baling-baling turbin menurun, maka praktis daya kelistrikan yang dihasilkan juga akan berkurang,” ujar Doddy Nafiudin, Kepala Bidang Stakeholder Management PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) melalui keterangan, Rabu (20/11/2019).

Pada saat (pasokan debit air ke badan Sungai Brantas) normal, PLTA Ir Sutami yang dibangun tahun 1973-1976 itu akan memberikan keistimewaan menginterkoneksi (disalurkan ke sistem kelistrikan) ke (12) pembangkit listrik lainnya se Jawa-Bali. Bilamana penyaluran dari induk PLTA Ir Sutami menurun, maka dapat dipastikan belasan pembangkit listtrik lainnya se-Jawa Bali akan terganggu. “Ya bisa byar pet, termasuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Paiton di perbatasan timur Kabupaten Probolinggo-Kabupaten Situbondo, Jatim ikut terganggu,” katanya.

Menurut Doddy, mengacu pada karakteristik tubuh bendungan sendiri panjang puncaknya 823, 5 meter, elevasi puncak EL 279 meter, lebar puncak 13,7 meter, dan tinggi bendungan sekitar 100 meter, volume timbunan 6.156.000 m3, serta panjang lebar dasar 400 meter. Selain untuk memenuhi kebutuhan utama PLTA, bendungan tersebut juga berfungsi sebagai pengendali banjir, tandon penyaluran pasokan air irigasi (persawahan) teknis 24 meter kubik per detik (m3/detik) untuk luasan 34.000 hektar, untuk bahan baku air minum, dan perikanan air darat.

Doddy Nafiudin mengemukakan, bahwa debit air yang masuk ke bendunan menurun sejak Oktober 2019. Secara teknis penurunan air masuk menyebabkan gangguan pada kinerja ketiga turbin atau generator. Jumlah Kwh yang diproduksi menjadi berkurang karena generator tak bisa bekerja optimal. Semua pembangkit di UP Brantas saat ini siap beroperasi, akan tetapi karena kondisi inflow air yang masuk ke waduk mengecil, maka otomatis putaran turbin menurun dan KwH produksinya jadi berkurang,” ujar Doddy lagi.

Ia menyebut, bila kondisi hujan tetap tidak merata hingga akhir November, maka pasokan listrik Jawa-Bali dari PLTA Ir Sutami Brantas terancam tersendat-sendat. Sebab, jika tidak ada hujan maka air hujan gagal mengisi elevasi waduk sesuai pola normalnya. “Sebagai antisipasi kami mengatur pola operasi PLTA Sutami dan PLTA lainnya. Terutama pada DAS Brantas, agar PLTA tetap beroperasi pada pagi dan malam. Kami juga melakukan hujan buatan bersama Perum Jasa Tirta I dan Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBTMC-BPPT) untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC),” tandas Doddy.

Diakuinya, kendati kekurangan air, untuk sementara ini menurut dia dipastikan pasokan listrik Jawa-Bali masih tetap aman. Sekarang pembangkit di UP Brantas setiap malam atau saat beban puncak beroperasi dengan beban sekitar 110 MW., sedangkan saat pagi beroperasi dengan beban 45 MW. “Hanya saja, kiat membuat hujan buatan di kawasan udara Malang Raya sebagai daerah pemasok air Sungai Brantas, mesti dipikirkan untuk diupayakan menghasilkan hujan,” tambahnya. Sementara itu diakui, listrik Jawa-Bali sangat vital karena selain sebagai pemasok kebutuhan energi listrik perusahaan, juga perkantoran serta warga masyarakat (penduduk) se Jawa-Bali.



Sumber: Suara Pembaruan