KPK Cecar Komisaris Humpuss Transportasi Kimia Soal Sumber Suap

KPK Cecar Komisaris Humpuss Transportasi Kimia Soal Sumber Suap
Bowo Sidik Pangarso. (Foto: Antara / Hafidz Mubarak A)
Fana Suparman / YUD Kamis, 21 November 2019 | 06:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Komisaris PT. Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Theo Lykatompesy sebagai saksi kasus dugaan suap kerja sama pengerjaan pengangkutan atau sewa kapal untuk distribusi pupuk antara PT HTK dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG), Rabu (20/11/2019). Theo diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Direktur PT HTK Taufik Agustono.

Dalam pemeriksaan ini, tim penyidik mendalami sumber uang suap yang diduga diberikan Taufik dan Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti kepada mantan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso melalui anak buahnya Indung. Diduga uang suap yang diberikan lantaran Bowo telah membantu PT HTK mendapatkan kembali kontrak kerja sama pengerjaan pengangkutan atau sewa kapal untuk distribusi pupuk dengan PT PILOG itu berasal dari PT HTK.

"Penyidik mendalami keterangan saksi terkait aliran dana kepada terdakwa BSP (Bowo Sidik Pangarso) dari PT Humpuss Transportasi Kimia," kata Jubir KPK, Febri Diansyah melalui pesan singkat, Rabu (20/11/2019).

Diketahui, penetapan tersangka terhadap Taufik merupakan pengembangan dari kasus suap yang menjerat mantan anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dan anak buahnya Indung serta Marketing Manager PT HTK Asty Winasti.

Majelis Hakim telah menjatuhkan hukuman 2 tahun pidana penjara dan denda Rp 50 juta subsider 1 bulan kurungan terhadap Indung. Sementara, Asty divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 1,5 tahun pidana penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta. Majelis Hakim menyatakan Asty terbukti bersalah telah menyuap Bowo Sidik Pangarso melalui anak buahnya Indung sebesar Rp 311.022.932 dan USD 158.733.

Suap itu diberikan Asty bersama dengan Taufik Agustono lantaran Bowo telah membantu PT HTK mendapatkan kembali kontrak kerja sama pengerjaan pengangkutan atau sewa kapal untuk distribusi pupuk dengan PT PILOG.

Suap tersebut dilakukan secara bertahap yakni pada 1 Oktober 2018 sebesar Rp 221.522.932 di Rumah Sakit Pondok Indah melalui orang kepercayaan Bowo Sidik, Indung Andriani. Selanjutnya pada 1 November 2018 sebesar USD 59.587 di Coffee Lounge Hotel Grand Melia melalui Indung Andriani. Selain itu, pada 20 Desember 2018 sebesar USD 21.327 di Coffee Lounge Hotel Grand Melia melalui Indung Andriani.

Kemudian pada 26 Februari 2018 sebesar USD 7.819 di kantor PT HTK melalui Indung Andriani. Pada 27 Maret 2019 sebesar Rp 89.449.000 di kantor PT HTK melalui Indung Andriani. Bahkan, majelis hakim menyebut, Asty menerima fee sebesar USD 23.977.
Bowo Sidik saat ini masih menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta. Jaksa KPK menuntut Bowo Sidik Pangarso untuk dihukum ‎7 tahun pidana penjara dan denda Rp300 juta subsider 6 bulan kurungan.

Jaksa meyakini Bowo Sidik Pangarso bersama-sama den‎gan anak buahnya, Indung Andriani menerima suap dan gratifikasi yang bertentangan dengan jabatannya sebagai anggota DPR. Dalam persidangan pada hari ini, Bowo menyampaikan Pledoi atau nota pembelaan atas tuntutan Jaksa. 



Sumber: Suara Pembaruan