Aktivis Buruh Nilai Penolakan BTP oleh Serikat Pekerja Pertamina Tidak Elok

Aktivis Buruh Nilai Penolakan BTP oleh Serikat Pekerja Pertamina Tidak Elok
Sekjen Serikat Pekerja Pertamina Patra Wijayakusuma (SPP.PWK) Dwi Jatmoko (tengah), memberikan keterangan kepada awak media, di Gedung Patra Graha Cilacap, Jawa Tengah, Senin (18/11/2019). Serikat pekerja menolak tegas siapapun calon Direksi/Komisaris Pertamina yang memiliki track record buruk, yang masih tersangkut kasus korupsi, serta para calon yang secara hukum pernah pernah berstatus sebagai narapidana. ( Foto: ANTARA FOTO / Idhad Zakaria )
Yustinus Paat / JAS Kamis, 21 November 2019 | 19:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sekjen Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Arnod Sihite mengkritik sikap Serikat Pekerja Pertamina yang menolak Basuki Tjahaja Purnama atau BTP (Ahok) masuk Pertamina.

Menurut Arnod, Serikat Pekerja Pertamina terlalu emosional, bernuansa politis, dan bersikap tidak elok dalam menyampaikan aspirasinya.

"Jika melihat pergerakan dari teman Serikat Pekerja Pertamina beberapa hari belakangan yang menyatakan penolakan terhadap Ahok memang kurang elok dan tidak menunjukkan sikap para pemimpin pekerja yang semestinya," kata Arnod Sihite kepada Beritasatu.com, di Jakarta, Kamis (21/11/201).

Arnod menjelaskan, pemimpin serikat pekerja pertamina seharusnya memberikan ruang dan kesempatan terlebih dahulu kepada BTP untuk membuktikan kinerjanya. Menurut dia, kalau kinerja BTP buruk di Pertamina baru ditolak.

"Masa iya belum masuk, belum juga bekerja sudah diprotes. Maka wajar bila ada tudingan bahwa kawan-kawan ini takut kalau masuknya Pak Ahok banyak mengganggu kepentingan mereka," tandas Arnod.

Serikat Pekerja Pertamina, kata dia, seharusnya memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada Ahok untuk bekerja. Dia meminta Serikat Pekerja Pertamina tidak masuk terlalu jauh pada urusan-urusan politis.

"Jika dalam waktu yang sudah berjalan ternyata tidak berhasil atau malah korupsi baru buat mosi tidak percaya. Ini kan belum apa-apa. Jangan sampai kawan-kawan serikat pekerja terlalu jauh masuk urusan yang terlalu politis malah tidak produktif untuk sekelas pertamina yang basis kerjanya jelas," terang dia.

Arnod juga menyayangkan sikap mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan yang menilai masuknya BTP membuat kegaduhan. Menurut dia, bukan BTP yang membuat gaduh tetapi serikat pekerja.

"Jangan dibalik-balik. Lagipula waktu di BUMN juga Pak Dahlan suka buat gaduh juga dengan tingkah nyentriknya. Kita harus proporsional dalam menilai," ungkap Arnod.

Tambah lagi, lanjut dia, tokoh senior Rizal Ramli yang menilai BTP kelasnya Glodok sangat tidak elok. Menurut dia, pernyataan Rizal Ramli sangat tidak berkelas. Jika berbicara rekam jejak, menurut Arnod, BTP justru memiliki citra positif terkait kesejahteraan pekerja.

"Jangan lupa jasa Pak Ahok saat menjadi gubernur yang berhasil menaikkan kesejahteraan pekerja buruh di DKI. Bukan hanya itu, dia juga yang membuat pasukan oranye sehingga mereka mendapatkan tempat, dihargai dengan UMR yang tidak pernah dilakukan gubernur sebelumnya. Jadi kita harus realistis melihatnya," tegasnya.

Arnod yakin terpilihnya BTP oleh Menteri BUMN Erick Tohir bukan tanpa alasan. Salah satunya, kata dia, adanya keinginan Menteri BUMN yang ingin memberantas korupsi di tubuh BUMN dan BTP adalah orang yang tepat.

"Apalagi beliau basic-nya juga lulusan sarjana pertambangan, rekam jejak yang baik dan merupakan sosok pendobrak dan itu dibutuhkan Pak Eric," ungkap dia.

Pihaknya juga menangkap maksud baik Presiden Jokowi untuk serius membenahi sektor strategis BUMN terutama migas agar meningkatkan produksi, pendistribusian, pemasaran, manajemen dan kesejahteraan perusahaan. Menurut dia, tidak sehat bagi perusahaan jika serikat pekerjanya masuk dalam wilayah politis.

"Apa yang dilakukan oleh kawan-kawan ini bukan tidak mungkin diikuti oleh BUMN lain dan model seperti ini akan mengganggu ekonomi Indonesia apalagi BUMN yang punya aset besar Rp 8.200 triliun yang bersentuhan langsung kepada kehidupan rakyat Indonesia dan investasi asing yang juga akan berpikir menanamkan investasinya di Indonesia," ujar Arnod.

"Maka daripada kita sibuk dengan pro-kontra yang tidak efektif ini sebaiknya energi kita habiskan untuk hal positif, saatnya kita bersatu untuk sama-sama membangun bangsa dan negara," pungkas Arnod. 



Sumber: BeritaSatu.com