DPR Pertanyakan Kinerja BNPT Mencegah Teror

DPR Pertanyakan Kinerja BNPT Mencegah Teror
Foto sesaat setelah kejadian ledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Rabu (13/11) ( Foto: istimewa / istimewa )
Aichi Halik / AHL Kamis, 21 November 2019 | 20:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua Komisi III DPR RI Adies Kadir mempertanyakan kinerja Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam pencegahan aksi terorisme yang kembali marak belakangan ini.

"Kita ingin mendengar seperti apa grand strategy mitra kerja kita (BNPT) dalam menangani teror. Dari situ kami akan melakukan evaluasi," kata Adies dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi III dengan Ketua BNPT Suhardi Alius beserta jajarannya di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Kadir merasa heran kerap terjadi aksi teror dulu baru kemudian dilakukan penanganan. Seharusnya, pencegahan bisa dilakukan lebih awal, antisipasi dapat berjalan sejak jauh-jauh hari.

"Ini jadi pertanyaan Pak, kenapa 'bunyi' dulu (meledak aksi teror) baru dikejar? Tunggu korban dulu, kenapa kok ada korban dulu baru dikejar?" ujar Adies.

Padahal, menurut Adies, setelah aksi teror terjadi, aparat dengan cepat sudah mengetahui pelaku teror. Karena itulah muncul pertanyaan kenapa antisipasi teror seolah tidak bisa dilakukan terlebih dulu.

Menanggapi pertanyaan Pimpinan Komisi III DPR RI, Kepala BNPT Suhardi Alius menjelaskan, BNPT mempunyai fungsi pencegahan aksi terorisme sedangkan fungsi penindakan dilakukan oleh Densus 88 Polri.

"Yang kita siapkan di bidang pencegahan bagaimana masyarakat mempunyai resilience, punya imunitas terhadap ini, sudah sekian lama ini kita diamkan," ujar Suhardi.

Menurut Suhardi, aksi terorisme mudah tersebar ke seluruh dunia karena pengaruh perkembangan teknologi informasi.

"Semua sama (terpapar) bukan hanya Indonesia, kan dunia dalam genggaman, semua bergerak melalui medsos makanya kita tidak bisa bergerak sendiri," kata Suhardi.



Sumber: BeritaSatu TV