Kasus Terorisme di Medan, Pemimpin JAD dan Guru Ngaji Sudah Ditangkap

Kasus Terorisme di Medan, Pemimpin JAD dan Guru Ngaji Sudah Ditangkap
Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto. ( Foto: Beritasatu Photo / Arnold H Sianturi )
Arnold H Sianturi / JAS Jumat, 22 November 2019 | 08:29 WIB

Medan, Beritasatu.com - Densus 88 Antiteror Mabes Polri bekerja sama dengan Polda Sumut sudah menangkap pemimpin tertinggi jaringan Jamaah Ansharu Daulah Sumatera Utara (JAD Sumut) berikut guru mengaji pelaku bom bunuh diri di Markas Polrestabes Medan, Rabbial Muslim Nasution.

"Dari jumlah 30 terduga teroris yang ditangkap itu sudah meliputi pemimpin JAD bernama Yahdi alias Yanto alias Yahya, dan guru ngaji yakni, Salman Al Farizi dan Fahri Junaidi. Mereka ditangkap di Belawan," ujar seorang perwira polisi sumber Suara Pembaruan di Markas Polda Sumut, Jumat (22/11/2019).

Perwira polisi yang terlibat dalam pengungkapan kasus jaringan terorisme itu mengatakan, Polda Sumut bersama Densus 88 Antiteror juga menangkap ahli perakit bom, perekrut, pendoktrin, bendahara, dan calon pengantin yang dipersiapkan untuk melakukan teror bom susulan tersebut.

"Salah satu pengantin yang sudah dipersiapkan dalam rangkaian serangan bom itu adalah Dewi Anggraini. Wanita muda ini adalah istri Rabbial Muslim Nasution. Dia merupakan salah satu dari lima wanita terduga teroris yang merencanakan serangan bom bunuh diri di Bali, termasuk di Medan," katanya.

Mawarni istri Salman Al Farizi juga dikabarkan memiliki peranan dalam menenangkan para istri terduga teroris, termasuk istri dari anggota baru kelompok itu. Mereka juga sudah menyatakan kesiapan mendampingi maupun melanjutkan perjuangan suami sesuai dengan doktrin yang diterima.

Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto mengungkapkan, seluruh terduga teroris yang ditangkap mempunyai peranan masing - masing. Termasuk DA istri Rabbial Muslim Nasution, juga sering mengunjungi salah satu napi kasus terorisme berinisial I di Lapas Tanjung Gusta. Napi itu terkait teror bom di Thamrin maupun lokasi lainnya.

"Kelompok ini banyak tersebar, sehingga bisa saja melakukan aksinya, kapan dan di mana pun. Ini harus diantisipasi. Saya sudah memerintahkan seluruh kapolres dan kapolsek beserta jajaran Polda Sumut guna meningkatkan pengamanan. Kita berkoordinasi dengan TNI," imbuhnya.

Bahkan, lanjut Agus, kelompok radikal itu bisa menjalankan aksinya di rumah ibadah untuk memperkeruh suasana. "Termasuk teror di kantor polisi, pemerintahan maupun fasilitas umum. Tujuan mereka untuk mendirikan negara. Mereka jaringan JAD berbaiat ke Islamic State Irak and Syria (ISIS)," katanya.

Menurutnya, seluruh terduga teroris itu mempunyai kaitan dengan kasus ledakan bom bunuh diri oleh Rabbial Muslim Nasution di Markas Polrestabes Medan. Oleh karena itu, Polda Sumut bersama Densus 88 Antiteror masih terus melakukan pengembangan dan pengejaran. Soalnya, kelompok ini memiliki banyak jaringan. Jumlahnya dinilai tidak sedikit.

"Komunikasi mereka menggunakan media sosial. Jaringan dunia maya ini juga dimanfaatkan untuk menjaring anggota baru, termasuk mencuci otak. Jadi, banyak pola perekrutan yang dilakukan. Ada juga melalui pengajian maupun lainnya. Semua ini masih terus didalami lagi. Sehingga, proses penanganan kasus ini masih panjang.

"Oleh karena itu, kami minta masyarakat untuk mewaspadai kehadiran kelompok ini. Tingkatkan kewaspadaan terhadap orang baru di lingkungan sekitar. Kelompok ini selalu memanfaatkan tempat tinggal rumah kontrakan, tidak bersosialisasi dan selalu mengekslusifkan diri dalam pengajian kelompoknya," sebutnya.



Sumber: Suara Pembaruan