Tangan Kanan Eks Bupati Labuhan Batu Gunakan Uang Suap untuk Beli Rumah

Tangan Kanan Eks Bupati Labuhan Batu Gunakan Uang Suap untuk Beli Rumah
Ilustrasi KPK ( Foto: BeritaSatu Photo / Uthan A Rachim )
Fana Suparman / YS Jumat, 22 November 2019 | 08:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah merampungkan penyidikan kasus dugaan suap terkait proyek di lingkungan Pemkab Labuhan Batu yang menjerat Umar Ritonga, tangan kanan mantan Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap. Umar bakal segera diadili atas kasus suap ini.

Jubir KPK Febri Diansyah menyatakan, berkas penyidikan dengan tersangka Umar telah dinyatakan lengkap atau P21. Untuk itu, tim penyidik melimpahkan berkas perkara, barang bukti dan tersangka Umar ke tahap penuntutan atau tahap 2.

"Penyidikan untuk tersangka UMR (Umar Ritonga) telah selesai. Penyidik menyerahkan tersangka dan barang bukti ke Penuntut Umum (Tahap 2)," kata Febri di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (21/11/2019) malam.

Dengan pelimpahan ini, tim Jaksa Penuntut KPK memiliki waktu maksimal 14 hari untuk menyusun surat dakwaan. Nantinya, surat dakwaan tersebut akan dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Medan untuk disidangkan. Selama menunggu jadwal persidangan, KPK menitipkan penahanan Umar di Rutan Tanjung Gusta.

"UMR dibawa hari ini ke Medan untuk persiapan persidangan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan. Penahanan UMR dititipkan di Rutan Tanjung Gusta selama menunggu proses persidangan," kata Febri.

Umar diketahui sempat buron selama setahun lantaran kabur saat akan ditangkap tim KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Labuhanbatu, pada 17 Juli 2018.

Bahkan, Umar melakukan perlawanan saat mobilnya diadang oleh petugas KPK di luar bank. Saat itu, Umar sedang membawa uang Rp 500 juta yang diduga suap dari bos PT Binivan Konstruksi Abadi (PT BKA), Effendy Sahputra kepada Pangonal.
Dari proses penyidikan yang dilakukan, KPK mengatakan, uang suap Rp 500 juta yang digondol Umar telah habis selama masa pelarian.

"Terkait dengan uang Rp500 juta yang sebelumnya dibawa kabur oleh tersangka saat OTT terjadi diduga telah dihabiskan selama pelarian yang bersangkutan," kata Febri.

Sebagian di antaranya digunakan Umar untuk membeli satu unit rumah di atas satu hektar lahan sawit di Kabupaten Siak.

"Tanah dan bangunan ini telah disita KPK dan masuk dalam berkas perkara UMR," kata Febri.

Diketahui, KPK menetapkan Umar Ritonga sebagai tersangka bersama-sama dengan Pangonal Harahap dan bos PT Binivan Konstruksi Abadi (PT BKA), Effendy Sahputra. Mereka dijerat terkait kasus dugaan suap sejumlah proyek tahun anggaran 2018 di Labuhanbatu.

Namun, Umar Ritonga melarikan diri alias kabur saat akan ditangkap oleh tim KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Labuhanbatu, Selasa, 17 Juli 2018 lalu. Bahkan, Umar melakukan perlawanan saat mobilnya diadang oleh petugas KPK di luar bank. Saat itu, Umar sedang membawa uang Rp 500 juta yang diduga suap dari Effendy kepada Pangonal.



Sumber: Suara Pembaruan