Ekspor Hasil Perikanan Jateng Mencapai Rp 2,4 Triliun

Ekspor Hasil Perikanan Jateng Mencapai Rp 2,4 Triliun
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama Juan Carlos, Presiden Direktur PT Aquafarm Nusantara. ( Foto: Suara Pembaruan )
/ FMB Jumat, 22 November 2019 | 15:28 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Ekspor hasil perikanan Jawa Tengah pada tahun 2019 hingga bulan Oktober sudah mencapai Rp 2,4 triliun dengan volume sebanyak 41.289 ton. Komoditas ekspor hasil perikanan terbesar adalah rajungan, udang, dan kerupuk udang.

"Bahkan produk tilapia (ikan nila) premium kita sudah puluhan tahun menjadi makanan favorit konsumen di Amerika dan Eropa, ini jelas sangat membanggakan. Kita jadi juara ekspor perikanan," ujar Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, saat melepas Ekspor Raya Hasil Perikanan Tahun 2019 di kantor Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Semarang, Jumat (22/11/2019).

Tilapia yang dikembangkan Aquafarm Nusantara di Klaten dan sejumlah waduk di Wonogiri dan Kebumen, sudah menembus pasar ekspor ke Amerika, Eropa dan beberapa negara di Asia dan Australia. Hal itu mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mengembangkan dan bisa dipelajari oleh orang lain.

"Tilapia asal Jateng sudah diekspor ke mancanegara. Itu harganya bagus, pasarnya bagus, dan kita memang the best. Ternyata Tilapia ini tidak terlalu banyak diketahui orang, jadi saya ingin prospek ini kemudian dikembangkan. Kalau ada yang mau belajar silakan datang ke Klaten, sudah ada champion-nya di sana," ungkapnya.

Ganjar mengatakan pengembangan sektor perikanan tersebut diharapkan bisa memberikan dampak positif. Di antaranya bisa mendobrak ekonomi nasional dengan meningkatkan devisa, memberdayakan potensi yang ada di daerah-daerah, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Tugas kita dalam politik ekspor dan politik perikanan, kita bisa mengikuti perkembangan bisnis perikanan ini. Masyarakat itu butuhnya apa nanti akan kita buatkan. Misal butuh pelatihan, ya dibuatkan. Kalau butuh peningkatan kapasitas dan akses modal, ya ayo, tadi juga ada dari pihak bank juga. Saya kira ini cara coworking yang bisa kita lakukan sehingga semua bisa belajar bersama. Sudah saatnya kita masuk pada kualitas yang tinggi dan bersaing di kancah dunia," pungkasnya.

Kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Semarang, Raden Gatot Perdana menyebutkan dalam ekspor raya hasil perikanan, Jawa Tengah telah mengekspor 41.289 ton dengan nilai Rp 2,4 triliun. Sementara dalam bulan Oktober 2019 sudah ada ekspor hasil perikanan mencapai Rp 790 miliar. Hasil perikanan tersebut diekspor ke 11 negara, di antaranya ada Amerika Serikat, Italia, Tiongkok, Taiwan, Filipina, Singapura, dan beberapa negara lainnya.

Daging ikan tilapia atau nila produksi PT Aquafarm Nusantara masuk enam besar ekspor produk ikan Jawa Tengah 2019 yang berjumlah 1.535 ton dan bernilai Rp 103 miliar. Enam besar ekspor produk ikan adalah daging rajungan, surimi, cumi-cumi, udang putih, udang vanamei dan daging nila atau tilapia.

Presiden Komisaris PT Aquafarm Nusantara, Sammy Hamzah, mengatakan, perusahaanya terus mencari cara untuk meningkatkan
produksi secara efisien.

Tahun 2019, pihaknya telah mengekspor 1.600 ton Naturally Better Tilapia kualitas tinggi ke Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Kanada, dan juga melakukan penjualan di dalam negeri sebanyak 3.381 ton.

“Sebagai perusahaan penanaman modal asing dari Swiss, kami memberikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia atas dukungan dan bimbingan terhadap usaha kami. Dengan rejim peraturan yang lebih ramah terhadap investasi dan dunia usaha yang saat ini digalakkan oleh Bapak Presiden Jokowi, kami yakin mampu menumbuhkan usaha kami dan meningkatkan kontribusi ekonomi kami bagi pemerintah dan rakyat Indonesia,” kata Sammy.

Juan Carlos, Presiden Direktur PT Aquafarm Nusantara menambahkan, di Jateng, perusahaannya memiliki budidaya ikan tilapia di Wadas Lintang, Wonogiri, Kedung Ombo dan Wunut, Klaten serta pabrik pengolahan di Semarang.

Perusahaan penanaman modal asing dari Swiss dan dimiliki oleh Grup Regal Springs yang berbasis di Singapura, itu beroperasi di Sumatera Utara dan Jawa Tengah dengan karyawan sekitar 4.000, yang sebagian besar direkrut dari desa-desa di sekitar perusahaan.