Sabuk Nusantara Berikan Satu Solusi Aceh Sampai Papua

Sabuk Nusantara Berikan Satu Solusi Aceh Sampai Papua
Suhendra Hadikuntono bersama Wali Nanggroe Aceh, Tengku Malik Mahmud. ( Foto: istimewa )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Jumat, 22 November 2019 | 22:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sabuk Nusantara adalah gugusan pulau-pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, bak untaian zamrud khatulistiwa. Gugusan pulau yang penuh dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia ini harus diikat dalam satu ideologi, yaitu Pancasila dengan aura emas Bhinneka Tunggal Ika.

Konsep brilian untuk menyatukan Indonesia ini pertama kali dilontarkan oleh seorang tokoh nasional yang juga pengamat intelijen senior Suhendra Hadiekuntono. "Indonesia ini negara besar dengan posisi yang sangat strategis di percaturan geopolitik global. Untuk itu kita harus cermat mengelola bangsa dan negara dalam satu ikatan Sabuk Nusantara," ujar Suhendra dalam keterangannya, di Jakarta, Jumat (22/11/2019).

Untuk merealisasikan konsepsi Sabuk Nusantara ini, Suhendra tidak tanggung-tanggung. Dia melakukan langkah besar dengan memeluk erat rakyat Aceh dengan pendekatan personal kepada figur tertinggi di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam yaitu Wali Nanggroe Aceh Tengku Malik Mahmud Al-Haytar. 

"Saat ini Presiden Jokowi tidak mempunyai pemahaman yang utuh tentang Aceh sehingga masih banyak permasalahan di Aceh yang belum dituntaskan sebagaimana mestinya," papar Suhendra.

Menurut Suhendra, dalam kesempatan pertama apabila bertemu dengan Presiden Joko Widodo, beliau akan memberikan gambaran utuh tentang masalah Aceh beserta solusi yang harus dilakukan pemerintah pusat.

"Aceh adalah beranda dan simpul utama dalam konsep Sabuk Nusantara, jadi selayaknya mendapatkan perhatian dan keistimewaan penanganan oleh pemerintah pusat. Kalau Aceh dengan segala potensi SDM dan SDA- nya dapat diberdayakan dengan baik, maka saya yakin secara geopolitik global Indonesia akan aman dan kuat," jelas Suhendra.

Langkah besar Suhendra tidak berhenti di Aceh. Beliau langsung melakukan lompatan jauh ke wilayah paling timur Indonesia, yaitu Papua. Bukan pejabat negara atau aparat keamanan yang didekati, Suhendra langsung mendekati sumber api yang membara di Papua. Dia langsung bisa melakukan pendekatan personal yang akrab dengan pucuk pimpinan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) pimpinan Benny Wenda, yaitu Markus Yenu yang merupakan orang kepercayaan Benny Wenda di Papua.

"Ternyata selama ini Presiden Jokowi telah mendapatkan masukan yang kurang tepat tentang Papua, sehingga diagnosis masalah yang diberikan kepada rakyat Papua menjadi tidak tepat. Ibaratnya Presiden Jokowi sedang mengejar asap di Bumi Cendrawasih, bukan mendekati sumber apinya. Padahal saya tahu persis perhatian Presiden Jokowi terhadap Papua sangat besar," ujar Suhendra menjelaskan.

Suhendra meyakini konsep Sabuk Nusantara yang digagasnya dapat menjadi potensi bangsa ini untuk menapak maju menghadapi tantangan zaman.

Apa yang dilakukan Suhendara melalui Sabuk Nusantara diapresiasi pengamat Sosial Politik, Rudi S Kamri. "Suhendra melakukan langkah besar dengan memeluk erat rakyat Aceh dengan pendekatan personal kepada figur tertinggi di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam yaitu Wali Nanggroe Aceh Tengku Malik Mahmud Al-Haytar. Entah bagaimana kesan awal saya saat mendampingi beliau bertemu Wali Nanggroe Aceh, dua tokoh bangsa ini sudah mempunyai kedekatan personal dan emosional yang kuat dan erat," kata Rudi.

Menurutnya,  Suhendra mampu memberikan masukan yang bersifat solutif sekaligus meredakan gejolak yang mulai menghangat di Aceh sebagai akibat pengabaian yang dilakukan pemerintah pusat. Salah satu pemikiran cerdas Suhendra adalah mampu menarik sosok Wali Nanggroe Aceh dari tokok lokal menjadi tokoh bangsa (nasional) yang sangat peduli dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.



Sumber: BeritaSatu.com