Muhaimin: Hentikan Ekspor Limbah Plastik ke Indonesia

Muhaimin: Hentikan Ekspor Limbah Plastik ke Indonesia
Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar bersama Presiden Uni Eropa Ursula von der Leyen bersalaman pada acara European People's Party di Zagreb, Kroasia, Sabtu, 21 November 2019. ( Foto: Istimewa )
Yustinus Paat / AO Sabtu, 23 November 2019 | 08:35 WIB

Kroasia, Beritasatu.com - Kongres partai-partai politik anggota Parlemen Eropa (European People's Party) resmi ditutup Jumat (22/11/2019). Dalam pertemuan selama tiga hari di Zagreb, Kroasia, sejak 19 November itu, Indonesia diwakili oleh Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.

Dihadiri oleh lebih 40 negara dan partai, kongres ini secara khusus membahas isu Global Sustainable Development atau lingkungan hidup. Sebagai perwakilan dari Indonesia, Cak Imin yang juga Ketua Umum DPP PKB mengusung tiga agenda utama, yaitu meluruskan pandangan keliru tentang sawit Indonesia, emisi karbon, serta sampah plastik.

"Dalam sesi perbincangan dengan para ketua umum partai, terutama dari negara maju (Jerman, Prancis, Italia, dan Belanda) saya sampaikan permintaan agar jangan sampai ada lagi perusahaan di negara mereka yang mengekspor sampah plastik atau limbah B3 ke Indonesia," ujar Cak Imin dalam keterangannya kepada Beritasatu.com, Jumat (22/11/2019).

Cak Imin mengatakan bahwa bangsa Indonesia sudah menjadi penyumbang kedua terbesar dunia untuk sampah plastik di laut, sekitar 187 juta ton. Karena itu, kata dia, tidak boleh ditambah lagi sampah-sampah dari negara Eropa.

"Kasus ditemukannya 428 kontainer berisi sampah plastik di Pelabuhan Tanjung Priok beberapa waktu lalu membuktikan bahwa ekspor sampah plastik dan limbah B3 dari negara Eropa tetap jalan. Kontainer itu berasal dari Jerman, Inggris, Italia, Prancis, Belgia, Amerika, Australia, dan lain-lain. Jadi, ya, direekspor balik ke negara asalnya," kata Cak Imin.

Cak Imin pun mengajak negara-negara Eropa untuk saling menjaga satu sama lain. Negara Eropa, Asia, dan Amerika, kata dia semua mempunyai kontribusi dalam perusakan lingkungan.

"Teknologi pengolahan sampah plastik sebetulnya ada yang murah dan sederhana. Bisa dipakai orang desa untuk usaha. Saya minta kader PKB di Kementerian Desa untuk mendorong agar BUMDes masuk ke usaha pengolahan sampah plastik ini. Sepanjang ada off-taker-nya, bisnis ini menguntungkan. Jadi, komersialnya dapat, soal lingkungannya juga dapat. Dunia akhirat dapat semua," kata Cak Imin.



Sumber: Suara Pembaruan