Pemprov Jatim Ingin Sulap Sungai Brantas Jadi Destinasi Wisata

Pemprov Jatim Ingin Sulap Sungai Brantas Jadi Destinasi Wisata
Sungai Brantas ( Foto: istimewa )
Aries Sudiono / CAH Senin, 25 November 2019 | 07:39 WIB

 

Malang, Beritasatu.com - Sungai Brantas sebagai sungai terpanjang di Provinsi Jawa Timur (320 kilometer) memiliki sejumlah persoalan yang harus segera diselesaikan. Diantaranya, penurunan kualitas air sungai, alih fungsi daerah aliran sungai (DAS), menjadi tempat pembuangan limbah domestik utamanya popok beserta buar air besar sembarangan atau Open Defecation (OD) dan kerusakan lingkungan.

Karenanya, Pemprov Jatim kini menggandeng delapan perguruan tinggi di Jatim untuk menanggulanginya dan sekaligus menyulap menjadi destinasi-destinasi wisata baru Sungai Brantas.

“Masalah air bersih di Jatim menjadi nomor dua di Indonesia setelah DKI Jakarta. Saya berharap, kehadiran Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif Brantas Tuntas (KBT) dapat menjadi jawaban atas persoalan yang sudah menahun ini. Selain itu saya juga berharap lewat KKN ini muncul destinasi-destinasi wisata baru yang memanfaatkan seluruh potensi Sungai Brantas,” ujar Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam siaran persnya yang diterima SP, Minggu (24/11/2019).

Kedelapan perguruan tinggi yang dilibatkan untuk menangani mulai dari Kota Batu, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya itu adalah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Brawijaya (UB) Malang, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya, dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya.

Khofifah berharap pelibatan perguruan tinggi dalam upaya revitalisasi S Brantas itu dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat secara drastis di sepanjang daerah aliran sungai. Dengan revitalisasi ini terbangun kesadaran d tingkatan masyarakat bahwa Sungai Brantas sumber kehidupan bagi masyarakat Jatim.

“Kalau mereka sudah sadar, saya yakin mereka tidak akan lagi membuang sampah sembarangan ke sungai terutama plastik dan popok. Tidak ada lagi perilaku Open Defecation (buang air besar sembarangan) yang berkonrtibusi dalam penurunan kualitas air,” katanya.

Dengan kolaborasi antarperguruan tinggi ini merupakan bentuk kesadaran kalangan perguruan tinggi untuk turut bahu-membahu dengan pemerintah menyelesaikan persoalan Sungai Brantas. Khofifah berharap perguruan tinggi lain di Jatim juga bisa terlibat aktif sehingga memberikan kesadaran kepada warga masyarakat tentang tidak buang air sembarangan atau ODF (Open Defecation Free).

“Kolaborasi antarperguruan tinggi ini menjadi energi baru bagi Pemprov Jatim. Tambahan kekuatan ini saya yakin akan semakin mempercepat upaya penuntasan seluruh persoalan Sungai Brantas,” ujar Khofifah.

Revitalisasi Sungai Brantas menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jatim sekaligus melibatkan perguruan tinggi untuk ikut terjun menanganinya.



Sumber: Suara Pembaruan