Peringati Hari Guru, Pengamat Intelijen Ini Pilih Mengajar di Kelas

Peringati Hari Guru, Pengamat Intelijen Ini Pilih Mengajar di Kelas
Pengamat intelijen Suhendra Hadikuntono menggantikan peran guru mengajar di kelas VI B Sekolah Dasar Yasporbi, Pancoran, Jakarta Selatan. ( Foto: Istimewa )
Hendro D Situmorang / LES Senin, 25 November 2019 | 22:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sebagai wujud apresiasinya terhadap Hari Guru Nasional, Senin (25/11/2019), pengamat intelijen senior Suhendra Hadikuntono, yang diusung oleh tokoh-tokoh Aceh dan Papua sebagai calon kuat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), menggantikan peran guru mengajar di kelas. Yang ia ajar adalah murid-murid Kelas VI B Sekolah Dasar Yasporbi, Pancoran, Jakarta Selatan. Hadir dalam kesempatan itu Kepala Sekolah SD Yasporbi Intan Triharti SPd.

"Ini sebagai apresiasi saya kepada para guru yang sedang merayakan hari jadinya, sehingga kita gantikan peran mereka mengajar di kelas meskipun hanya 2 jam pelajaran," ucap Suhendra usai mengajarkan materi sejarah ke anak-anak dalam keterangannya.

Di hadapan anak-anak, Suhendra memantik ingatan mereka dengan gawai yang saat ini sedang mewabah dan menjangkiti anak-anak, yakni piranti telepon seluler atau hand phone. Ia bertanya siapa pencipta HP yang merupakan turunan dari pesawat telepon yang ditemukan Graham Bell.

Setelah itu, Suhendra mengingatkan agar anak-anak mempelajari sejarah bangsanya, karena bangsa yang akan maju adalah bangsa yang mengenal sejarah bangsanya sendiri.
Suhendra lalu bertanya, bila pada tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional, lalu tanggal 2 Mei diperingatisebagai hari apa? Anak-anak pun spontan menjawab Hari Pendidikan Nasional.

Pertanyaan kemudian dilanjutkan Suhendra, siapa Bapak Pendidikan Nasional, yang langsung dijawab siswa-siswi, Ki Hadjar Dewantoro."Bagus. Itulah sekelumit dari sejarah bangsa kita, khususnya dalam bidang pendidikan, yang harus kita ingat dan pelajari," pesan Suhendra.

Pak Guru dadakan itu tampaknya paham betul dengan komdisi pikologi anak, sehingga dalam penyampaian materi pembelajaran itu ia menyelipkan tebak-tebakan buat anak-anak, dan siapa yang berhasil menebak, ia berikan hadiah bola. "Bila Bapak Presiden Jokowi suka kasih hadiah sepeda, Pak Suhendra cukup bola saja," tutur Suhendra berkelakar.

Seusai mengajar, kepada para awak media online dan televisi yang menemuinya, Suhendra menjelaskan bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang identik dengan permainan dan senda gurau. Sebab itu, untuk menciptakan suasana belajar-mengajar yang menarik dan menyenangkan, perlu selingan permainan dan cerita jenaka. "Dengan begitu, saya yakin guru akan berhasil dalam mengajar," terangnya.

"Anak adalah masa depan, kita ini adalah masa lalu. Anak harus diajarkan bangga menjadi anak Indonesia. Itu bagian dari pendidikan karakter," tutup dia.



Sumber: Suara Pembaruan