Warga Buang Bangkai Babi ke Sungai, Harga Ikan Laut di Medan pun Anjlok

Warga Buang Bangkai Babi ke Sungai, Harga Ikan Laut di Medan pun Anjlok
Jajaran Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, selama November 2019, mengampanyekan makan ikan kepada masyarakat, pascamaraknya kasus pembungan bangkai babi di sungai-sungai di darah ini. ( Foto: Istimewa )
Arnold H Sianturi / JEM Selasa, 26 November 2019 | 15:06 WIB

Medan, Beritasatu.com - Pembuangan bangkai babi yang mati karena terjangkit virus hog cholera masih terus terus terjadi di wilayah Sumatera Utara (Sumut). Tidak hanya dibuang ke perairan sungai, bangkai babi itu juga dibuang oleh orang tidak bertanggung jawab di permukiman masyarakat. Teror bangkai babi ini juga telah berdampak pada menurunnya omset para penjua ikan di pasaran hingga sampai 80 - 90 persen.

"Masyarakat enggan membeli ikan karena adanya isu bahwa bangkai babi yang dibuang orang tidak beranggung jawab ke sungai terbawa sampai ke lautan dan dimakan ikan," ujar Ketua Komunitas Pedagang Ikan Kota Medan, Amnoni saat menggelar acara makan ikan gratis di Pajak Ikan Cemara Jalan Cemara Kecamatan Medan Timur, Senin (25/11/2019).

Amnoni mengungkapkan, pedagang ikan di Kota Medan menjerit karena ikan yang dijual meski dengan harga murah justru tetap enggan dibeli masyarakat. Kondisi ini membuat pedagang ikan mengalami kerugian yang sangat besar. Bahkan, tidak sedikit penjual ikan yang gulung tikar, mengalihkan profesinya ke usaha lain.

"Kita tidak berani mengambil ikan dalam jumlah besar dari kalangan nelayan. Itu beresiko sangat besar jika berani beli ikan dalam skala besar. Masyarakat seakan merasa jijik untuk mengkonsumsi ikan. Padahal, pemerintah sudah memberikan imbauan, bahkan mengajak masyarakat makan ikan laut," katanya.

Menurutnya, kampanye makan ikan secara gratis yang melibatkan seluruh penjual ikan di Kota Medan, supaya masyarakat tidak takut mengkonsumsi ikan. Kampanye itu mengajak masyarakat memakan ikan supaya hidup sehat. Masyarakat diminta tidak percaya atas isu bangkai babi yang menjadi konsumsi ikan di tengah lautan tersebut.

Pembuangan

Meski aparat gencar melakukan penangkapan, pembuangan bangkai babi ke sungai dan pemukiman masyarakat oleh orang tak dikenal, masih juga terjadi. Masyarakat masih menemukan bangkai babi dibuang di Jalan Kapten Sumarsono, Desa Helvetia Kecamatan Sunggal Medan.

Kepada Dusun II Desa Helvetia, Agus Sutikno menyampaikan, pembuangan bangkai babi oleh orang tidak beranggungjawab itu dilakukan, Senin siang. Saat kejadian, situasi di tengah pemukiman masyarakat itu dalam keadaan sepi. Sehingga, tidak ada warga yang mengaku melihat pelaku pembuangan bangkai babi tersebut.

"Masalah ini sudah kita sampaikan kepada aparat kepolisian dan koramil. Kita sudah melakukan koordinasi untuk mengungkap pelaku pembuangan bangkai babi itu. Pembuang bangkai babi itu sangat keterlaluan karena tidak memikirkan dampak kesehatan masyarakat. Jika tertangkap maka harus diproses secara hukum," tegasnya.

Menurutnya, pembuangan bangkai babi ke tengah pemukiman masyarakat sudah sering terjadi. Bahkan, polisi sudah beberapa kali melakukan penangkapan. Masyarakat menduga bahwa pelaku pembuangan bangkai babi itu merupakan orang suruhan dari distributor peternak babi. Oleh karena itu, aparat diminta mengambil tindakan.

"Padahal, kita masyarakat kampung ini sudah meningkatkan antisipasi dengan melakukan patroli pada malam hari sampai pagi hari. Masyarakat silih berganti melakukan pengawasan. Alhasil, pelaku justru membuang bangkai babi pada siang hari. Ini bisa memicu kemarahan masyarakat," sebutnya.

Sebelumnya, Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Medan berhasil meringkus pengemudi becak bermotor (Betor) saat akan membuang bangkai babi di Desa Helvetia, Kecamatan Sunggal, Sumatera Utara (Sumut), Minggu (17/11/2019) lalu.

Polisi juga menangkap pelaku pembuang bangkai babi lainnya. Namun, pembuangan bangkai babi yang menimbulkan keresahan masyarakat tersebut, sampai saat ini masih terjadi. Jumlah babi mati akibat hog cholera di Sumut, sudah lebih dari 10.000 ekor.

"Tersangka bernama Sinar Hari Bulolo (59) warga Jalan Turi, Kecamatan Medan Labuhan. Dia tertangkap basah membuang dua ekor bangkai babi. Betornya juga kita amankan sebagai barang bukti," ujar Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Eko Hartanto.

Eko mengatakan, penangkapan oleh pihaknya setelah turun melakukan penyelidikan dan pengintaian. Dimana, warga Helvetia kawasan Sunggal merasa resah karena beberapa hari sebelumnya, ada beberapa ekor bangkai babi dibuang di pemukiman masyarakat tersebut. "Berdasarkan keresahan masyarakat, kita menurunkan tim untuk melakukan pengintaian. Beberapa hari kemudian, Sinar Hari Bulolo tertangkap tangan saat membuang bangkai babi itu," katanya.

Dalam pemeriksaan, sambung Eko, Sinar Hari mengakui perbuatannya. Sinar mengaku mendapatkan upah sebesar Rp 500 ribu untuk membuang bangkai hewan berkaki empat tersebut.

"Kita masih melakukan pendalaman, apakah Sinar Hari sebagai pelaku pembuang bangkai babi di kawasan lainnya. Kita juga masih mengembangkan kasus ini, dan mencari orang yang menyuruhnya membuang bangkai babi itu," jelasnya.

Ditambahkan, bangkai babi itu dibawa Sinar Hari dari kawasan Jalan Kapten Sumarsono, Desa Helvetia, Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Namun, Sinar Hari mengaku tidak mengenal orang yang menyuruhnya tersebut.

"Orang bersangkutan kita jerat dengan UU No.32 Tahun 2009, tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup," pungkasnya. 



Sumber: Suara Pembaruan