330 Keluarga Mengungsi Akibat Banjir Bandang di Solok Selatan

330 Keluarga Mengungsi Akibat Banjir Bandang di Solok Selatan
Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, memaksa sedikitnya 330 kepala keluarga korban banjir mengungsi. ( Foto: Beritasatu TV )
Aichi Halik / AHL Selasa, 26 November 2019 | 18:58 WIB

Solok Selatan, Beritasatu.com - Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, memaksa sedikitnya 330 kepala keluarga korban banjir mengungsi. Banjir bandang terjadi pada Senin (25/11/2019) dini hari.

Ratusan warga mengungsi di sejumlah tempat pengungsian, salah satunya Balai Adat Nagari Pakan Rabaa, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD).

Pendistribusian bantuan untuk korban banjir bandang di dua jorong atau kampung, yakni Sapan Salak dan Jorong Manggih, Nagari Pakan Rabaa Utara, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, terhambat oleh material berupa lumpur, bebatuan, dan gelondongan kayu.

Akses jalan menuju dua kampung tersebut lumpuh total akibat badan jalan tertutup material longsor dan pohon tumbang. Satu unit alat berat yang dikerahkan masih bekerja membersihkan material longsor.

"Ada satu unit alat berat, sedang bekerja membuka akses jalan yang tertutup material longsor. Sampai saat ini, kita masih fokus terhadap penanganan warga yang menjadi korban, dan membersihkan jalur," kata Wakapolres Solok Selatan, Kompol Ediwarman, Selasa (26/11/2019).

Menurut Ediwarman, saat ini, tercatat ada lebih 300 jiwa diungsikan ke lokasi-lokasi yang lebih aman.

"Untuk tempat pengungsian sudah ada di Balai Adat Nagari. Ada 300 orang lebih yang berada di lokasi pengungsian saat ini. Besok, kita akan fokus pada evakuasi pohon yang menghambat jalan terlebih dahulu," kata Ediwarman.

Berdasarkan data sementara, sebanyak 25 unit rumah warga, sembilan di antaranya rusak berat akibat dihantam banjir bandang yang terjadi di dua jorong.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solok Selatan merilis, sebanyak 1.103 kepala keluarga dengan total 5.932 orang terdampak banjir yang disebabkan tingginya intensitas curah hujan dan luapan beberapa sungai di kabupaten yang terkenal dengan destinasi wisata Seribu Rumah Gadang itu.



Sumber: BeritaSatu TV