Mochtar Riady: Perubahan Teknologi Harus Disikapi dengan Cepat dan Tepat

Mochtar Riady: Perubahan Teknologi Harus Disikapi dengan Cepat dan Tepat
Pendiri Lippo Group, Mochtar Riady menyampaikan "keynote speech" di acara Indonesia Digital Conference yang diselenggarakan Asosiasi Media Siber indoensia (AMSI), di Jakarta, 28 November 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / JAS Kamis, 28 November 2019 | 13:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pendiri Lippo Group, Mochtar Riady menyampaikan, perubahan besar dalam era Revolusi Industri 4.0 harus disikapi dengan cepat dan tepat oleh pemerintah maupun dunia usaha. Setiap revolusi industri menurutnya akan membawa peluang atau kesempatan yang baik. Namun di sisi lain juga bisa membawa nasib buruk apabila pemerintah maupun dunia usaha tidak sensitif terhadap perkembangan teknologi.

Mochtar Riady memberi contoh apa yang dialami Tiongkok sekitar 200 tahun yang lalu, saat GDP negara tersebut mencapai lebih dari 30 persen dari GDP dunia. Namun ketika muncul revolusi Industri 1.0 dan 2.0, Tiongkok kurang peka untuk mengikuti perubahan besar tersebut, sehingga akhirnya menjadi negara yang “semi” terjajah.

“Sampai 40 tahun yang lalu, Tiongkok baru mulai pulih kembali dan sekarang ini telah menjadi negara terbesar kedua di dunia. Artinya perubahan teknologi memang akan selalu membawa harapan dan juga kebinasaan. Ibaratnya seperti air yang bisa mengambangkan kapal, tetapi juga bisa menenggelamkan kapal. Sehingga kita harus selalu menyesuaikan diri dengan segala perubahan,” kata Mochtar Riady, di acara "Indonesia Digital Conference" yang diselenggarakan Asosiasi Media Siber indoensia (AMSI), di Jakarta, Kamis (28/11/2029).

Saat ini juga bukan waktunya lagi untuk bicara tentang teknologi maupun digital. Yang lebih penting menurut Mochtar adalah bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut dalam berbagai proses bisnis agar lebih efektif dan efisien. Misalnya, Artificial Intelligence (AI) yang memiliki peran sangat penting bagi kemajuan suatu perusahaan dan juga negara.

“Jangan terus mikirin digital seolah-olah digital itu hebat. Digital itu bukan barang baru, sudah ada sejak tahun 1946, artinya sudah 74 tahun. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana kita memanfaatkan teknologinya, memanfaatkan AI untuk lebih efektif dan efisien,” kata Mochtar.

Mochtar juga mengingatkan untuk tidak minder apabila saat ini kita masih “kecil” dibandingkan yang lain. Beberapa tokoh sukses seperti Steve Jobs, Bill Gates, dan Jack Ma juga memulai usahanya dari kecil hingga akhirnya menjadi besar. Kuncinya menurut Mochtar adalah selalu sensitif dengan segala perubahan yang terjadi, utamanya perubahan teknologi.

“Di tahun 1995, kita sebetulnya lebih maju daripada Tiongkok. Tapi setelah 20 tahun, Tiongkok kini menjadi negara terkuat nomor dua di dunia. Artinya kita jangan pernah minder kalau Indonesia itu kecil, tidak ada apa-apanya. Justru dari kecil inilah kita akan bisa besar. Kita bandingkan dengan Tiongkok yang tahun 1995 tidak ada apa-apanya, tetapi sekarang ini jadi hebat. Kalau Tiongkok bisa, kenapa kita tidak?,” kata Mochtar.



Sumber: BeritaSatu.com