Komut PTPN VI Tidak Hadiri Pemeriksaan KPK

Komut PTPN VI Tidak Hadiri Pemeriksaan KPK
Ilustrasi KPK. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / YUD Selasa, 3 Desember 2019 | 08:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisaris Utama (Komut) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI Muhammad Syarkawi Rauf mangkir atau tidak hadir memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (2/12/2019). Mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) itu sedianya diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap terkait distribusi gula di PTPN III untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Direktur Pemasaran PTPN III‎ I Kadek Kertha Laksana.

"Syarkawi Rauf saksi IKL (I Kadek Laksana) terkait tindak pidana korupsi suap terkait distribusi gula di PTPN III tidak diperoleh informasi atas ketidakhadiran saksi," kata Plh Kabiro Humas KPK, Yuyuk Andriati Iskak, di Gedung KPK, Jakarta, Senin (2/12/2019) malam.

Nama Syarkawi Rauf sebelumnya muncul dalam surat dakwaan terhadap pengusaha gula yang juga pemilik PT Fajar Mulia Transindo, Pieko Nyotosetiadi. Syarkawi Rauf disebut turut menerima uang SGD 19.300 atau sekitar Rp 1,96 miliar dari Pieko.

Berdasar surat dakwaan Jaksa KPK, uang itu diduga diberikan kepada Syarkawi untuk membuat kajian agar menghindari kesan adanya praktik monopoli perdagangan gula kristal putih yang dilakukan Pieko Nyotosetiadi.

Selain Syarkawi, penyidik juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) X, H Mubin. Namun, seperti halnya Syarkawi Rauf, Mubin juga mangkir dari panggilan pemeriksaan. Sementara satu saksi lainnya, Sunardi Edi Sukamto selaku Ketua APTRI XI memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik.

Diketahui KPK menetapkan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) Dolly Pulungan, Direktur Pemasaran PTPN III I Kadek Kertha Laksana dan pengusaha gula yang juga bos PT Fajar Mulia Transindo Pieko Nyotosetiadi sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi gula di PTPN III tahun 2019. Penetapan ketiganya sebagai tersangka ini dilakukan KPK melalui gelar perkara setelah memeriksa intensif sejumlah pihak yang ditangkap dalam rangkaian operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta, Selasa (3/9).

Dolly melalui Kadek Kertha Laksana diduga menerima suap sebesar SGD 345 ribu dari Pieko. Suap ini diberikan terkait distribusi gula di PTPN III.

Pieko merupakan pemilik dari PT Fajar Mulia Transindo dan perusahaan lain yang bergerak di bidang distribusi gula. Pada awal tahun 2019 perusahaan Pieko ditunjuk menjadi pihak swasta dalam skema long term contract dengan PTPN III (Persero).
Dalam kontrak ini, pihak swasta mendapat kuota untuk mengimpor gula secara rutin setiap bulan selama kontrak berjalan.

Di PTPN III terdapat aturan internal mengenai harga gula bulanan yang disepakati oleh tiga komponen yaitu PTPN III, pengusaha gula, dan ASB selaku Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI). Dalam sebuah pertemuan, Dolly meminta uang pada Pieko terkait persoalan pribadinya untuk menyelesaikannya melalui ASB.

Dolly kemudian meminta Kadek Kertha Laksana untuk menemui Pieko untuk menindaklanjuti permintaan uang sebelumnya. Dalam pertemuan itu, Pieko memerintahkan orang kepercayaannya bernama Ramlin untuk mengambil uang di money changer dan menyerahkannya kepada Corry Luca, pegawai PT KPBN anak usaha PTPN III di Kantor PTPN, Jakarta, pada Senin (2/9). Selanjutnya Corry mengantarkan uang sebesar SGD 345 ribu kepada ke Kadek Kertha Laksana di Kantor KPBN. 



Sumber: Suara Pembaruan