Jelang Natal dan Tahun Baru, Komoditas Pangan Jateng Surplus

Jelang Natal dan Tahun Baru, Komoditas Pangan Jateng Surplus
Ilustrasi sembako dan kebutuhan bahan pangan. ( Foto: Antara/Aditya Pradana Putra )
Stefi Thenu / JEM Selasa, 3 Desember 2019 | 14:30 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Komoditas pangan di Jawa Tengah (Jateng) mengalami surplus. Karenanya, Jateng siap mensuplai jika ada permintaan daerah lain yang defisit pangan menjelang libur Natal dan Tahun Baru.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jateng, Agus Suryanto mengatakan, libur Natal dan Tahun baru ini tingkat konsumsi di Jawa Tengah diprediksi meningkat sebesar 5 persen. Hal tersebut tidak masalah, karena sejumlah komoditi pangan di Jawa Tengah mengalami surplus atau ketersediaan lebih besar dibanding tingkat konsumsi.

Beberapa komoditi yang mengalami surplus di antaranya beras, yang surplus sebanyak 3,6 juta ton. Untuk tingkat konsumsi beras di Jawa Tengah adalah 3,2 juta ton pertahun atau 94 kg perkapita. Padahal kemampuan produksi beras Jawa Tengah mencapai 6,9 juta ton.

Sementara untuk daging, Jawa Tengah dikenal sebagai penyangga kebutuhan daging Jabodetabek, dengan suplai 70 ribu ekor per tahun.

"Ketersediaan suplai daging di Jawa Tengah juga surplus. Karena dalam satu tahun kita memiliki sapi potong sebanyak 1,6 juta ekor, kambing ada 4 juta dan domba 2 juta ekor," kata Agus, Selasa (3/12/2019).

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang libur ini, Pemprov Jateng telah memperlebar kran distribusi ke seluruh daerah. Sementara untuk mengantisipasi kenaikan harga, bakal dilakukan operasi pasar.

"Kita ada 200 lembaga usaha pangan masyarakat ditambah 850 toko tani. Ini untuk mengatasi distribusi tersalur dan harga stabil. Sebagai contoh, jika harga beras di toko mencapai Rp 9.500, di toko tani harga beras hanya Rp 8.800," katanya.

Dengan kemampuan tersebut, Agus mengatakan Jawa Tengah siap untuk mensuplai daerah lain jika dalam menghadapi libur Nataru ini kekurangan pangan.

Namun dia juga telah mengantisipasi jika pihak-pihak yang ingin nakal. Karena biasanya dengan harga yang diharapkan stabil, kualitas justru turun karena dimanfaatkan pihak yang mencari keuntungan yang terlampau besar.

"Kecuali kedelai. Karena kedelai kita defisit sampai 200 ribu ton," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan