Menteri LHK Siti Nurbaya:

Pemerintah Terus Telusuri Isu Dioksin Telur Ayam di Sidoarjo

Pemerintah Terus Telusuri Isu Dioksin Telur Ayam di Sidoarjo
Focus Group Discussions (FGD) membahas isu produksi telur ayam di Desa Tropodo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mengandung dioksin. Diskusi dihadiri para ahli/akademisi, pejabat Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Unair, UI, BPPT, Polda Jatim, Pemda Jatim, Dirjen dan Direktur Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Gedung Kementerian LHK, Manggala Wanabhakti, Jakarta, Selasa, 3 November 2019. (Foto: Istimewa)
Jeis Montesori / JEM Rabu, 4 Desember 2019 | 07:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengungkapkan, Kementerian LHK telah mengambil sampel telur dan memulai focus group discussions (FGD) para ahli yang dipimpin Menteri LHK Siti Nurbaya tanggal 29 dan 30 November 2019.

Siti Nurbaya mengatakan studi mendalam kandungan dioksin dalam telur ayam di Desa Tropodo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, akan terus didalami. Hal ini dilakukan guna memperoleh kebenaran atas isu sebagai hasil kajian independen berbasis ilmu pengetahuan yang memenuhi standar dan kaidah-kaidah ilmiah.

"Ini penting, karena pemberitaan yang telah tersebar itu telah memberi pengaruh kepada masyarakat sehingga kami memandang perlu untuk mendalaminya“ kata Menteri Siti, di Jakarta, Selasa (03/12/2019).

Selain itu, menurut Siti, penelitian dan kajian studi ini juga dilakukan untuk pemulihan lingkungan akibat rantai pasok bahan baku impor kertas yang mengandung sampah dan limbah dari Amerika, Australia, Jerman dan lain-lain.

"Studi ini juga akan mencakup aspek sosial-ekonomi (sosek) di Desa Bangun, Kabupaten Mojokerto dan Desa Tropodo, Kabupaten Sidoarjo," tambah Siti.

Dijelaskan, sejumlah indikasi dan gambaran awal tentang situasi dan kondisi lapangan sudah dapat terlihat dan perlu dikritisi terkait penelitian yang dilakukan dan diekspose secara luas termasuk oleh Surat Kabar New York Times.

"Seperti misalnya mengenai jumlah sampel yang tidak merepresentasikan kondisi secara utuh, protokol sampling dan uji laboratorium. Demikian pula dalam kaitan sifat dan karakteristik hewan ujinya, seperti ayam. Hal-hal seperti ini antara lain yang harus didalami dan perlu dikonfirmasi dengan data dan evaluasi hasil sampling serta uji laboratorium," kata Siti.

KLHK, lanjut Menteri Siti, juga meminta bantuan para ahli untuk melakukan riset di dua desa tersebut, khususnya untuk isu dioxin yang meresahkan masyarakat.

Pekan lalu, kata Siti Nurbaya, tim KLHK beserta para peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sidoarjo juga turun langsung ke Desa Bangun, Mojokerto dan Desa Tropodo, Sidoarjo.

Sementara itu, sebagai langkah lanjutan, akhir minggu lalu juga dilakukan  FGD langsung dipimpin Menteri LHK dan dihadiri para ahli serta pakar-pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Universitas Airlangga (Unair), BPPT, dan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Kepolisian Daerah Jawa Timur.

Diskusi  juga dihadiri oleh unsur-unsur Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Mojokerto, serta pemangku kepentingan terkait lainnya.

"Dalam diskusi dibahas secara mendalam persoalan-persoalan yang berkaitan dengan dioksin serta persoalan-persoalan sosial ekonomi yang ada di tengah masyarakat," ungkap Siti.

Langkah-langkah kongkret telah disiapkan dan penelitian lapangan telah diawali untuk studi kimia dioxine dan lingkungan yang dipimpin oleh Dr Setyo Gunawan dari ITS serta segera diturunkan tim studi sosek dalam rangka pemulihan yang dipimpin oleh Dr. Setyo Moersidik dari UI.

Pakar kehewanan dari Universitas Airlangga Prof Lazuardi menjelaskan, ayam merupakan hewan sensitif sehingga secara teori ayam akan mati terlebih dahulu sebelum racun masuk ke dalam telur.

"Kalau kita lihat jenis hewan yang dipakai sebagai uji yaitu ayam, sebenarnya ayam itu adalah hewan yang sensitif, dan bisa-bisa ayamnya mati duluan secara teori sebelum racunnya masuk ke telur, meskipun bisa saja ada teori akumulasi. Inilah yang juga akan didalami secara ilmiah” ujar  Lazuardi.



Sumber: Suara Pembaruan