Kebijakan Pendidikan Tambal Sulam, Kemampuan Siswa Melorot
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Kebijakan Pendidikan Tambal Sulam, Kemampuan Siswa Melorot

Rabu, 4 Desember 2019 | 13:42 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / EAS

Jakarta, Beritasatu.com - Hasil survei Program International Student Assessment (PISA) 2018 yang diumumkan kemarin, Selasa (3/12), menempatkan Indonesia di posisi ke-72 dari 77 negara yang disurvei oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD). Kemampuan siswa di Indonesia dalam tiga tahun terakhir justru melorot, karena dalam PISA 2015 Indonesia berada di posisi 62 dari 72 negara. Penyebabnya, ternyata selama ini Indonesia tidak memiliki cetak biru pendidikan sehingga segala kebijakan terkesan tambal sulam, hanya untuk menghabiskan anggaran dan mengabaikan mutu pendidikan.

Pengamat pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan, sudah saatnya legislatif berani melakukan evaluasi terhadap Undang-Undang Sistem Pendidkan Nasional (Sisdiknas). Pasalnya, kondisi pendidikan Indonesia saat ini tergolong parah. Padahal anggaran pendidikan mengalami peningkatan hingga Rp 500 triliun per tahun.

"Ini perlu dievaluasi, legislatif harus berani membuat UU Sisdiknas baru untuk masuk program legislasi nasional (prolegnas),” kata Direktur Eksekutif Center of Education Regulations and Development Analysis (Cerdas) ini saat ditemui di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Indra menuturkan, seharusnya dengan anggaran pendidikan yang mencapai ribuan triliun, pemerintah selalu melakukan evaluasi pendidikan, mulai dari perekrutan guru, pelatihan guru, hingga manfaat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Menurut Indra, dengan melihat hasil PISA yang menempatkan Indonesia pada posisi enam terendah dari 77 negara, revitalisasi pendidikan tidak tepat.

Indra juga mengatakan, dalam melakukan evaluasi pendidikan, pemerintah perlu membuat blue print atau cetak biru pendidikan sehingga ada target yang harus dicapai.

Secara terpisah, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim mengatakan, hasil PISA itu penting karena penilaian tersebut dapat mengukur sejauh mana siswa pada akhir pendidikan dapat menerapkan apa yang dipelajarinya dalam kehidupan. Selain itu, hasil PISA itu juga memungkinkan pihak terkait untuk mengidentifikasi keberhasilan dalam bidang pendidikan dan pelajaran lainnya. Dengan demikian, hasil PISA dapat digunakan untuk intervensi pendidikan.

Menurut Ramli, Indonesia harus belajar dari Singapura. Pasalnya dalam survei PISA 2015, Singapura menempati posisi teratas. Kemudian dalam PISA 2018, Singapura berada pada posisi kedua.

"Kunci utama keberhasilan Singapura terletak pada sistem pendidikan yang meritokrasi atau berbasiskan pada keahlian atau prestasi, kurikulum, anggaran pendidikan, kualitas guru, dan desentralisasi pendidikan,” ujar Ramli melalui siaran persnya diterima SP, Rabu (4/12/2019).

Ramli menuturkan, sistem pendidikan yang meritokrasi tersebut dapat mengidentifikasi anak dan bisa memberikan kesempatan kepada anak berdasarkan bakat yang dimilikinya. Dengan sistem itu, anak dari keluarga kurang mampu pun bisa menjadi apapun yang diinginkannya asalkan ia memiliki kemampuan.

Ramli menyebutkan, Singapura menerapkan kurikulum berbeda untuk berbagai jenjang. Tingkat sekolah dasar (SD) hanya memastikan siswa menguasai bahasa Inggris, bahasa ibu, dan matematika. Bahasa ibu yang dimaksud di Singapura terdiri dari tiga bahasa yakni Melayu, Mandarin, dan Tamil. Setiap siswa harus menguasai bahasa ibunya.

"Di kelas satu, anak dikenalkan dengan huruf dan angka, bukan memaksa mereka berhitung atau bisa membaca. Kemudian untuk tingkat sekolah menengah, terdiri dari penguasaan bahasa ibu, matematika, sains, sastra, sejarah, geografi, seni, kerajinan tangan dan desain, teknologi, dan ekonomi. Selain itu, Singapura juga menggelontorkan dana 20% dari APBN untuk pendidikan,” paparnya.

Sementara untuk guru, Ramli menuturkan, Singapura memilih orang-orang terbaik yang diberikan beasiswa untuk menjadi guru. Setelah menjadi guru pun, mereka harus mengikuti pengembangan karier 100 jam setiap tahunnya. Guru mendapatkan kesempatan meraih beasiswa di dalam dan luar negeri. Sedangan kepala sekolah juga diberikan kewenangan untuk mengelola sekolah, asalkan mengacu pada aturan yang diterapkan pemerintah. Melalui desentralisasi tersebut, sekolah dapat menyesuaikan dan berinovasi.

Untuk itu, Ramli menuturkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, harus belajar dari berbagai kegagalan ini. Jika ingin mengubah Indonesia dalam waktu cepat, Nadiem mau tidak mau harus membuat revolusi dalam bidang pendidikan.

Merespons hasil PISA tersebut, Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan, penilaian yang dilakukan PISA merupakan masukan berharga untuk mengevaluasi dan membenahi sistem pendidikan di Indonesia. Nadiem menuturkan, Kemdikbud akan melakukan inovasi dan terobosan yang diperlukan untuk mempercepat proses dan melakukan lompatan di bidang pendidikan. Salah satu yang sedang dikaji Kemdikbud adalah pembenahan sistem asesmen.

Menurut Nadiem, asesmen perlu dibuat agar fokus pada kompetensi mendasar yang berguna secara luas. Hasil asesmen juga akan dilaporkan dalam bentuk yang bermanfaat bagi perbaikan praktik pengajaran di kelas maupun perumusan kebijakan pendidikan.

Selanjutnya, Nadiem menuturkan, peningkatan kualitas pembelajaran menjadi hal yang utama. Kemdikbud akan fokus pada pelibatan guru dan orang tua. Nadiem juga menambahkan, ada beberapa hal yang menarik dari laporan PISA 2018 ini, salah satunya terkait dengan akses yang menunjukkan Indonesia memiliki kemajuan karena dalam satu dekade terakhir, fokus pemerintah adalah untuk meningkatkan akses terhadap pendidikan dan telah membuahkan hasil. Hal ini terlihat dari peningkatan persentase penduduk yang bersekolah. Pada 2000, hanya 39% penduduk usia 15 tahun yang bersekolah pada jenjang SMP atau SMA, sementara pada 2018, angka tersebut meningkat menjadi 85%.

400 Sekolah
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kabalitbang Kemdikbud), Totok Suprayitno menuturkan, hasil PISA yang dirilis OECD dengan mengambil sampel dari 12.098 peserta didik pada 399 sekolah ini mewakili mutu pendidikan Indonesia saat ini.

"Kemdikbud sudah mengecek apakah sampel 399 sekolah itu representasi populasi. Itu memang representasi tetapi tidak bisa dipecahkan rata- rata per provinsi, karena kurang sampelnya,” kata Totok saat ditemui SP seusai konferensi pers Hasil PISA 2018 di Gedung Kemdikbud Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Untuk sampel PISA 2019 ini, OECD memilih 400 sekolah yang tersebar di seluruh provinsi. Sayangnya, ada satu sekolah yang terdata tetapi tidak memiliki kegiatan belajar mengajar (KBM) lagi sehingga sampel dari Indonesia hanya 399 sekolah.
Ketika ditanya, data sekolah tersebut, Totok memastikan tersebar di seluruh provinsi. Pihaknya mengetahui setelah melakukan pengecekan kembali sampel sekolah dan siswa. Akan tetapi, OECD tidak memperkenankan pemerintah dan pihak mana pun untuk menyebarkan identitas sekolah maupun siswa kepada publik.



Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Pembumian Pancasila Langkah Efektif Memitigasi Risiko Bernegara

Pembumian nilai-nilai Pancasila untuk melatih masyarakat mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara.

NASIONAL | 4 Desember 2019

Kargo Ilegal, Erick Thohir Ancam Copot Direksi Garuda

Menteri BUMN akan menindak tegas Direksi Garuda Indonesia jika terbukti terlibat penyelundupan onderdil sepeda motor Harley Davidson.

NASIONAL | 4 Desember 2019

Mendikbud: Semua Harus Siap untuk Perubahan

Pendidikan Indonesia harus semakin baik dan berdampak positif.

NASIONAL | 4 Desember 2019

Penyelundupan Onderdil Harley, Menhub: Tanya Bea Cukai

Menteri Perhubungan menyatakan bahwa penyelundupan onderdil motor Harley Davidson menggunakan pesawat Garuda ditangani oleh Bea Cukai.

NASIONAL | 4 Desember 2019

Manfaatkan Bulan Terakhir Keringanan Pajak di DKI Jakarta

Pelayanan Samsat Keliling diberikan untuk memudahkan masyarakat agar taat hukum.

NASIONAL | 4 Desember 2019

Ari Kuncoro Resmi Dilantik Sebagai Rektor UI

Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (UI) Saleh Husin melantik Rektor UI periode 2019 – 2024 Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D, Rabu (4/12/2019).

NASIONAL | 4 Desember 2019

Jelang Natal-Tahun Baru, Polisi Gelar Operasi Lilin

Operasi Lilin difokuskan untuk pengamanan arus mudik dan tempat ibadah.

NASIONAL | 4 Desember 2019

Sidang Gugatan Kasus Lama Novel Baswedan Digelar

Penggugat menuntut ganti rugi imateriel sebesar Rp 1 juta.

NASIONAL | 4 Desember 2019

Korupsi Aparat Penegak Hukum Persoalan Serius

Persoalan korupsi yang melibatkan penegak hukum dan politisi seharusnya seharusnya menjadi perhatian serius semua kalangan.

NASIONAL | 4 Desember 2019

IPB Terima Penghargaan Kampus Ramah Lingkungan

Di tahun ini, terdapat sebanyak 780 universitas dari 85 negara di seluruh dunia dan 72 perguruan tinggi di Indonesia yang ikut dalam UI Green Metric 2019.

NASIONAL | 4 Desember 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS