Begitu Dapat Izin DPP PDIP, Junimart Laporkan Rocky Gerung ke Polisi

Begitu Dapat Izin DPP PDIP, Junimart Laporkan Rocky Gerung ke Polisi
Junimart Girsang ( Foto: Beritasatu.com )
Markus Junianto Sihaloho / JAS Rabu, 4 Desember 2019 | 19:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota DPR asal PDI Perjuangan (PDIP) Junimart Girsang berencana mengajukan laporan ke Kepolisian terhadap Rocky Gerung (RG) atas dugaan penghinaan simbol-simbol negara. Eksekusi pelaporan itu hanya menunggu izin dan perintah akhir dari DPP PDIP.

Pelaporan itu bermula ketika keduanya menjadi narasumber dalam salah satu acara talkshow politik di stasiun televisi swasta nasional. Di acara itu, dengan gayanya seperti biasa, Rocky menuding bahwa tak ada yang memahami Pancasila termasuk Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal itupun mengundang protes langsung dari Junimart. Di jagat media sosial, muncul tagar RockyGerungMenghinaPresiden.

Ketika ditanya Beritasatu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/12/2019), Junimart mengaku dirinya sangat kecewa dengan sikap dan pernyataan dari Rocky Gerung (RG). Baginya, yang bersangkutan betul-betul secara sengaja sudah menghina simbol-simbol negara. Yakni Presiden RI dalam hal ini Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Bahwa dia mengatakan presiden tidak mengerti tentang Pancasila. Oleh karena itu saya menyampaikan dalam forum yang sama saya akan mengajukan laporan ke kepolisian," kata Junimart.

"Anda cuma gertak sambal saja?" tanya Beritasatu.

Junimart langsung membantah. Dirinya mengaku sudah berkomunikasi dengan DPP PDIP, partai tempat dirinya bernaung.

"Tinggal DPP memutuskan apakah memang harus kita proses atau bagaimana. Tetapi saya memberikan masukan bahwa RG ini harus diberikan suatu pelajaran dalam etika. Bagaimana mungkin RG yang dosen itu bisa mendidik mahasiswa bila sikap dan perilakunya tak mendukung?" kata Junimart.

Dan menurut Junimart, RG melakukannya secara sengaja. Sebab dirinya sudah membuka peluang kepada RG melakukan klarifikasi. Tapi Rocky malah tak mau.

"Bagi saya ini penghinaan kepada kepala negara dan simbol-simbol negara. Ingat bukan simbol ya. Kalau simbol kan nanti dibilang bendera, lagu kebangsaan, bahasa, Pancasila. Kalau saya bilang simbol-simbol. Kalau presiden ke luar negeri, orang tahunya beliau itu Indonesia. Jadi simbol negara. Itu harus dipahami," ungkapnya.



Sumber: Suara Pembaruan