Mensos: Aktualisasi Kearifan Lokal Cermin Ideologi Pancasila

Mensos: Aktualisasi Kearifan Lokal Cermin Ideologi Pancasila
Menteri Sosial Juliari P Batubara (tengah) didampingi Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat (kanan) dan Dirjen Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial Andi ZA Dulung (kiri) memukul kendang saat membuka Sarasehan Nasional Kearifan Lokal 2019 di Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 4 Desember 2019. ( Foto: Istimewa )
Rully Satriadi / RSAT Kamis, 5 Desember 2019 | 10:53 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Menteri Sosial Juliari Batubara menegaskan bahwa nilai-nilai kearifan lokal adalah budaya yang harus dijaga, dihormati dan dihargai. Kearifan lokal (riflok) sebagai bagian dari adat istiadat lokal yang berasal dari beragam suku bangsa mencerminkan Indonesia adalah negara yang multi etnis, agama, ras, dan golongan.

“Kebhinekaan merupakan realitas bangsa Indonesia yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya,” ujar Mensos Juliari ketika membuka “Sarasehan Nasional Kearifan Lokal Tahun 2019” dan “Rekonsiliasi Nasional Penyaluran Bantuan Sosial Non Tunai Program Keluarga Harapan (PKH) di Surabaya, Rabu (4/12/2019).

Juliari mengatakan nilai-nilai riflok tidak hanya sekadar diucapkan dari mulut tetapi harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. “Contoh dalam diri saya ada keturunan Batak dan Jawa, sejak lahir saya sudah disebut ‘pejabat’ peranakan Jawa Batak, dan saya menikah dengan wanita keturunan dari suku lain” ujar Ari panggilan akrab Juliari.

Disebutkan aktualisasi dan implementasi nilai-nilai riflok secara nyata di tengah-tengah kehidupan masyarakat menjadi sangat penting, mengingat riflok mampu menyatukan keanekaragaman budaya, tradisi, dan adat-istiadat dalam ikatan kebersamaan yang saling menghormati dan menghargai.

Aktualisasi riflok dalam kehidupan sehari-hari merupakan cermin ideologi Pancasila. Pancasila merupakan cara terbaik untuk kembali menguatkan jati diri bangsa dari gangguan dan ancaman ideologi asing. Hal tersebut sesuai dengan arahan Presiden, Jokowi Widodo.

“Presiden selalu mengingatkan ideologi kita pegang teguh dalam setiap kebijakan dan perilaku kita. Ideologi adalah perekat bangsa ini, supaya bangsa ini tidak menjadi pecundang” tegas Mensos.

Pemerintahan Joko Widodo adalah pemerintahan yang menjunjung tinggi keberagaman dan terus mendorong agar nilai-nilai riflok tetap lestari dan diwariskan ke anak cucu. Upaya ini dilakukan untuk mencetak anak-anak kita menjadi generasi yang unggul.

Pemerintah tidak bisa melakukannya sendiri tanpa dukungan masyarakat. Oleh karena itu dalam arahannya, Mensos mengajak para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, dan tokoh perempuan agar memperkuat persatuan dan kesatuan di daerahnya masing-masing.

“Kalau ada yang mencurigakan segera cari sumbernya, ada gerakan-gerakan yang tidak lazim segera didiskusikan ada apa ini sehingga daerah yang berpotensi konflik dapat dicegah” ujar Ari.

Tantangan
Seiring dengan pergeseran budaya menuju arah modernisasi, semakin banyak tantangan perbedaan kemajemukan yang dihadapi bangsa ini khususnya generasi muda. “Generasi muda kita yang jumlahnya 129 juta jiwa yang kelak akan mewariskan negara ini sekarang mengalami sedikit degradasi” ujar Ari.

Pengaruh teknologi dan informasi saat ini masif sekali. Media sosial dan aplikasi-aplikasi message dengan bebasnya masuk dan mempengaruhi generasi muda kita. Ari mengatakan jika saat ini orang sangat mudah terpengaruh oleh berita-berita yang belum tentu kebenarannya. “Kita memasuki post-truth era” tutur Mensos.

Post-truth adalah gejala yang hadir bersama hoaks, dikaburkannya publik dari fakta-fakta objektif. Opini publik dapat dibentuk via hoaks sehingga anak-anak muda sekarang mudah sekali terpengaruh oleh informasi-informasi di media sosial yang kelihatannya benar, padahal tidak. Oleh karena itu Mensos sangat menghimbau agar kita berhati-hati terhadap perkembangan generasi muda sekarang. “Mau ke arah lebih baik atau begini-begini saja atau bahkan mundur” tanya Ari.

Jika ingin ke arah Indonesia yang lebih baik ke depan Mensos menyerukan agar kita memulainya dari diri sendiri “Ayo mulai dari diri sendiri, saya orang Indonesia suku Jawa, saya orang Indonesia suku Batak, saya orang Indonesia suku Bugis, saya orang Indonesia suku Asmat, saya orang Indonesia suku Ambon, saya orang Indonesia suku Sunda, tapi orangnya orang Indonesia bukan saya orang Batak titik. Saya orang Indonesia suku Jawa.

Tidak ada negara seperti Indonesia, negara yang kaya akan beragam suku bangsa, adat istiadat sehingga penting dan menjadi tugas kita semua melestarikan budaya dan memelihara persatuan kesatuan bangsa.

Kegiatan sarasehan riflok yang saat ini masih berlangsung, menurut Mensos sangat penting di tengah kehidupan bernegara yang terus mendapat tantangan. Di beberapa daerah kita tahu bersama akhir-akhir ini banyak terjadi konflik sosial yang sebenarnya bisa dihindari apabila kita menghargai dan menerima perbedaan yang ada.

Ribuan tahun yang lalu bahkan sampai dengan hari ini, bangsa Indonesia telah hidup bersama bergandengan tangan, para pejuang nenek moyang kita telah berjuang membela negara ini. Oleh karena itu tidak ada kata lain selain kita menjaga perdamaian, persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui aktualisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai cermin ideologi Pancasila.



Sumber: Suara Pembaruan