Kasus Mafia Migas, KPK Periksa 4 Mantan Petinggi Pertamina

Kasus Mafia Migas, KPK Periksa 4 Mantan Petinggi Pertamina
Ilustrasi (Foto: BSMH)
Fana Suparman / WBP Kamis, 5 Desember 2019 | 11:06 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim penyidik Ko‎misi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengusut kasus dugaan suap perdagangan minyak mentah dan produk kilang di PT Pertamina Energy Services (PES)‎ yang menjerat mantan Managing Director PES dan mantan Direktur Utama Pertamina Energy Trading Ltd (Petral), Bambang Irianto. Dalam mengusut kasus ini, tim penyidik getol memeriksa para pejabat dan mantan pejabat di perusahaan pelat merah itu.

Pada Kamis (5/12/2019), tim penyidik menjadwalkan memeriksa empat mantan petinggi PT Pertamina yakni, mantan Head of Finance PES, Simson Panjaitan; mantan Senior Risk Management and Internal Control PES, Rudi Donardi; mantan Chief of Controller PES, Nailul Achmar; serta mantan Chief of Operation and Shipping PES, Mohamad Iskandar Mirza. Pemeriksaan terhadap keempat saksi ini dilakukan tim penyidik untuk melengkapi berkas penyidikan Bambang Irianto. "Mereka diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi untuk tersangka BI," kata Jubir KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi.

Belum diketahui apa yang akan digali penyidik KPK terhadap empat petinggi PT Pertamina tersebut. Namun, KPK sedang mendalami kontruksi perkara mafia migas ini, termasuk proses perdagangan minyak mentah dan produksi kilang yang dilakukan Petral selama periode Bambang Irianto menjabat di anak perusahaan Pertamina tersebut.

Dalam kasus ini, Bambang diduga menerima suap sekitar US$ 2,9 juta dari Kernel Oil yang berkedudukan di Singapura selama periode 2010-2013 karena telah membantu Kernel Oil berdagang produk kilang dan minyak mentah dengan PES atau Pertamina di Singapura dan pengiriman kargo. Uang suap itu diduga ditampung Bambang di Siam Group Holding Ltd, perusahaan cangkang yang didirikannya di negara surga pajak, British Virgin Island.

Dalam melancarkan aksinya, Bambang bersama-sama petinggi PES lainnya diduga menggunakan perusahaan minyak nasional Uni Emirates Arab, Emirates National Oil Company (ENOC) sebagai kamuflase untuk memuluskan perdagangan minyak mentah antara PES dengan Kernel Oil. Nama ENOC disalahgunakan Bambang lantaran adanya persyaratan perdagangan minyak mentah dan BBM yang dilakukan Pertamina dan anak usahanya mengutamakan pembelian langsung ke sumber-sumber utama dengan urutan prioritas National Oil Company (NOC), refiner/producer, dan potential seller/buyer.



Sumber: Suara Pembaruan