FRI: Temukan Minat dan Bakat Anak Sejak SD

FRI: Temukan Minat dan Bakat Anak Sejak SD
Ilustrasi ( Foto: istimewa )
Maria Fatima Bona / EAS Kamis, 5 Desember 2019 | 12:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, perguruan tinggi harus memerdekakan mahasiswa. Dalam hal ini, kampus tidak membatasi mahasiswa untuk menemukan bakat dan minat. Saat ini, banyak lulusan universitas bekerja di bidang yang tidak berkorelasi dengan program studi (prodi) saat kuliah.

Merespons hal tersebut, anggota Dewan Kehormatan Forum Rektor Indonesia (FRI), Asep Saefuddin mengatakan, jika minat dan bakat baru ditemukan saat anak sudah di perguruan tinggi, itu artinya sangat terlambat. Seharusnya minat dan bakat anak sudah diketahui sejak berada di sekolah dasar dan diperkuat pada tingkat sekolah menengah pertama (SMP) serta sekolah menengah atas/kejuruan (SMA/SMK). Dengan begitu, saat anak berada di perguruan tinggi, ia telah masuk dalam tahap pengembangan dan penajaman kreativitas dan inovasi.

Asep menuturkan yang terjadi saat ini adalah konsep pendidikan yang tidak jelas arahnya. Pasalnya, orientasi sekolah tidak menjadikan anak didik lebih berbudaya, kreatif, cerdas, teratur, dan disiplin.

"Saya melihat konsep pendidikan kita tidak jelasnya arahnya sehingga sering terjadi kenakalan remaja atau putus sekolah, lalu mereka jadi tenaga kerja kasar. Lihat saja data tenaga kerja saat ini yang umumnya keluaran SMP bahkan SD. Ini membuat kita tidak kompetitif menghadapi persaingan antar negara,” kata Asep kepada Beritasatu.com, Kamis (5/12/2019) pagi.

Untuk itu, Asep berharap, Mendikbud dapat membenahi sistem pendidikan nasional sejak SD agar anak mampu memilih minat dan bakatnya yang sesuai dengan kebutuhan industri. Pasalnya, saat masuk ke jenjang perguruan tinggi, ia akan mengarah pada pembelajaran terbuka. Oleh karena itu, Asep mengharapkan dosen harus terbuka dengan kemajuan zaman. Dalam hal ini, dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar yang membuat kelas sering berjalan satu arah.

"Dosen itu harus bisa menstimulasi mahasiswa untuk selalu mencari sumber ilmu dari berbagai informasi. Bisa dari lapangan, dari media sosial, maupun dari kampus-kampus dunia yang membuka mata kuliahnya secara bebas,” ujarnya.

Asep juga menuturkan, dosen harus mengajak mahasiswa berdiskusi tentang sesuatu yang menjadi tema. Sebab, dengan kecepatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang luar biasa, dosen harus berusaha belajar lagi, banyak membaca, melakukan riset, dan menulis.

"Dengan begitu dosen tidak ketinggalan dengan perkembangan iptek di luar. Dari situ, dosen dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa. Mahasiswa pun selalu semangat belajar dan mencari yang terbaru, bukan sekedar menghafal masa lalu,” ujar Asep Saefuddin yang juga menjadi rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) ini.

Prioritas
Sebelumnya, Mendikbud Nadiem saat menghadiri pelantikan Rektor UI, Prof Ari Kuncoro, berbicara tentang prioritas utama Presiden Joko Widodo yaitu mengenai sumber daya manusia (SDM) unggul.

"Kalau kita menganalisis apa dampak terbesar yang perguruan tinggi bisa lakukan untuk meningkatkan SDM unggul, itu adalah mencetak pemimpin-pemimpin masa depan kita yaitu mahasiswa,” kata Nadiem.

Selain itu, ia menyampaikan tentang kemerdekaan belajar dan guru penggerak. Kemerdekaan belajar, kata Mendikbud, berarti kemerdekaan di setiap jenjang pendidikan di mana pemerintah akan memilih untuk memberikan kepercayaan kepada institusi-institusi pendidikan, kebebasan, dan otonomi.

“Lembaga perguruan tinggi merdeka dari berbagai macam regulasi dan birokrasi. Lalu ke bawah lagi, para pendidik dan dosen juga dimerdekakan dari birokrasi ke lembagaan di perguruan tinggi dan yang terpenting mahasiswa diberikan kemerdekaan untuk belajar sesuai kepentingannya dan sesuai keminatannya,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, guru besar UI bidang Komunikasi, Ibnu Hamad mengatakan, Mendikbud telah memberikan kesadaran bahwa tenaga pendidik, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi harus siap berubah.

"Perubahan ini implikasinya adalah perubahan pada cara mengajar yang berorientasi kepada kepentingan lulusan,” ungkapnya.



Sumber: Suara Pembaruan