Kunjungi Wamena, Wakil Menteri PUPR Pastikan Rekonstruksi Pascakerusuhan Berjalan Lancar

Kunjungi Wamena, Wakil Menteri PUPR Pastikan Rekonstruksi Pascakerusuhan Berjalan Lancar
Wakil Menteri Pekerkaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Jhon Wempi Wetipo, mengunjungi Pasar Wouma di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Kamis, 5 Desember 2019. (Foto: Istimewa)
Robert Isidorus / JEM Kamis, 5 Desember 2019 | 16:16 WIB

Wamena, Beritasatu.com - Wakil Menteri (Wamen) Pekerkaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Jhon Wempi Wetipo mengunjungi Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Kamis (5/12/2019).

Dalam kunjungan tersebut, Wetipo meninjau Pasar Wouma di Kota Wamena, yang sudah direkontruksi yang hancur dibakar massa saat terjadi kerusuhan massa  pada 23 September 2019.

Wamen PUPR juga meninjau Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Yapis, Wamena, dan melakukan pertemuan dengan pengusaha lokal.

Ia memastikan proses rekontruksi 403 unit ruko akan segera berjalan dengan pelaksanaannya dilakukan oleh pengusaha lokal yang dikoordinasikan oleh Gapensi Jayawijaya.

"Sesuai dengan arahan Pak Presiden dan Pak Menteri (PUPR), kita harapkan keterlibatan pengusaha putra daerah itu agar mereka dapat manfaat dari apa yang dikerjakan PUPR," ujar Wetipo.

Menurut Wetipo, skema pengerjaan tersebut telah disepakati dalam pertemuan tersebut dan segera dilaporkan kepada Menteri PUPR.

Wetipo memandang skema yang disepakati teraebut merupakan solusi agar proses rekontruksi cepat dilakukan karena Presiden telah menargetkan pengerjaannya rampung pada April 2020.

"Mudah-mudahan mereka (pengusaha asli Papua) bisa bangun dulu nanti diaudit yang hasilnya akan menjadi dasar untuk kita bayarkan. Gapensi akan mendiskusikan hal ini, tapi mereka minta kalau bisa ada SPK (Surat Perintah Kerja) sementara untuk menjadi dasar mereka bisa bekerja," kata dia.

Selain itu, Wetipo mengakui bila Pasar Wouma yang sudah dibangun ulang belum dapat difungsikan. Hal tersebut dikarenakan para pedagang masih belum mau kembali beraktivitas di lokasi tersebut.

"Sesuai janji Presiden, pekerjaan Pasar Wouma dikerjakan tuntas dalam 14 hari. Hanya masyarakat belum bisa gunakan karena di depan pasar, ruko-ruko yang terbakar itu belum dibangun atau dirapikan sehingga membuat masyarakat masih trauma," tutur Wetipo.

Sementara Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Papua Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR Cornelis Sagrim menjelaskan, rekontruksi sejumlah bangunan di Wamena pascarusuh 23 September belum berjalan karena berbagai sebab.

Menurut dia, sebelumnya proses rekontruksi belum tahu dikerjakan oleh siapa karena bangak kerusakan terhadap properti pribadi. "Setelah ada kunjungan Presiden, baru dipastikan oleh Kementerian PUPR dan dilakukan pengusaha lokal," terangnya.

Namun setelah ada kesepakatan dengan Gapensi, kini Kementerian PUPR masih butuh pendataan kontraktor dari Gapensi dan juga petunjuk teknis tentang pelaksanaan proses rekontruksi tersebut.

Meski dari Gapensi masih meminta rencana anggaran biaya (RAB) proyek, namun Wetipo menganggap hal tersebut tidak akan menghalangi berjalannya pekerjaan.

"RAB itu sambil berjalan secara paralel tapi fisiknya sambil berjalan supaya cepat dikerjakan," kata Sagrim

Sementara itu, Ketua Gapensi Jayawijaya Fred Hubi menyatakan anggotanya siap menerima kepercayaan yang diberikan pemerintah dalam proses rekontruksi bangunan di Wamena. Sebagai putra asli Jayawijaya, ia menginginkan dampak kerusuhan di Wamena dapat segera diperbaiki dan bangunan baru segera berdiri.

"Rekrontruksi ini harus cepat selesai supaya wajah Wamena bisa cepat kembali dan kami mengapresiasi pemerintah bahwa anak asli Wamena diberi porsi lebih karena pembangunan 403 ruko ini semuanya diserahkan ke pengusaha asli Papua," kata dia.

Fred mengakui dari sisi permodalam tidak semua pengusaha lokal memilikinya. Namun Gapensi telah menggandeng beberapa pihak yang bisa membantu mengatasi masalah tersebut.

"Untuk modal kerja, Gapensi Jayawijaya sudah bekerja sama dengan pengusaha Raja Sibarani dan Koperasi Gapensi, mereka akan membantu kami dari segi pembiayaan yang menyangkut material maupun modal," ujar Fred.

Mengenai batas waktu yang diberikan Preiden Joko Widodo, ia yakin bila hal tersebur bisa dipenuhi. Menurut dia, yang akan mengerjakan pembangunan 403 unit ruko bukan hanya pengusaha asli Papua, tetapi juga kontraktor dari daerah lain yang memang tinggal di Jayawijaya.

"Anggota Gapensi Jayawijaya lebih dari 350 kontraktor, kalau satu pengusaha dapat satu ruko maka satu bulan pekerjaan ini selesai," kata Fred.

 



Sumber: Suara Pembaruan