Percepatan Ekonomi Sirkular Butuh Kerja Sama Berbagai Pihak

Percepatan Ekonomi Sirkular Butuh Kerja Sama Berbagai Pihak
Acara Plastic Reborn #BeraniMengubah membahas secara mendalam ekonomi sirkular dengan konsep kolaborasi melalui PRO (Packaging Recovery Organization) di Jakarta, Kamis (5/12/2019). (Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani)
Indah Handayani / FER Kamis, 5 Desember 2019 | 23:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Coca-Cola Indonesia bersama Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment (PRAISE) mendorong penerapan ekonomi sirkular sebagai salah satu wujud pendekatan pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

Peran Penting Ekonomi Sirkular

Public Affairs and Communications Director PT Coca-Cola Indonesia, Triyono Prijosoesilo mengatakan perusahaanya menyadari permasalahan sampah kemasan membutuhkan kerja sama dan dukungan dari semua pihak. Berbagai program sudah dilakukan oleh pihaknya untuk bisa memahami permasalahan manajemen sampah.

"Pada tahun 2017, Coca-Cola mengumumkan visi dan misi World Without Waste sebagai komitmen dalam penyelesaikan permasalahan kemasan pascakonsumi," ujar Triyono, di Jakarta, Kamis (5/12/2019).

Triyono mengatakan, pihaknya melakukan kolaborasi serta kajian untuk mendukung program pemerintah dalam menangani sampah kemasan diantaranya dengan melalui program Plastik Reborn 1.0 dan 2.0. Dalam menjalankan visi World Without Waste, pihaknya memiliki komitmen berkelanjutan terhadap bisnis yang dijalankan secara positif dan bertanggung jawab.

Kampanye Niat Murni Dukung Ekosistem Ekonomi Sirkular

"Kami melihat kemasan pascakonsumsi merupakan sumber daya bernilai tinggi yang memberikan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan bagi Indonesia pada tahun 2030," kata Triyono.

Menurut Triyono, upaya mempercepat ekonomi sirkular diperlukan kerja sama dari berbagai pihak baik konsumen, masyarakat, pemerintah dan industri. Coca-Cola Indonesia, sebagai anggota Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment (PRAISE), menginisiasi Packaging Recovery Organization (PRO) untuk kolaborasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan terutama sebagai salah satu solusi penanganan kemasan pascakonsumsi di Indonesia.

"Konsep PRO adalah sebuah pendekatan yang telah berhasil dilakukan di beberapa negara, baik negara berkembang ataupun negara maju. PRO telah mampu menghubungkan rantai value chain dalam ekonomi sirkular dengan lebih efektif, sehingga dapat meningkatkan tingkat pengumpulan dan pendaur ulangan kemasan pascakonsumsi," paparnya.

Lebih lanjut, Triyono menjelaskan, dalam model ekonomi sirkular, plastik kemasan pascakonsumsi di lihat sebagai material yang dapat digunakan berulang kali, baik melalui closed loop seperti dari botol menjadi botol kembali (RPET bottles) ataupun open loop dari botol menjadi berbagai bentuk lain seperti pakaian, sepatu, tas dan lain-lain.

"Kami targetkan PRO akan terbentuk paling lambat pada awal 2020. Pada tahap awal, kami akan mebentuk di dua daerah. Tahun pertama, kami baru akn melihat kondisi. Tahun depanya baru akan ekspansi," tandas Triyono.

Kasubdit Industri Plastik dan Karet Hilir Kementerian Perindustrian (Kemperin), Rizky Aditya Wijaya, menjelaskan pemerintah mendukung inisiatif PRO sebagai model penanganan kemasan plastik pascakonsumsi.

"Kami melihat peluang pengembangan industri daur ulang plastik di Indonesia masih besar, mengingat daur ulang sampah rumah tangga masih berada di level 15,22 persen," kata Rizky.

Rizky menambahkan, apabila kemasan plastik pascakonsumsi dapat dikelola dengan baik dan dioptimalkan maka produksi daur ulang plastik bisa mencapai 2 juta ton per tahun dari kapasitas saat ini 1,3 juta ton.

"Dengan daya serap 3,36 juta pekerja dari sektor informal seperti pemulung dan pengepul, industri daur ulang memiliki nilai tambah sebesar Rp 10,575 triliun per tahun dan  mampu menggerakkan perekonomian negara sebagai salah satu jalan menuju ekonomi sirkular," jelas Rizky.

 

 



Sumber: Investor Daily