Ini Saran LIPI untuk Kenali dan Waspadai Serangan Tawon

Ini Saran LIPI untuk Kenali dan Waspadai Serangan Tawon
Hari Nugroho, peneliti tawon di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperlihatkan koleksi sarang tawon di Gedung Widya Satwaloka LIPI Cibinong, Bogor, 5 Des. 2019. (Foto: Suara Pembaruan / Ari Rikin)
Ari Supriyanti Rikin / HA Jumat, 6 Desember 2019 | 01:00 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Serangan tawon di sejumlah daerah Jawa Tengah seperti Klaten hingga menelan korban jiwa diharapkan ke depan tidak terjadi lagi. Masyarakat pun perlu mengenali sifat tawon, potensi sengatan dan tanda-tanda terganggunya habitat tawon di lingkungan.

Peneliti tawon di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hari Nugroho, mengatakan tawon (vespidae) merupakan predator atau pemangsa alami larva lepidoptera dan coleoptera. Tawon jenis vespidae ini ada sembilan jenis di Indonesia. Serangan tawon yang terjadi di Klaten merupakan jenis vespa affinis yang tergolong ganas sengatannya.

"Tawon ini aktif sepanjang hari  atau diurnal. Pada siang hari meninggalkan sarang untuk mencari makan," kata Hari di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, Bogor, Kamis (5/12/2019).

Hari menambahkan, tawon jenis ini sangat agresif jika dalam kondisi terganggu. Oleh karena itu jika akan dilakukan pemindahan dan pemusnahan sarang lebih baik dilakukan di malam hari atau kalau siang hari dilakukan dalam kondisi mendung atau hujan.

"Hanya tawon betina yang punya bisa untuk menyengat karena memiliki zat feromon atau zat untuk menyerang," ucapnya.

Hal lain yang perlu diketahui masyarakat, ratu tawon bisa saja menelorkan tawon tanpa kawin.

Terganggunya habitat atau lingkungan tempat sarang tawon membuat ketidakseimbangan ekosistem hingga tawon membuat sarang di sekitar permukiman.

Selain itu, tawon jenis affinis ini bisa menjadi berkembang biak dengan pesat ketika ada banyak sumber pakan, kenaikan temperatur suhu yang semakin panas dan ketidakseimbangan rantai makanan di alam.

"Tawon vespa affinis ini selain memakan larva kupu-kupu, juga bisa makan sisa-sisa daging atau ayam serta buah busuk yang sudah terfermentasi di tempat sampah yang terbuka," paparnya.

Serangan tawon affinis umumnya terjadi di awal musim hujan seperti bulan November. Beberapa laporan kasus serangan banyak masuk di bulan tersebut.

Masyarakat harus waspada jika melihat ada sarang tawon di dalam plafon rumah, lingkungan sekitar atau di bangunan tertentu, lanjutnya. Jika sarang masih kecil seukuran buah mangga bisa dimusnahkan sendiri dengan cairan insektisida. Sisa sarang pun harus benar-benar dibersihkan dengan cairan menyengat seperti minyak tanah dan solar.

Jika tidak, tawon betina atau ratu tawon bisa saja kembali membuat sarang di tempat yang sama.

Namun jika ditemukan sarang tawon berukuran besar, masyarakat diminta melaporkan ke petugas yang sudah dibekali keahlian khusus untuk melakukan pemindahan atau pemusnahan.

"Saat mengalami serangan tawon affinis ini sebaiknya segera mendapatkan pertolongan medis," imbuhnya.

Petugas medis juga perlu lebih cermat karena durasi pascaserangan di dalam tubuh bisa terjadi lebih dari 24 jam.

"Kadang diberi obat dan disuruh pulang dari perawatan medis karena kondisi dinyatakan normal, tapi ketika di rumah akhirnya nyawanya tidak tertolong karena tingkat alerginya bisa jadi masih ada," paparnya.

Selain di Klaten, serangan tawon juga dilaporkan terjadi di Boyolali, Karanganyar, Sukoharjo, Demak, Semarang, Pemalang, Tegal, Kudus dan Garut.

Menurut data Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Klaten, selama kurun waktu 2017 hingga November 2019 sudah ada 10 korban meninggal sedangkan jumlah korban yang dirawat di rumah sakit akibat sengatan tawon affinis lebih dari 250 orang.

Dosis kecil dari sengatan satu atau dua ekor tawon mungkin hanya akan menimbulkan reaksi alergi lokal dengan gejala bengkak, rasa sakit, gatal. Jika tawon yang menyengat berjumlah banyak, maka bisa menyebabkan anafilaksis (reaksi alergi berat), cedera ginjal akut (acute kidney injury), rhabdomyolysis, gagal ginjal serta kegagalan multi organ lainnya.

"Apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat akan mengakibatkan kematian," kata Hari. 



Sumber: Suara Pembaruan