Hari Tanah Sedunia, Kementan Minta Semua Pihak Cegah Erosi

Hari Tanah Sedunia, Kementan Minta Semua Pihak Cegah Erosi
Kementan Syahrul Yasin Limpo saat menghadiri Hari Tanah Sedunia di Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), Cimanggu, Bogor, Jawa Barat, Kamis, 5 Desember 2019. (Foto: Suara Pembaruan/Vento Saudale)
Vento Saudale / JAS Jumat, 6 Desember 2019 | 14:53 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Kementerian Pertanian (Kemtan) mengajak semua pihak agar melakukan konservasi lahan untuk mencegah terjadinya erosi tanah dan kerusakan alam. Pencegahan kerusakan bisa dilakukan dengan cara mengoptimalkan drainase dan melakukan rotasi tanam yang mampu mengoptimalkan peresapan air.

Hal itu dikatakan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo saat menghadiri Hari Tanah Sedunia di Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), Cimanggu, Bogor, Jawa Barat, Kamis (5/12/2019). Ia menilai, bersikap abai dan sewenang-wenangan terhadap tanah dan lahan akan menimbulkan banyak kerugian bagi bangsa dan negara.

"Di pikiran saya, tanah ini sangat luar biasa karena memberikan sumber kehidupan. Kalau begitu kita harus perlakukan tanah ini sebaik mungkin," papar Syahrul.

Menurut Syahrul, lahan seperti tanah gambut harus diperlakukan dengan baik, serta memiliki tujuan pasti untuk kemaslahatan semua orang. Apalagi, Indonesia adalah negara tropis yang memiliki kekayaan alam yang lebih subur ketimbang negara-negara lain di dunia.

"Mari kita hadirkan kehidupan yang berkasih sayang kepada dunia, kepada alam dan kepada semua makhluk hidup. Saya mohon, kita semua berdiri tegak untuk bangsa ini," katanya.

Dirinya berharap, Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang terus mengembangkan sistem teknologi canggih yang bisa mengukur perlakuan tanah di Indonesia. Dia ingin, kehadiran teknologi mampu menunjang semua perkembangan teknologi digitalisasi 4.0 untuk pertanian.

"Hari ini kita sudah mulai mendapatkan titik yang jelas terkait pengelolaan lahan dengan teknologi yang dimiliki. Oleh karena itu kita harus memanfaatkan hasil analisis ini dan menjadi pedoman dalam bercocok tanam. Toh dengan artificial intelligence yang kita miliki, kita bisa melihat kapan gambut terbakar, kapan tanah kita dimanfaatkan dan berapa banyak kebutuhan lahan kita," katanya.

Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjri Jufri menyampaikan bahwa teknologi yang digunakan saat ini sudah memasuki babak baru. Saat ini, hampir semua elemen pertanian sudah menggunakan sistem analisis teknologi.

"Untuk tanah misalnya, kami sudah menggunakan teknologi Smart Soil Sensing Kit yang bisa mengukur berapa unsur hara di dalam tanah dan berapa urea yang dibutuhkan. Ini adalah kekuatan besar yang akan kita sebarkan di tingkat desa dan kecamatan," katanya.

Melalui teknologi ini, kata Jufri, pemerintah juga bisa mengetahui berapa pupuk yang dibutuhkan untuk satu hektare area sawah. Sehingga, pola ini mampu menutup ruang penyalahgunaan pupuk yang selama ini dikhawatirkan banyak pihak.

"Kita tahu berapa pupuk yang dibutuhkan dan berapa alokasi pupuk yang harus disebat. Kita ingin maksimalkan apa yang ada dan meminimalisasi penyalahgunaan pupuk," ucap dia.

Sebagai catatan, peringatan Hari Tanah Sedunia tersebut meliputi kegiatan edukasi mengolah tanah yang baik. Edukasi ini diberikan langsung kepada pelajar SD, TK, sampai perguruan tinggi. Selain itu, pemerintah juga meluncurkan peta gambut Indonesia yang mencapai 13,4 juta hektare.



Sumber: BeritaSatu.com