BPIP Antisipasi Pergeseran Nilai Pancasila Generasi Muda

BPIP Antisipasi Pergeseran Nilai Pancasila Generasi Muda
Deputi Pengendalian dan Evaluasi BPIP melalui Kasubdit Pengendalian III Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Leo Efriansa (tengah) dan Kasubdit Evaluasi I BPIP, Andriani Johar (kiri), melakukan koordinasi dengan Majelis adat kerajaan Cirebon dan diterima Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat (kanan), di Keraton Kasepuhan Cirebon, Jumat, 6 Desember 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Yeremia Sukoyo )
Yeremia Sukoyo / WBP Jumat, 6 Desember 2019 | 15:06 WIB

Cirebon, Beritasatu.com - Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) menyebabkan beragam budaya luar masuk ke Indonesia. Tak heran nilai-nilai Pancasila telah tergeser oleh pola pikir yang tidak sesuai dengan budaya nasional.

Kasubdit Pengendalian III Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Leo Efriansa menegaskan, kelompok yang paling rentan terkena imbas pergeseran nilai-nilai Pancasila adalah generasi muda. "Perkembangan kemajuan teknologi informasi saat ini membuat penyebaran informasi begitu cepat dan tersebar luas, pergeseran nilai-nilai budaya di masyarakat sebagai akibat pengaruh luar yang begitu cepat," kata Leo Efriansa, dalam kunjungan ke Keraton Kasepuhan Cirebon, Jumat (6/12/2019).

Menurutnya, jika kondisi ini dibiarkan, dapat menjadi ancaman bangsa Indonesia. Generasi muda lambat laun semakin tidak mengenal Pancasila dan bisa mengganggu rasa persatuan dan kesatuan bangsa.

Dikatakan, para pendiri bangsa sebenarnya sudah mewariskan kepada masyarakat empat konsensus dasar pendirian bangsa Indonesia yakni UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila.

Kasubdit Evaluasi I BPIP, Andriani Johar menuturkan, saat ini diperlukan standarisasi dan strategi untuk menghadapi ancaman penyimpangan ideologi Pancasila. "Kita semua harus berkoordinasi mengangkat nilai-nilai Pancasila yang selaras dengan kearifan lokal. Seperti di Cirebon yang cukup banyak budaya luhur," kata Andriani Johar.

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati, Arief Natadiningrat mengingatkan, menjaga toleransi, persatuan dan kesatuan sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum bangsa Indonesia terbentuk. Sampai saat ini, konsep tersebut seharusnya dapat dijaga dengan baik.

"Sudah 600 tahun lalu berbagai bangsa, suku, agama sudah berkumpul di Cirebon. Kita melihat bagaimana pusat syiar (agama Islam) cukup toleransi. Semua manusia sama, mau beragama apa pun, suku apa pun, kita sama, kita bersaudara, menjaga silaturahmi, persatuan dan kesatuan," kata Arief Natadiningrat.

Ditegaskan, nilai-nilai Pancasila ada karena adanya nilai-nilai kearifan lokal yang terjaga di seluruh Indonesia.  "Bisa disimpulkan, Pancasila diambil dari akar-akar kearifan lokal. Sifat silaturahmi dan ingin bersatu itu sudah ada sejak dulu kala. Aneh kalau sekarang gontok-gontokan, menebar kebencian dan adu domba, kayak bukan anak indonesia," ucap Arief Natadiningrat.

Dalam kesempatan itu Sultan juga mengingatkan jangan sampai anak-anak muda Indonesia lebih bangga dengan kebudayaan luar.  "Anak-anak ini kalau bisa menguasai (budaya) Indonesia, karena terkait ketahanan budaya dan ini penting. Jangan sampai kebanggaan dan kecintaan terhadap bangsa tidak ada lagi," ujar Arief Natadiningrat.

BPIP melalui Deputi Pengendalian dan Evaluasi melakukan kegiatan kunjungan dinas ke Kota Cirebon. Tim sebelumnya sempat melakukan koordinasi ke Badan Kesbangpol dalam rangka koordinasi terkait Implementasi Pengarusutamaan nilai-nilai Pancasila yang dilaksanakan oleh pemerintah kota.

Selanjutnya, kunjungan dinas dilakukan ke Kerajaan Kesepuhan Cirebon. Kegiatan tersebut juga dalam rangka berkoordinasi dengan Majelis adat kerajaan Cirebon dalam hal mengangkat nilai-nilai Pancasila yang disandingkan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat di Kerajaan Kesepuhan.



Sumber: Suara Pembaruan