Mengenal Ulos Sebagai Kain Tradisional Khas Batak

Mengenal Ulos Sebagai Kain Tradisional Khas Batak
Kain Ulos (Foto: istimewa)
Chairul Fikri / CAH Minggu, 8 Desember 2019 | 13:41 WIB

Toba Samosir, Beritasatu.com - Bicara tentang suku Batak yang menjadi salah satu suku di Provinsi Sumatera Utara, ingatan masyarakat pasti langsung mengingat kain tradisionalnya bernama Ulos. Secara turun temurun kain ulos dikembangkan oleh masyarakat Batak, dimana pada mulanya dikenakan di dalam bentuk selendang atau sarung saja.

Kain Ulos kerap digunakan pada perhelatan resmi atau upacara adat Batak, tetapi kini banyak dijumpai di dalam bentuk produk souvenir, sarung bantal, ikat pinggang, tas, pakaian, alas meja, dasi, dompet, dan gorden.

Dengan warna yang khas yakni merah, hitam, dan putih yang dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak sebagai perlambang warna kesukaan masyrakat Batak, Ulos bagi nenek moyang masyarakat Batak menjadi 3 sumber kehangatan dalam dunia yakni matahari, api dan ulos. Dahulu, pembuatan ulos biasanya menggunakan mesin tenun dengan benang berwarna emas atau perak yang dipintal dari kapas.

Sedangkan saat ini, Ulos bukan hanya sekedar sebagai penghangat tubuh saja, tetapi lebih dikenal sebagai perlambangkan pemberian restu, curahan kasih sayang, harapan, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Biasanya ulos diberikan kepada mereka disertai doa dan harapan agar dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik.

Bagi dunia pariwisata, Ulos kini juga menjadi salah satu bidang yang bisa dipromosikan saat kita berkunjung ke Danau Toba yang menjadi salah satu destinasi Super Prioritas. Diantara banyaknya desa-desa wisata yang memproduksi Ulos, adalah desa adat Ragi Hotang Meat yang berada di Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir yang kini tengah dikembangkan sebagai desa wisata sentra pengerajin kain tenun Ulos.

"Pembuatan Ulos di Desa Adat Ragi Hotang Meat ini merupakan salah satu kearifan lokal yang terus dipertahankan warga Meat selama 14 generasi. Dimana salah satu filosofi pembuatan Ulos ini adalah menjadikannya satu, sehingga kalau tidak sejalan atau menjadi satu tidak akan jadi kain Ulos. Kerajinan membuat Ulos dari sini mulai dikenal masyarakat sejak desa ini dijadikan desa wisata tahun 2017 lalu," kata Guntur Sianipar selaku ketua adat desa adat Ragi Hotang Meat itu saat sejumlah media melakukan kunjungan dalam rangka Familiarization Trip Media Digital Nasional ke Destinasi Super Prioritas, belum lama ini.

Ditambahkan Guntur, sebelum pemerintah menetapkan desa adat mereka sebagai salah satu desa wisata, kehidupan masyarakat mereka memang belum tertata apik. Mereka membuat kerajinan kain Ulos hanya untuk mencari penghidupan sehari-hari saja. Namun ketika mereka mendapat pembinaan dan menjaga konsistensi mereka membuat ulos, kehidupan masyarakat di sana kini berubah drastis.

Di Desa adat Meat ini, para penenun akan membuat Ulos berdasarkan beberapa motif yang selama ini terkenal dalam budaya batak, seperti sadum, sibolang (motif untuk orang tua yang meninggal), ragi hidup, dan puncak (ulos yang diperuntukkan bagi orang yang sudah punya cucu). Ada pula motif lobu-lobu, ragi huting, bintang maratur dan mangiring.

Kerajinan Ulos Desa Papande 

Desa Papande yang berada di Pulau Sibandang Kabupaten Tapanuli Utara juga sudah lama dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan Ulos bagi para raja-raja Batak, lantaran kekhas-an motif dan jenis kainnya. Bahkan kini, kerajinan kain Ulos yang di produksi masyarakat Desa Papande berhasil menembus pasar internasional dengan banyak menerima pesanan dari Korea Selatan hingga Paris, Prancis.

Produk kerajinan ulos mereka yang khas dengan menggunakan benang seratus yang artinya kerajinan ulos yang mereka produksi bisa dicuci, tidak luntur dan bisa disetrika kini mulai menarik para desainer-desaigner internasional. Peran pemerintah daerah Tapanuli Utara lewat Ibu Bupati Tapanuli Utara, Sartika Simamora telah berhasil menjadikan kain ulos khas Pulau Sibandang ini mendunia.

"Awalnya istri saya melalui Dekranasda Kabupaten Tapanuli Utara melalukan pelatihan dan pembimbingan kepada mereka untuk lebih serius menekuni kerajinan menenun ulos bukan hanya sebagai mata pencaharian saja, namun agar kerajinan mereka juga bisa dilirik dunia internasional. Dengan menggunakan benang seratus yang bisa dicuci, tidak luntur dan bisa di setrika mereka mulai mengembangkan kerajinan Ulosnya. Bersyukur kini mereka kebanjiran pesanan dari luar negeri mulai dari Korea Selatan hingga Paris, Prancis," tutur Nikson Nababan selaku Bupati Tapanuli Utara.

Kini mereka bisa menikmati hasilnya lantaran harga jualnya meningkat. Dari biasanya mereka hanya menerima Rp 300.000 saja dari satu kain yang mereka produksi, kini mencapai Rp 1,2 juta - Rp 2 juta perkainnya. 

Meski kerajinan ulos dari Batak kini telah mendunia dan dikenal di masyrakat internasional, namun Nikson tetap berharap Ulos tetap menjadi pakaian dan kain yang sakral bagi masyarakat Batak dengan terus menjaga fungsi dan tujuannya.

"Meski kini Ulos khas Batak telah mendunia, saya berharap jangan sampai mengubah esensi Ulos yang diwariskan orang Batak. Perkembangan boleh, biarlah itu kreativitas, tapi yang melalui sejarahnya harus tetap dipertahankan," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com