Ini Dosa-dosa Ari Askhara di Mata Awak Kabin Garuda

Ini Dosa-dosa Ari Askhara di Mata Awak Kabin Garuda
Anggota Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI) mendatangi Kantor Kementerian BUMN di Jakarta Pusat, Senin (9/12/2019). Kedatangan anggota IKAGI tersebut untuk melaporkan kesalahan-kesalahan, dan ketidakberesan mantan Dirut Garuda, Ari Askhara selama menjabat. (Foto: Beritasatu TV)
Aichi Halik / AHL Senin, 9 Desember 2019 | 21:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI) mendatangi Kantor Kementerian BUMN di Jakarta Pusat, Senin (9/12/2019).

Kedatangan anggota IKAGI tersebut untuk melaporkan kesalahan-kesalahan dan ketidakberesan mantan Dirut Garuda, Ari Askhara, selama menjabat.

Sekjen IKAGI, Jacqueline Tuwanakotta menyatakan, selama kepemimpinan Ari Askhara, ia dan teman-temannya yang tergabung dalam IKAGI, merasa banyak sekali ketidakberesan dan kejanggalan di tubuh Garuda Indonesia.

"Selama beliau memimpin banyak sekali kerusakan di PT Garuda Indonesia,” kata Jacqueline.

Selama Ari Askhara memimpin, menurut Jacqueline, awak kabin Garuda merasa bekerja dengan penuh tekanan, dan jika melakukan kesalahan sedikit saja akan berakibat langsung dipindahtugaskan.

“Mereka (awak kabin) takut ada yang terancam, contoh, lakukan kesalahan sedikit langsung dipindahkan ke Papua, kemudian kesalahan yang harusnya masuk dalam pembinaan, tiba-tiba di-grounded, tidak boleh terbang,” ujar Jacqueline.

Selain itu, para awak kabin Garuda sering dipekerjakan di luar batas. Contohnya, saat bertugas dalam melayani penerbangan Jakarta - Sydney.

"Jadwal terbang awak kabin diubah yang tadinya jadwal multi-days tiba-tiba menjadi one day. Contohnya, schedule Sydney-Jakarta-Sydney, itu harusnya tiga hari atau empat hari, tapi jadi PP (pulang pergi)," ungkap Jacqueline.

"Hal itu membawa dampak tidak bagus untuk awak kabin, sekarang sudah ada delapan orang anggota IKAGI yang diopname,” imbuh Jacqueline.

Jacqueline mengatakan, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan manajemen dalam memberikan beban kerja kepada awak kabin.

"Dalam pengaturan jam kerja awak kabin, kita tak boleh mengabaikan aspek fatigue crisis management system dimana hal itu akan kembali kepada kemampuan setiap individu. Nah itu yang tidak boleh diabaikan," tutur Jacqueline.



Sumber: BeritaSatu TV