Usut Pembunuhan Hakim Jamaluddin, Polisi Bisa Ungkap Pembicaraan Terakhir di Handphone Korban

Usut Pembunuhan Hakim Jamaluddin, Polisi Bisa Ungkap Pembicaraan Terakhir di Handphone Korban
Agus Yohanes (Foto: BeritaSatu Photo/Arnold Sianturi)
Arnold H Sianturi / JEM Rabu, 11 Desember 2019 | 14:20 WIB

Medan, Beritasatu.com - Pengamat kepolisian menyarankan pihak kepolisian untuk membuka pembicaraan terakhir hakim Jamaluddin di telepon seluler korban yang digunakan sebelum ditemukan tewas di sebuah jurang di Dusun II Namo Bintang, Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang, Jumat (29/11/2019).

"Jejak digital komunikasi antara korban dengan orang - orang yang berkomunikasi dengannya sebelum tewas itu tidak bisa dihilangkan. Artinya, tidak sulit untuk mengungkap pelaku pembunuhan hakim itu jika polisi masih mencari handphone korban," ujar pengamat kepolisian, Agus Yohanes kepada Beritasatu.com, Rabu (11/12/2019).

Agus mengatakan, handphone milik korban merupakan alat bukti untuk mengungkap misteri pembunuhan hakim Jamaluddin. Dari handphone korban juga bisa ditemukan orang - orang yang dicurigai terlibat pembunuhan itu. Polisi tinggal merekontruksi pembicaraan korban sebelum tewas melalui provider perusahaan sesuai dengan nomor handphone korban.

"Polisi mempunyai hak dan kewenangan meminta perusahaan dimaksud membuka isi pembicaraan korban. Tidak ada alasan bagi perusahaan komunikasi untuk menolak permintaan penyidik. Permintaan penyidik jika ditolak justru bisa dikategorikan melakukan pelanggaran tindak pidana," ungkapnya.

Untuk membuka isi pembicaraan hakim Jamaluddin, kata Agus yang merupakan mantan rekan almarhum Munir sesama pendiri Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) ini, lebih efektif mempercepat pengungkapan kasus pembunuhan Jamaluddin dari pada polisi masih mencari handphone milik korban.

"Bila tetap bertumpu pada pencarian handphone milik korban justru berjalan sangat lambat. Orang yang mengambil handphone korban pun dipastikan sudah mencabut kartu milik korban dari handphone. Jika ini masih dilakukan justru dikhawatirkan menimbulkan kesan tidak baik di masyarakat," ungkapnya.

Menurutnya, sebagian warga bisa saja menilai polisi sedang mengulur waktu pengungkapan kasus itu. Padahal, polisi sedang bekerja ekstra mengungkap kasus pembunuhan hakim itu. Apalagi, hasil autopsi dari Rumah Sakit Bhayangkara menyebutkan, bahwa korban sudah tewas sekitar 12 - 20 jam, terhitung sejak ditemukan.

"Saya berķeyakinan dan sangat optimistis, melalui provider jaringan telekomunikasi, polisi bisa mengungkap pembunuhan hakim Jamaluddin. Hasil pembicaraan korban ini pun bisa disinkronkan dengan keterangan sejumlah saksi maupun isi rekaman Closed Circuit Television (CCTV) yang sudah diamankan polisi," imbuhnya.

Menurutnya, polisi juga memiliki alat teknologi super canggih dan ahli tim siber yang bisa melacak keberadaan handphone korban, berkomunikasi dengan orang lain sebelum tewas. Teknologi itu juga digunakan polisi ketika mengungkap kasus terorisme maupun kejahatan di dunia maya.

"Lambatnya pengungkapan kasus pembunuhan hakim ini bisa menimbulkan banyak pertanyaan dari masyarakat terhadap polisi. Selain itu, lambatnya penanganan kasus ini justru bisa menimbulkan perselisihan dari saudara kandung hakim Jamaluddin dengan keluarga istrinya," sebutnya.



Sumber: Suara Pembaruan