UNESCO Danai Mitigasi Risiko Bencana di Cagar Budaya

UNESCO Danai Mitigasi Risiko Bencana di Cagar Budaya
Pemetaan Risiko Cagar Budaya di kawasan Prambanan mulai dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, PT Waindo SpecTerra, dan Universitas Gadjah Mada melalui pendanaan dari UNESCO Heritage Emergency Fund, Selasa, 11 Desember 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / JEM Rabu, 11 Desember 2019 | 15:21 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Ditopang pendanaan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) Heritage Emergency Fund, proses mitigasi Pemetaan Risiko Cagar Budaya di kawasan Prambanan mulai dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, PT Waindo SpecTerra, dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Daerah Istimewa Yogyakarta, Zaimul Azzah mengatakan, Pemetaan Risiko Cagar Budaya di kawasan candi sebagai bagian dari advokasi UNESCO terhadap pendekatan multi-disipliner dalam hal manajemen warisan budaya.

"Proyek ini bertujuan untuk menegaskan pentingnya mitigasi bencana di sektor budaya dengan cara pemetaan warisan budaya, baik yang benda maupun tak benda, yang berlokasi di kawasan yang rawan bencana alam seperti gempa dan tanah longsor," ujarnya, Selasa (10/12/2019)

Dikatakan, kawasan Prambanan dipilih sebagai lokasi pertama, dan harapannya di masa depan, inisiatif bersifat pencegahan sebelum bencana terjadi di sektor budaya dapat menjadi diskursus arus utama di tingkat nasional.

Proyek tersebut akan menghasilkan gambar-gambar digital tiga dimensi dari tujuh warisan budaya candi yaitu Prambanan, Sewu, Lumbung, Bubrah, Ghana, Ijo, dan Ratu Boko, serta indeks kerentanan dan indeks resiko masing-masing candi dan data geologis dari kawasan sekitar candi-candi tersebut.

“Candi-candi ini terletak diatas Sesar Opak, atau salah satu patahan paling aktif,” ujarnya.

Proyek ini juga akan mendokumentasikan cagar budaya tak benda, seperti cerita rakyat, pertunjukan tradisional, ritual dan kepercayaan berkolaborasi dengan para komunitas di desa sekitar kawasan candi.

“Memetakan tujuh situs cagar budaya sebagai bagian dari inistiatif penanggulangan bencana sangat penting untuk dilakukan mengingat tingginya resiko terjadinya bencana di lokasi-lokasi tersebut,” terang Zaimul Azzah.

Dikatakan, upaya mitigasi bencana di sektor budaya telah mendapatkan atensi dunia internasional sejak terjadinya gempa besar di Kobe, Jepang, yang mana akibat kerusakannya dapat dirasakan hingga ke kota-kota warisan budaya sekitarnya.

Sementara, dalam keterangan tertulisnya, Direktur UNESCO Indonesia, Shahbaz Khan mengatakan, meskipun diskusi publik telah dilakukan selama dua dekade terakhir, pada praktiknya sangat sedikit yang sudah dilakukan untuk mempersiapkan cagar budaya dalam menghadapi bencana, baik alam maupun karena aktivitas manusia.

“Kerja sama yang dilakukan oleh BNPB, serta unit-unit pelestari cagar budaya dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta para ahli sangat kami apresiasi. Kami berharap proyek ini dapat menjadi contoh agar daerah lain di Indonesia pun dapat melakukan hal serupa,” sebut,.

Sedang Direktur Pengurangan Resiko Bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dr Raditya Jati menjelaskan, Indonesia telah merasakan akibat dari bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api, seperti hilangnya nyawa penduduk dan kerusakan terhadap infrastruktur negara. Melalui pemahaman akan potensi bahaya, resiko dan kerentanan, kita dapat mengurangi akibat dari bencana alam dan melindungi cagar budaya dengan lebih baik, tidak hanya struktur fisik saja namun juga terkait dengan aktivitas sosial dan ekonomi.

Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015-2030 bertujuan untuk mengurangi hilangnya sumber perekonomian langsung (GDP) karena bencana, termasuk yang berkaitan dengan rusaknya warisan budaya hingga 2030. Belakangan ini, BNPB telah mengintegrasikan data fokus pembangunan terpenting di InaRISK, portal pemetaan resiko nasional. Namun, data yang berkaitan dengan warisan budaya masih sangat kurang.

“Persiapan kebencanaan di sektor cagar budaya akan meningkatkan ketahanan ekonomi di level daerah. Saya berharap proyek ini dapat menjadi inspirasi dibentuknya contoh kerjasama baru antara pemerintah nasional dan daerah, dengan partisipasi dari peneliti, civitas akademika, sektor swasta, dan UNESCO,” ujarnya. 

2 Attachments



Sumber: Suara Pembaruan