Khofifah Akui Pernah Pergi Umrah Bersama Mertua Penyuap Rommy

Khofifah Akui Pernah Pergi Umrah Bersama Mertua Penyuap Rommy
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjadi saksi sidang kasus suap jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama dengan terdakwa Haris Hasanuddin dan Muafaq Wirahadi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu 3 Juni 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao. )
Fana Suparman / FMB Kamis, 12 Desember 2019 | 10:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa mengaku pernah berangkat umrah bersama sejumlah tim suksesnya di Pilkada Jatim pada awal Januari 2019. Perjalanan umrah itu bersama dengan Roziki yang merupakan mertua dari Haris Hasanuddin, mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Timur (Kakanwil Kemag Jatim).

Haris diketahui telah divonis bersalah telah menyuap anggota DPR sekaligus mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy alias Romy terkait proses seleksi jabatan di lingkungan Kemag. Sementara Roziki merupakan Ketua Timses Khofifah saat bertarung di Pilgub Jatim 2018.

Khofifah menuturkan, perjalanan umrahnya itu juga bersama dengan salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Jatim, Kiai Asep Saifuddin Chalim.

"Pernah (umrah) bersama Pak Roziki dan Kiai Asep, kira-kira sembilan hari," kata Khofifah saat bersaksi dalam sidang perkara jual beli jabatan di Kemag dengan terdakwa Rommy di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (11/12).

Meski demikian, Khofifah menyatakan tidak ada pesan khusus dari Roziki terkait proses seleksi yang dijalani Haris Hasanudin di Kemag.

"Tidak ada pesan khusus," katanya.

Khofifah juga mengaku pernah dititipkan pesan oleh Kiai Asep Saifuddin Chalim untuk diteruskan ke Rommy. Pesannya itu, terkait pemilihan Kakanwil Kemag Jatim.

"Seperti yang pernah saya sampaikan kesaksian di ruangan ini juga, bahwa satu saat Kiai Asep meminta saya menanyakan kepada mas Romi, katanya ada proses yang sudah selesai. Kaitan dengan pemilihan Kanwil Jawa Timur. Kenapa tidak segera dilantik?," ungkap Khofifah.

Khofifah mengaku langsung menyampaikan pesan Kiai Asep itu ke Rommy melalui aplikasi pesan WhatsApp. Secara kebetulan, kata Khofifah dirinya saat itu sedang berkomunikasi dengan Rommy terkait kampanye akbar PPP.

"Iya itu kebetulan beliau (Kiai Asep) baru telepon, kebetulan Mas Rommy WA saya, minta saya hadir pada kampanye akbar PPP tanggal 10 April 2019. Saya sampaikan Insyaallah saya hadir. Nah, kemudian saya sampaikan pertanyaan Pak Asep itu, saya bilang kira kira ada kalimat begini, jangan sampai 'keanginan', maksudnya jangan kelamaan," katanya.

Majelis Hakim juga mengonfirmasi Khofifah soal adanya permintaan kepada Rommy untuk memperjuangkan seseorang. Namun, Khofifah membantah hal tersebut. Khofifah hanya menyebut pernah berkomunikasi dengan Rommy melalui layanan WA.

"Saya merasa tidak pernah yang mulia. Hanya ada memang WA (Whatsapp) saya bulan Februari," katanya.

Diketahui, Jaksa KPK mendakwa Rommy menerima uang Rp 325 juta dari Haris Hasanudin agar lolos seleksi dan dilantik sebagai Kepala Kanwil Kemag Jawa Timur. Dalam surat dakwaan, Rommy didakwa menerima suap bersama-sama Menag Lukman Hakim Saifuddin. Keduanya disebut melakukan intervensi langsung maupun tidak langsung terhadap proses pengangkatan Haris Hasanudin tersebut. Tak hanya dari Haris, dalam perkara jual beli jabatan ini, Romy juga didakwa Jaksa menerima Rp 91,4 juta dari M Muafaq Wirahadi. Uang tersebut berkaitan proses pengangkatan Muafaq sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik. 



Sumber: Suara Pembaruan