Aliran Dana dari Penyelundupan Benih Lobster Capai Rp 900 M

Aliran Dana dari Penyelundupan Benih Lobster Capai Rp 900 M
Ilustrasi Lobster. (Foto: Antara/Irwansyah)
Fana Suparman / YS Sabtu, 14 Desember 2019 | 09:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) turut berperan dalam pengungkapan berbagai perkara sepanjang 2019 ini.

Salah satunya, perkara penyelundupan benih lobster ke luar negeri yang merupakan kerja sama antara PPATK, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri.

PPATK mengungkapkan aliran dana penyelundupan benih lobster ke luar negeri mencapai hingga Rp 900 miliar per tahun. Dana tersebut digunakan mendanai pengepul dalam negeri dan membeli benih tangkapan nelayan lokal.

"Dalam setahun, aliran dana dari luar negeri yang diduga digunakan untuk mendanai pengepul membeli benur tangkapan nelayan lokal mencapai Rp 300 miliar hingga Rp 900 miliar," kata Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin dalam acara Refleksi Akhir Tahun 2019 di kantor PPATK, Jakarta, Jumat (13/12/2019).

Badaruddin mengungkapkan, penyelundupan benih lobster ke luar negeri ini melibatkan sindikat internasional. Sumber dana berasal dari bandar di luar negeri yang kemudian dialirkan ke berbagai pengepul di Indonesia. Aliran dana dari sindikat di luar negeri ke pelaku di Indonesia ini menggunakan perantara kegiatan usaha valuta asing atau money changer.

"Selain itu, penggunaan rekening pihak ketiga antara lain toko mainan, perusahaan atau pemilik garmen dan perusahaan ekspor ikan dalam menampung dana yang berasal dari luar negeri," katanya.

Penyelundupan benih lobster ke luar negeri merugikan keuangan negara dan dan mengurangi penerimaan negara secara signifikan. Hal ini lantaran tindakan ilegal tersebut membuat ekspor lobster ke luar negeri semakin merosot.

"Serta mengancam kelestarian sumber daya lobster di Indonesia," katanya.

 



Sumber: Suara Pembaruan