Rhenald Kasali: Persiapkan Anak Bernalar Sejak Usia Dini

Rhenald Kasali: Persiapkan Anak Bernalar Sejak Usia Dini
Rhenald Kasali saat peluncuran buku "Sentra Inspiring School", di Jakarta, Jumat(13/12/2019). (Foto: Suara Pembaruan / Maria Fatima Bona)
Maria Fatima Bona / DAS Sabtu, 14 Desember 2019 | 15:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Untuk membangun kemampuan siswa berpikir kritis, menganalisa dan memecahkan masalah, tidak bisa dilakukan dalam sekejap melainkan butuh waktu panjang. Sejak pendidikan usia dini anak-anak harus diajarkan bernalar.

Hal itu diungkapkan Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali saat peluncuran buku metode pengajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berjudul Sentra Inspiring School, di Jakarta, Jumat (13/12/2019).

Rhenald Kasali menyebut, para pemangku kepentingan yang mengelola pendidikan selama ini lebih fokus pada capain pendidikan antartingkat sehingga lupa akan dasar utama pendidikan yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Padahal fase usia dini ini paling krusial dalam pendidikan.

Karena itulah Rhenald Kasali yang selama ini lebih dikenal sebagai penggiat pendidikan di peguruan tinggi juga terjun aktif di bidang PAUD. Ia mendirikan Yayasan Rumah Perubahan yang salah satu kegiatannya adalah menyediakan sekolah bermutu untuk anak-anak kurang mampu pada level dasar.

Buku Sentra Inspiring School setebal 346 halaman bagian dari Series On Education ini adalah cara Rhenald Kasali membagi praktik dalam mengelola PAUD dan Taman Kanak-kanak (TK). Buku ini membahas progres PAUD dan TK di Yayasan Rumah Perubahan yang dijalankan oleh Rhenald Kasali dan sang istri, Elisa Kasali.

Metode yang telah dijalankan tersebut diklaim berhasil membentuk anak-anak PAUD dan TK binaannya untuk melewati persoalan pendidikan awal, yakni bernalar sejak dini.

Rhenald Kasali menjelaskan, dalam metode Sentra antara lain anak-anak memainkan peran besar dan bermain peran kecil. Anak-anak bermain menjalankan peran berbagai profesi seperti dokter, guru, pemadam kebakaran, maupun orangtua.

Meski terlihat sederhana, mereka belajar bagaimana berkomunikasi, berinteraksi, saling berbagi, saling menghargai, memupuk empati, bertoleransi, menekan ego ingin menang sendiri, belajar berpikir kritis, menganalisa, dan memecahkan masalah yang dihadapi, hingga belajar mencapai tujuan bersama melalui kolaborasi.

“Ini adalah nilai-nilai dasar yang membentuk seseorang. Jika nilai-nilai dasar itu tidak diajarkan sejak dini, anak-anak bisa tumbuh menjadi remaja yang beringas. Setiap menghadapi permasalahan, tidak diselesaikan dengan cara komunikasi penuh empati dan kreatif mencari solusi, tapi dengan ego tinggi. Akibatnya, tawuran pelajar pecah di mana-mana,” paparnya.

Rhenald Kasali menyebutkan, keberhasilan ini terlihat dari pencapaian anak-anak yang dibimbingnya selama 15 tahun. Meskipun anak tersebut berasal dari kalangan kurang mampu, mereka menunjukkan progres yang membanggakan. “Kami berhasil membentuk apa yang biasa dikenal sebagai higher order thinking skills (HOTS) yang menjadi acuan dalam survei skor PISA (Programme for International Student Assessment, Red),” ujarnya.

Ditambahkan, keberhasilan membentuk karakter anak-anak ini setelah ia bersama istrinya, Elisa Kasali, mempelajari metode pendidikan melalui neuroscience. Dari teori tersebut, diketahui bahwa anak-anak sudah mampu mengenal mana yang baik dan mana yang jahat, atau mana yang lebih baik dalam kehidupan, sejak usia dua tahun.

Yang terjadi selama ini, perhatian guru lebih ditekankan pada konten dan kognisi, sehingga hal-hal dasar yang menjadi penbentuk karakter, disiplin, kemampuan berpikir, dan memahami menjadi terabaikan dan dimatikan. “Ini tentu berakibat fatal bagi pembentukan karakter bangsa, kegairahan belajar yang menyenangkan, bahkan dalam membangun sistematika kerja serta kecakapan hidup yang sangat dibutuhkan dalam membangun bangsa menghadapi tantangan-tantangan baru,” ujarnya. Karena itu para guru atau pendidik yang berada di PAUD binaannya diberi kesempatan pelatihan untuk memahami konsep dasar membimbing anak PAUD dan TK.

“Kenyataannya, level pemahaman sudah bisa dibentuk bersamaan saat anak mulai melatih motorik kasar dan halus, bahasa, maupun rasa percaya diri. Bahkan membangun empati dan jiwa sosial menjadi domain berpikir yang bisa dibangun sambil bermain sejak usia dini,” terangnya.

Rhenald Kasali menyebutkan, taraf pendidikan yang diterima siswa selama ini lebih menitikberatkan pada menghafal, memahami, dan mengaplikasikan. Padahal hal ini merupakan level bawah dan masuk kategori lower order thinking skills (LOTS). Sementara itu, semakin naik levelnya, siswa dituntut untuk bisa berpikir kritis, analitis, memecahkan masalah, dan melakukan evaluasi. “Mayoritas siswa Indonesia ternyata belum mencapai tahap tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, untuk menaikkan level pengetahuan siswa tidak bisa dilakukan secara instan. Untuk membangun daya analitis, critical thinking, dan problem solving, tidak bisa hanya dilakukan melalui uji coba dan les bimbingan belajar sebelum ujian dilakukan. Untuk membangun kemampuan itu dibutuhkan waktu panjang dan harus dilakukan sejak usia dini.

Elisa Kasali menuturkan awal munculnya PAUD dan TK yang dikelola suami istri ini yang dimulai dari kegiatan posyandu di garasi rumah mereka di Jatimurni, Bekasi. Mereka tergerak setelah menyadari betapa jauh kualitas kesehatan dan pendidikan anak Indonesia dibanding dengan di Amerika Serikat (AS). Rhenald sempat menetap di AS bersama istrinya ketika menempuh studi S3 di University of Illinois at Urbana-Champaign.

Elisa menuturkan, setelah Posyandu, muncullah Rumah Baca. Kemudian lahirlah PAUD dan TK yang dinamakan Kutilang. Kutilang ini bukan singkatan. “Kami hanya mengambil filosofinya. Harapan yang kami sematkan semoga kutilang-kutilang kecil itu nanti bisa tumbuh besar menjadi rajawali-rajawali hebat. Rajawali yang akan terbang tinggi mengarungi luasnya alam, lalu kembali turun untuk membangun kehidupan," ujarnya.

Posyandu, Rumah Baca, PAUD, dan TK Kutilang bukanlah kegiatan komersial, melainkan gerakan sosial dari Rumah Perubahan. Sebagian besar muridnya adalah anak-anak yang tinggal di tengah-tengah perkampungan padat penduduk di kawasan Jatimurni, Bekasi.



Sumber: BeritaSatu.com