YIA Targetkan Peningkatan Penumpang 1.400%

YIA Targetkan Peningkatan Penumpang 1.400%
Faik Fahmi. ( Foto: B1/Primus Dorimulu )
Fuska Sani Evani / AB Sabtu, 14 Desember 2019 | 14:38 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Jumlah penumpang Yogyakarta International Airport (YIA) Kulonprogo, Yogyakarta, setelah beroperasi penuh mulai 29 Maret 2020 ditargetkan mencapai rata-rata 600.000 orang setiap bulan. Jumlah tersebut meningkat sekitar 1.400 persen dari jumlah penumpang saat ini yang rata-rata mencapai 40.000 per bulan.

Sejak Mei 2019 sampai 28 Maret 2020, YIA belum beroperasi penuh. Dalam kurun waktu tersebut, tercatat rata-rata lalu lintas 480 pesawat dalam satu bulan. Setelah beroperasi penuh mulai 29 Maret 2020, jumlah lalu lintas akan melonjak menjadi sekitar 7.000 pesawat.

Hal tersebut mengemuka dalam focus group discussion (FGD) bertema “Key Success Factor Optimalisasi YIA Adalah Aksesibilitas yang Baik” yang diselenggarakan Investor Daily di Yogyakarta, Jumat (13/12). Dalam FGD dengan moderator Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH), Primus Dorimulu, narasumber yang hadir, antara lain Direktur Jenderal Bina Marga Kempupera, Sugiyartanto, Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) I, Faik Fahmi, Kadaops 6 PT KAI Eko Purwanto, pengamat kebijakan publik Agus Pambagio dan Edie Haryoto, anggota BPJT Koentjahyo Pamboedi, Direktur Pemasaran dan Pelayanan AP I Devy Suradji, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kulonprogo Lucius Bowo Pristiyanto, serta Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Bappeda DIY, Aris Prasena.

Foto bersama narasumber dan moderator FGD.

Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) I, Faik Fahmi berharap akses menuju YIA bisa berjalan optimal saat beroperasi penuh mulai 29 Maret 2020.

“Semua sudah sesuai jadwal. Tahap pertama adalah pemindahan penerbangan domestik, disusul penerbangan internasional. Seluruhnya dipastikan akan memulai aktivitas pada 29 Maret 2020. Sejumlah maskapai juga akan menambah penerbangan di YIA, tinggal menunggu konfirmasi," katanya.

Dikatakan, proses pembangunan fisik YIA saat ini sudah hampir rampung. Waktu operasional bandara ini pun dipastikan bisa sesuai jadwal, sejalan dengan kereta bandara yang juga beroperasi penuh. Akses transportasi darat menuju YIA yang sudah tersedia diharapkan membuat penumpang menjadi lebih nyaman untuk mengakses bandara baru tersebut.

Menurut Fahmi, YIA akan memboyong 168 penerbangan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Pemindahan penerbangan didahului oleh rute domestik, lalu disusul penerbangan internasional.

Konektivitas
Dirjen Bina Marga, Sugiyartanto mengatakan tugas utama Bina Marga adalah mempersiapkan aksesibilitas untuk konektivitas Bandara YIA. Jaringan jalan sisi selatan siap beroperasi, demikian juga dengan jalan nasional sisi utara sebagai akses masuk ke bandara.

“Hanya mungkin perlu pelebaran jalan yang kita rencanakan akhir tahun 2020 ini selesai,” katanya.

Sugiyartanto.

Lebih jauh dikatakan, jalan lintas bawah (underpass) terpanjang di Indonesia yang dibangun di sekitar Bandara YIA, juga hampir selesai dan akan menjadi pelengkap akses untuk moda transportasi darat dari dan menuju YIA. Pihaknya juga akan mengembangkan jalur darat di wilayah Jawa Tengah dan DIY.

“Posisinya disebut persis berada di bawah kompleks Bandara YIA. Nantinya akan dihiasi dengan mural pewayangan," kata Sugiyartanto.

Underpass tersebut dibangun dalam waktu satu tahun dan di masa mendatang akan dilengkapi jalan tol yang merupakan jaringan tol dari Solo-Yogyakarta ke Purworejo serta dari Semarang Bawen-Yogyakarta yang melewati Magelang, juga Bandara YIA.

Menurut Sugiyartanto, jalan baru menuju YIA tidak semata-mata ditujukan bagi masyarakat yang ingin ke bandara, juga akses menuju kawasan wisata, termasuk Candi Borobudur sebagai destinasi prioritas.

“Misalnya jalan jalur lintas selatan, selain sebagai jalan utama menuju YIA, jalur tersebut juga membuka akses menuju kawasan wisata di Gunungkidul dan Bantul, termasuk kawasan selatan Jawa Tengah,” terangnya.

Sinkronisasi
Pada kesempatan tersebut, pengamat kebijakan publik, Edie Haryoto mengusulkan pembentukan wadah khusus terpadu untuk menyinkronkan transportasi publik sebagai public service obligation (PSO) dari Angkasa Pura I dengan PT KAI. Angkasa Pura bisa membentuk anak perusahaan yang bertujuan menyatukan moda transportasi massa menjadi satu kesatuan.

“Desain ini harus dilakukan sejak awal dengan duduk bersama untuk menyinkronkan moda transportasi,” ujarnya.

Sejumlah negara maju, lanjutnya, sudah menerapkan kesatuan antara bandara dengan stasiun kereta api, sehingga wisatawan asing yang ingin menuju kota lain tidak perlu keluar bandara.

“Kereta api dan bandara bukan musuh, tetapi harus bersinergi,” ujarnya.

Edie Haryoto juga berharap Pemprov DIY memberi perhatian pada YIA dalam upaya mengembangkan perekonomian di wilayah tersebut.

“YIA memiliki arti penting untuk perekonomian DIY, karena ada investasi besar pembangunan bandara, jalan tol, dan kereta api bandara yang menimbulkan multiplier effect,” ujarnya.

Kempupera, BPJT, Ditjen Perkeretaapian Kemhub, serta Pemprov DIY dan Jawa Tengah, selayaknya memberikan prioritas tinggi untuk pembangunan jalan tol di dekat YIA dan pengoperasian kereta api bandara yang tepat waktu, serta fasilitas lain, seperti pengaturan rambu lalu lintas, serta pelebaran jalan nasional dan jalan alternatif.

“Angkasa Pura perlu berkoordinasi dengan PT KAI, Damri, serta operator travel untuk menyusun jadwal yang cocok antara kedatangan dan keberangkatan penumpang di YIA, jadwal kereta api, dan jadwal bus atau minibus. Semua itu demi kelancaran penumpang di bandara,” katanya.

Pandangan yang sama juga disampaikan Kadaops 6 PT KAI, Eko Purwanto. Menurutnya, mulai 1 Desember 2019, perjalanan kereta api Bandara YIA mencapai 24 kali pergi dan pulang. Jumlah ini terdiri atas 20 perjalanan dari Stasiun Yogyakarta menuju Stasiun Wojo, ditambah empat perjalanan dari Stasiun Yogyakarta menuju Stasiun Kebumen. Dari Stasiun Wojo, penumpang dapat memanfaatkan bus Damri menuju YIA.

Dari Yogyakarta, kereta bandara juga akan berhenti di Wates dan Kutoarjo, sebelum berhenti di stasiun akhir, Stasiun Kebumen.

“Sebelum Bandara YIA beroperasi penuh, penumpang masih tertangani. Jika estimasi penumpang YIA akan mencapai 600.000 per bulan, maka akan menjadi persoalan tersendiri bagi KAI, sebab rel KA bandara masih menjadi satu dengan kereta api reguler,” katanya. 

 



Sumber: Suara Pembaruan