Optimalkan Lahan, Singkong Bisa Jadi Tabungan Petani

Optimalkan Lahan, Singkong Bisa Jadi Tabungan Petani
Panen perdana singkong unggul di Maumere, Sikka, NTT.
Heri Soba / HS Minggu, 15 Desember 2019 | 15:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tanaman singkong (ubi kayu) yang sudah akrab dengan masyarakat Indonesia mempunyai potensi besar untuk dikembangkan, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain untuk konsumsi lokal, singkong bisa dikembangkan untuk berbagai produk turunan yang bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Singkong bisa menjadi tabungan bagi para petani.

Potensi tersebut mendorong Tommy Djari selaku Direktur CV Mitco untuk terus berupaya membangun kemitraan mengembangkan singkong. Tommy yang juga pelaku usaha ini semakin tertarik dengan singkong karena kondisi tanah dan alam di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat cocok dengan singkong.

“Sejak 4 tahun terakhir ini saya pelajari singkong di beberapa daerah Jawa hingga ke Sumatera Utara. Kondisi alam dengan lahan kering di Sikka atau secara umum Pulau Flores dan NTT sebenarnya cocok untuk singkong,” jelasnya belum lama ini ketika panen perdana singkong unggul di rumah jabatan Bupati Sikka.

Untuk itu, dia terus mendorong kemitraan budidaya dan pengembangan singkong dengan sejumlah petani di Sikka. Singkong dengan berbagai varietas unggul diyakini bisa memberikan hasil yang lebih baik dan menambah penghasilan petani. Jadi, dengan kondisi lahan kering dan musim hujan yang minim, singkong sebenarnya bisa mejadi tabungan keluarga di NTT secara umum.

“Singkong bisa untuk konsumsi rumah tangga, diolah, atau dijual dengan harga yang layak. Singkong juga bisa menjadi tabungan yang paling bagus bagi petani. Simpan uang Rp 5 juta di bank belum dalam 10 bulan bisa dapat 10 juta, tetapi dengan menanam singkong maka paling apes itu minimal bisa menjadi Rp 15 juta dalam satu siklus,” ujar Tommy.

Hal senada disampaikan Matheus sebagai petani singkong yang juga mitra dari Tommy Djari. Ada beberapa varietas unggul yang sudah dicoba untuk dikembangkan dan memberikan hasil yang optimal.
“Singkong lokal yang dikembangkan dengan baik juga hasilnya bagus. Ada beberapa varietas unggul lainnya seperti Gajah dan Malang juga sudah bisa kami kembangkan,” jelas Matheus yang juga ketua sebuah kelompok tani di Kecamatan Koting.

Sebelumnya, Wani Hadi Utomo yang juga guru besar budidaya pertanian dari Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur mengatakan potensi singkong masih sangat besar untuk dikembangkan di seluruh Indonesia. Sayangnya, menurut Rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi ini, komitmen untuk mengembangkan singkong ini masih sangat minim. Dia bersama beberapa rekannya melakukan uji coba singkong di beberapa daerah, termasuk di Kabupaten Sikka, dalam program ACIAR Cassava Livehoods and Value Chain Program.



Sumber: Suara Pembaruan