Berbekal Tekad Mengubah Nasib, 3 Penerima PKH di Balangan Raih GSM

Berbekal Tekad Mengubah Nasib, 3 Penerima PKH di Balangan Raih GSM
Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Andi Hanindito mewakili Menteri Sosial menyerahkan piagam penghargaan kepada 3 penerima yang telah keluar dari PKH di Kabupaten Balangan. ( Foto: Istimewa )
Rully Satriadi / RSAT Senin, 16 Desember 2019 | 10:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Sosial memberikan piagam penghargaan kepada tiga keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) yang telah keluar dari kepesertaan PKH atau biasa disebut Graduasi Sejahtera Mandiri (GSM). Mereka adalah Mila (37), Saidah (44), dan Anita (27) yang berkat tekad kuatnya untuk mengubah nasib, akhirnya bisa keluar dari PKH.

Piagam Penghargaan diserahkan oleh Menteri Sosial yang diwakili Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Andi Hanindito di acara Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial (LBKS) yang menjadi bagian dari peringatan Hari Kesetiakawanan Nasional 2019, di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, Minggu (15/12/2019).

Selain itu Kementerian Sosial juga memberikan penghargaan kepada tiga anak berprestasi di Kabupaten Balangan yang merupakan anak dari ibu penerima PKH. Mereka menerima penghargaan bersama penerima berbagai bantuan yakni Kelompok Usaha Bersama (KUBE), Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Sarana Lingkungan (Sarling), bantuan sembako, bantuan alat bantu disabilitas, serta penyerahan secara simbolis pemberian buku nikah dan akte kelahiran untuk KPM PKH.

Hadir dalam acara tersebut Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor, Bupati Balangan Ansharuddin, Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Kementerian Sosial Andi Hanindito, Ketua Umum HKSN Bambang Muryadi, dan segenap warga Kabupaten Balangan.

"Saya sudah bertekad harus bisa menjahit. Supaya bisa membantu ekonomi keluarga," tutur Mila membuka percakapan. Perempuan yang tinggal di Desa Bungin, Kecamatan Paringin Selatan ini berprofesi sebagai penjahit pakaian.

Sekitar tahun 2014, awalnya ikut kursus menjahit beberapa kali di tempat yang berbeda. Kemudian memberanikan diri untuk menerima jahitan dari tetangga sekitar, dimulai dari menerima jasa permak baju, seragam, dan gamis. Dia mendapatkan ongkos Rp 20 ribu.

Seiring berjalannya waktu, usaha jasa jahit yang ditekuni Mila semakin dikenal masyarakat. Puncak pesanan biasanya saat anak-anak sekolah memasuki tahun ajaran baru di mana orangtua bisanya menjahit baju seragam sekolah.

"Alhamdulillah sekarang makin ramai, penghasilan lambat laun meningkat. Itulah yg membuat saya yakin untuk mengundurkan diri dari PKH," katanya.

Pendapatan dari menjahit sebagian ditabung untuk keperluan sekolah anak-anak, dan sebagian untuk keperluan dapur. Pengelolaan keuangan ini, ia pelajari dari kegiatan Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) yang dilakukan sebulan sekali dengan bimbingan pendamping PKH. Melalui Pendamping PKH juga, ia mendapat kesempatan lebih luas mengikuti kursus-kursus menjahit secara gratis.

Hal senada diceritakan Anita, warga Desa Teluk Mesjid Kecamatan Batumandi. Ibu satu anak ini hanya satu tahun menjadi KPM PKH kemudian memutuskan untuk keluar dari kepesertaan PKH.

"Saya jualan soto dan sate. Awalnya hanya membantu orang tua. Tapi setelah dapat bantuan PKH saya sisihkan sebagian untuk modal usaha," kata Anita.

Ia sehari-hari berjualan di pasar mulai jam 06.00 -10.00 pagi. Untuk menambah penghasilan, ia juga berjualan online baju, tas, dan perlengkapan rumah tangga. "Kini omset penjualannya mencapai Rp 3,5 juta per bulan," ujarnya.

Inspirasi
Menteri Sosial Juliari P. Batubara mengatakan kehadiran KPM PKH yang telah keluar dari kepesertaan karena mandiri, akan menjadi inspirasi bagi KPM PKH lainnya. Kementerian Sosial, lanjutnya, juga terus berupaya agar penerima bansos PKH menjadi berdaya dan mandiri melalui berbagai program pemberdayaan sosial.

"Pemberian bansos tidak diarahkan untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar. Namun juga untuk memperkuat pemberdayaan dan ketahanan sosial masyarakat dalam menghadapi berbagai goncangan, dampak dari bencana alam, dan sebagainya,” kata Mensos.

PKH adalah program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada keluarga prasejahtera yang ditetapkan sebagai KPM PKH. Sebagai sebuah program bantuan sosial bersyarat, PKH membuka akses keluarga miskin terutama ibu hamil dan anak untuk memanfaatkan berbagai fasilitas layanan kesehatan (faskes) dan fasilitas layanan pendidikan (fasdik) yang tersedia di sekitar mereka. Manfaat PKH juga mulai didorong untuk mencakup penyandang disabilitas dan lanjut usia dengan mempertahankan taraf kesejahteraan sosialnya sesuai dengan amanat konstitusi.

Melalui PKH, keluarga prasejahtera didorong untuk memiliki akses dan memanfaatkan pelayanan sosial dasar kesehatan, pendidikan, pangan dan gizi, perawatan, dan pendampingan, termasuk akses terhadap berbagai program perlindungan sosial lainnya yang merupakan program komplementer secara berkelanjutan. PKH diarahkan untuk menjadi episentrum dan center of excellence penanggulangan kemiskinan yang mensinergikan berbagai program perlindungan dan pemberdayaan sosial nasional.

Dalam pelaksanaan LBKS tahun 2019, KPM PKH Graduasi Sejahtera Mandiri dan Anak Berprestasi selalu dihadirkan di setiap etape. Dihadirkan pula ratusan KPM PKH untuk bersama-sama mengikuti kegiatan sekaligus dan mendapat beragam bantuan pemerintah.

Tim ekpedisi LBKS Lintas Banua Bergerak menempuh enam etape secara estafet dimulai pada 14 Desember - 19 Desember 2019 dengan rute Kabupaten Tabalong, Kabupaten Balangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjar, dan berakhir di Kota Banjarmasin.



Sumber: Suara Pembaruan