Pengusaha Jambi Didorong Masuk Jaringan Perdagangan Malaysia ddan Thailand

Pengusaha Jambi Didorong Masuk Jaringan Perdagangan Malaysia ddan Thailand
Gubernur Jambi, Fachrori Umar (tiga dari kiri) dan Direktur Sub Regional Cooperation Centre of Indonesia Malaysia Thailand-Growth Triangle (CIMT – GT), Firdaus Dahlan (empat dari kiri pada pertemuan dengan Delegasi Forum CIMT-GT di Kota Jambi, Jumat (13/12) ( Foto: Suara Pembaruan / Radesman Saragih )
Radesman Saragih / JEM Selasa, 17 Desember 2019 | 12:39 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Provinsi Jambi termasuk salah satu daerah di Sumatera yang hingga kini masih mengalami kesulitan pemasaran hasil-hasil perkebunan ke luar negeri. Hasil-hasil perkebunan Jambi, khususnya karet, kelapa sawit dan kopi selama ini masih sulit dipasarkan langsung ke luar negeri karena pengusaha industri perkebunan di Jambi belum memiliki kerja sama yang baik dengan para pengusaha negara – negara lain.

Menyikapi masalah tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi kini meningkatkan jalinan kerja sama dengan negara – negara tetangga, khususnya Malaysia dan Thailand. Salah satu kerja sama perdagangan yang dimanfaatkan Pemprov Jambi membuka peluang ekspor hasil – hasil perkebunan Jambi, yakni kerja sama dengan pusat segitiga perkembangan Indonesia, Malaysia, Thailand (Centre of Indonesia Malaysia Thailand-Growth Triangle (CIMT-GT).

“Tindak lanjut kerja sama CIMT-GT ini suha kami lakukan dengan memfasilitasi pertemuan para delegasi pengusaha perkebunan dan investor Indonesia, Malaysia dan Thailand di Jambi akhir pekan lalu. Pertemuan tersebut tindak lanjut dari pertemuan gubernur se-Sumatera dengan para menteri di Thailand September lalu. Melalui CIMT-GT, ekspor hasil-hasil industri perkebunan Jambi bisa ditingkatkan. Dengan demikian kelesuan ekonomi petani dan pengusaha perkebunan di Jambi selama ini akibat kesulitan pemasaran dan rendahnya harga bisa segera teratasi,”kata Gubernur Jambi, Fachrori Umar pada pertemuan CIMT-GT di Jambi, akhir pekan lalu.

Menurut Gubernur Jambi, Pemprov Jambi akan mendorong para pelaku usaha di Provinsi Jambi untuk memanfaatkan peluang yang ditawarkan dalam kerja sama CIMT-GT. Pengusaha di Jambi perlu memanfaatkan peluang kerja sama perdagangan CIMT-GT, sebab kerja sama tiga negara Indonesia, Malaysia dan Thailand (IMT) tersebut bertujuan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di wilayah IMT melalui peningkatan perdagangan, ekspor dan investasi. Daerah di Sumatera yang masuk dalam kerja sama CIMT-GT tersebut, yakni Aceh, Bangka-Belitung, Bengkulu, Jambi, Lampung, Sumatera Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

“Saya berharap para pelaku usaha di Jambi menangkap pelkuang yang ditawarkan dalam kerja sama CIMT-GT ini. Pemorv Jambi siap memfasilitasi kerjasama yang akan dibangun oleh pemerintah ataupun swasta dengan pelaku usaha yang ada di Malaysia, Thailand, maupun di Indonesia,”ujarnya.

Sementara itu, Direktur Sub Regional Cooperation CIMT – GT, Firdaus Dahlan pada kesempatan tersebut mengatakan, pihaknya ingin menjalin kerja sama dengan daetrah – dearth di Sumatera di bidang perdagangan dan investasi.

Berdasarkan hasil pertemuan delegasi CIMT – GT dengan para pengusaha di Jambi, lanjut Firdaus Dahlan, ternyata Jambi memiliki potensi usaha perkebunan yang besar, terutama di bidang perkebunan karet, sawit dan kopi. Melalui kerja sama CIMT – GT, hasil – hasil industri perkebunan Jambi bis alebih mudah dipasarkan ke Thailand dan Malaysia.

Ditambahkan, selain membantu pemasaran hasil perkebunan daerah di Sumatera, salah satu program CIMT – GT yang kini diupayakan bisa segera dikembangkan di Sumatera, yakni pengembangan wilayah berwawasan lingkungan, Kota Hijau (Green Cities). Selain itu CIMT – GT juga berupaya membangun infrastruktur, pendidikan dan juga industri di beberapa daerah di Sumatera.

Firdaus Dahlan lebih lanjut mengatakan, melalui kerja sama CIMT – GT, para pebisnis di Jambi bisa mengambil peluang kerja sama, terutama dalam mengambil kesempatan mendapatkan bantuan dari mitra CIMT –GT. Bantuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk dukungan perencaan pembangunan kota.

 

 

 



Sumber: Suara Pembaruan