Mahasiswa Sulteng Tolak Pengerukan Danau Poso

Mahasiswa Sulteng Tolak Pengerukan Danau Poso
Aliansi Mahasiswa Sulawesi Tengah di Yogyakarta menolak proyek pengerukan Danau Poso. Sikap itu disampaikan melalui aksi unjuk rasa yang dilakukan di titik 0 Kilometer Kota Yogyakarta, Minggu, 22 Desember 2019. ( Foto: Istimewa )
Jeis Montesori / JEM Senin, 23 Desember 2019 | 17:49 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Aliansi Mahasiswa Sulawesi Tengah di Yogyakarta menolak proyek pengerukan Danau Poso. Sikap mahasiswa asal Sulawesi Tengah yang sedang kuliah di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta itu disampaikan melalui unjuk rasa yang dilakukan di titik 0 Kilometer, Kota Yogyakarta, Minggu (22/12/2019).

Sikap tersebut disampaikan menyusul program penataan Sungsi Danau Poso sepanjang 12,8 kilometer yang dilakukan PT Poso Energy, perusahaan milik keluarga Jusuf Kalla.

Diketahui, Poso Energy merupakan pemilik pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Poso I & Poso II bersumber dari air Danau Poso. PT Poso Energy memasok listrik ke jaringan distribusi PLN wilayah Suluteng & PLN Wilayah Sulselra.

Salah satu kegiatan dari program penataan danau yang ditentang para mahasiswa adalah pengerukan Sungai Danau Poso.

Dalam aksi protes yang diikuti puluhan mahasiswa tersebut, mereka mengajukan beberapa tuntutan. Di antaranya, pemerintah harus mengkaji ulang pengerukan Danau Poso.

"Kami meminta lembaga-lembaga ilmiah seperti LIPI harus melakukan kajian terhadap dampak ekologis pengerukan Danau", tutur Andi Azis kordinator aksi.

Azis menganggap pengerukan Danau Poso akan mengancam keanekaragaman hayati salah satu danau terbesar di Sulawesi tersebut.

Para demonstran mendesak pemerintah segera menghentikan pengerukan dan reklamasi di sungai Danau Poso. Karena kegiatan-kegiatan tersebut merugikan warga di sekitar danau.

"Saya menolak Danau Poso yang menjadi sumber kehidupan masyarakat banyak, tetapi dimanfaatkan demi kepentingan Poso Energy", tegas Else, seorang peserta aksi, yang dihubungi dari Jakarta.

Mahasiswi UKDW Yogyakarta ini menganggap pengerukan sebagai bagian dari privatisasi Danau Poso.

"Praktik ini hanya menguntungkan kaum kapitalis dan merugikan petani dan nelayan kecil di danau tersebut", urai Else.

Dalam siaran persnya, Aliansi Mahasiswa Sulteng menyebut bahwa salah satu kerugian yang dialami warga adalah ancaman terhadap tradisi Wayamasapi.

Catatan Suara Pembaruan, bahwa tradisi ini merupakan teknik penangkapan ikan di Danau Poso yang menggunakan bambu. Tradisi ini menjadi sumber utama matapencaharian warga di sana.



Sumber: Suara Pembaruan