Antisipasi Ancaman Terorisme, PT MRT Gandeng BNPT

Antisipasi Ancaman Terorisme, PT MRT Gandeng BNPT
Deputi II Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT Irjen Pol Budiono Sandi (kanan) dan Direktur Utama William P Sabandar berjabat tangan seusai penandatanganan kerja sama di Kantor PT MRT Jakarta, Gedung Wisma Nusantara, Jakarta, Sabtu (21/12/2019). ( Foto: istimewa )
/ BW Senin, 23 Desember 2019 | 20:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Untuk mengantisipasi aksi terorisme di sektor transportasi, PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

BNPT, dalam keterangan tertulisnya, Senin (23/12/2019), menyebutkan, penandatanganan kerja sama antara BNPT dan PT MRT ini dilakukan oleh dua kedeputian BNPT, yakni Deputi I (Bidang Pencegahan Perlindungan dan Deradikalsiasi) Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis dan Deputi II (Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan) Irjen Pol Budiono Sandi. Dari PT MRT dilakukan oleh Direktur Utama William P Sabandar. Penandatanganan dilakukan di Kantor PT MRT Jakarta, Gedung Wisma Nusantara, Jakarta.

Dalam penjelasannya, Hendri Paruhuman Lubis mengatakan, MRT merupakan moda transportasi baru sebagai ikon kota Jakarta yang menjadi harapan, baik dari masyarakat maupun dari pemerintah Jakarta.

MRT diharapkan dapat menyediakan pelayanan yang baik bagi masyarakat dengan memberikan rasa aman dan nyaman bagi penggunanya.

"Dengan penyediaan lintasan layang dan underground diharapkan dapat menjadi pilihan masyarakat dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Sehingga, dapat mengurangi kemacetan dan polusi yang sudah menjadi masalah di Ibu Kota beberapa tahun terakhir," ujar Hendri.

Meskipun demikian, menurut alumnus Akmil tahun 1986 ini, sebagai salah satu moda transportasi yang memiliki tingkat aktivitas yang cukup tinggi, MRT rentan terhadap ancaman aksi terorisme.

Menurut dia, para pelaku teror tentunya senantiasa berusaha mencari titik lemah dari sebuah sistem pengamanan yang akan dijadikannya sebagai celah masuk untuk melaksanakan aksinya.

"Pengelola transportasi memiliki peran yang sangat penting dalam kelancaran, keamanan, dan kenyamanan bagi pengguna MRT. Tentunya hal-hal yang berkaitan secara fisik harus dijaga," ujarnya.

Deputi I juga mengingatkan kepada jajaran pimpinan PT MRT bahwa bukan hanya ancaman terhadap fisik saja yang menjadi perhatian, melainkan ancaman nonfisik juga harus menjadi perhatian.

Nonfisik yang dimaksud Deputi I BNPT adalah para pegawai atau karyawan PT MRT ini sendiri jangan sampai terpapar paham radikal terorisme, tanpa sepengetahuan dari unsur pimpinan PT MRT.

Deputi II BNPT Irjen Pol Budiono Sandi mengatakan, pihaknya siap membantu PT MRT Jakarta dalam memberikan pelatihan mitigasi terhadap ancaman serangan terorisme yang bisa saja terjadi di area publik (stasiun) dan area kerja (Depo) yang menjadi area operasional PT MRT Jakarta.

Dirut PT MRT Jakarta William P Sabandar menjelaskan, penandatangan kerja sama tersebut sebagai bentuk untuk mengantisipasi ancaman aksi terorisme di sektor transportasi, khususnya MRT Jakarta.

"Maksud dan tujuan dari kerja sama ini, tentunya adalah untuk memastikan dan meningkatkan keamanan dari seluruh fasilitas yang ada di wilayah operasional PT MRT Jakarta, khususnya dalam kaitan dengan bahaya ancaman terorisme,” ujar William.

Lingkup dalam kerja sama tersebut meliputi analisis dan evaluasi penanggulangan terorisme, penyusunan standardisasi penanggulangan terorisme, latihan penanganan ancaman terorisme, sosialisasi pencegahan terorisme yang dilakukan, baik di stasiun dan depo.

Selain itu, lingkup lain yang termasuk dalam kerja sama tersebut, yakni pertukaran data dan informasi dalam rangka penanggulangan terorisme dan kegiatan lain yang disepakati oleh kedua belah pihak.



Sumber: ANTARA