Kasus Jiwasraya, Komisi VI Akan Panggil Akuntan Publik PWC

Kasus Jiwasraya, Komisi VI Akan Panggil Akuntan Publik PWC
Ilustrasi Jiwasraya. ( Foto: Antara / Galih Pradipta )
Yudo Dahono / YUD Minggu, 29 Desember 2019 | 18:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) Andre Rosiade menyatakan, tak menutup kemungkinan pihaknya bakal memanggil auditor dari kantor akuntan publik (KAP) termasuk PricewaterhouseCoopers, yang masih menggambarkan bahwa Jiwasraya masih untung.

"Kita akan panggil PwC dan semua pihak seandainya Pansus terbentuk. Yang jelas saat ini prioritas adalah Rapat Gabungan Komisi VI dan XI yang dihadiri Menteri BUMN, Menteri Keuangan, Jiwasraya, OJK," ujar Andre, Minggu (29/12/2019).

Pansus itu, kata Andre, akan dibentuk setelah masa reses DPR berakhir pada Januari 2020 mendatang. "Pansus tergantung hasil rapat gabungan pertengahan Januari ini," bebernya.

KAP yang mengaudit laporan keuangan Jiwasraya diduga melakukan kelalaian. "KAP juga enggak bener. KAP masa enggak bisa menemukan masalah itu, sehingga ketika ganti direksi 2018 baru tercium," jelasnya.

Pada 2006-2012, KAP yang ditunjuk adalah KAP Soejatna, Mulyana, dan Rekan. Sementara sejak 2010-2013, KAP Hertanto, Sidik dan Rekan. Pada 2014-2015, KAP Djoko, Sidik dan Indra. Lalu 2016-2017, PricewaterhouseCoopers (PwC).

PwC memberikan opini wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan konsolidasian PT Asuransi Jiwasyara (Persero) dan entitas anaknya pada tanggal 31 Desember 2016. Laba bersih Jiwasraya yang dimuat dalam laporan keuangan yang telah diaudit dan ditandatangani oleh auditor PwC tanggal 15 Maret 2017 itu menunjukkan laba bersih tahun 2016 adalah sebesar Rp 1,7 triliun. Sementara itu laba bersih Jiwasraya menurut laporan keuangan auditan tahun 2015 adalah Rp 1,06 triliun.

Pada 10 Oktober 2018, Jiwasraya mengumumkan tak mampu membayar klaim polis JS Saving Plan yang jatuh tempo sebesar Rp 802 miliar. Seminggu kemudian Rini Soemarno yang menjabat sebagai Menteri Negara BUMN melaporkan dugaan fraud atas pengelolaan investasi Jiwasraya.

Audit BPK selama 2015-2016 menjadi rujukan. Dalam audit tersebut disebutkan investasi Jiwasraya dalam bentuk medium term notes (MTN) PT Hanson International Tbk (MYRX) senilai Rp 680 miliar, berisiko gagal bayar. Berdasarkan laporan audit BPK, perusahaan diketahui banyak melakukan investasi pada aset berisiko untuk mengejar imbal hasil tinggi, sehingga mengabaikan prinsip kehati-hatian.

Pada 2018, sebesar 22,4% atau Rp 5,7 triliun dari total aset finansial perusahaan ditempatkan pada saham, tetapi hanya 5% yang ditempatkan pada saham LQ45. Lalu 59,1% atau Rp 14,9 triliun ditempatkan pada reksa dana, tetapi hanya 2% yang dikelola oleh top tier manajer investasi. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan kerugian hingga modal Jiwasraya minus. Negara diperkirakan mengalami kerugian hingga Rp 13,7 miliar.

Kendati demikian, Andre mengungkapkan bahwa beberapa minggu lalu, Komisi VI DPR RI juga telah memanggil manajemen PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Saat itu, mempertanyakan uang masyarakat yang sudah jatuh tempo.

"Jiwasraya sudah konsolidasi. Mereka sudah menyiapkan uang Rp 5 triliun, yang akan dibayarkan ke nasabah yang sudah jatuh tempo secara prioritas," tutup Andre.



Sumber: BeritaSatu.com