Makanan Berformalin Diduga Marak Jelang Akhir Tahun

Makanan Berformalin Diduga Marak Jelang Akhir Tahun
Polisi tengah memeriksa barang bukti mie berformalin yang disita dari pabrik di wilayah Cianjur, Selasa (17/9/2019) (Foto: Dok Polres Cianjur)
Heriyanto / HS Senin, 30 Desember 2019 | 07:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Kebutuhan bahan baku makanan dan minuman menjelang libur panjang akhir tahun biasanya meningkat. Kesempatan ini biasanya digunakan para pemasok dan agen/distributor kebutuhan rumah tangga itu meraup keuntungan. Salah satu cara yang digunakan adalah menggunakan formalin agar bahan baku makanan bisa bertahan lama.

Informasi yang diperoleh SP di Jakarta, Minggu (29/12), menyebutkan pemanfaatan formalin dan boraks agar bahan pangan dan makanan siap olah bisa bertahan lama. Adapun bahan pangan dan makanan yang biasa menggunakan formalin seperti mie, ikan, daging, dan tahu. Langkah itu dilakukan agar stok bahan pangan dan makanan yang disiapkan bisa bertahan lama dari biasanya. Kondisi itu dilakukan agar stok yang disiapkan menjelang libur akhir tahun bisa dijual habis.

“Biasanya stok bahan baku yang dibeli cukup banyak sehingga harus disiasati bisa bertahan lama. Mie yang biasanya hanya bertahan 2-3 hari, jika diformalin bisa mencapai seminggu. Demikian juga pada tahu yang sudah marak dilakukan penggerebekan,” ujar sumber SP.

Untuk itu, konsumen dan calon pembeli diminta lebih waspada dalam membeli sejumlah stok bahan pangan untuk kebutuhan keluarga tersebut. Sedangkan pemantauan terhadap perdagangan dan distribusi kebutuhan dan bahan makanan tersebut memang tidak begitu banyak. Umumnya, para petugas hanya intens melakukan pengawasan dan razia beberapa pekan sebelum hari raya atau libur nasional.

Dari pantauan di kawasan Jabodetabek, upaya menekan peredaran makanan yang mengandung formalin sempat dilakukan pada awal Desember. Itupun hanya di beberapa sentra pasar yang tidak dilakukan secara rutin.
Dua pekan lalu, seperti diberitakan media lokal, inspeksi mendadak (sidak) di Kota Tangerang, Banten, yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan, Satpol PP, Dinas Kesehatan, hingga pihak kepolisian menemukan tujuh panganan segar dan lima panganan olahan yang mengandung formalin.

"Untuk dinas ketahanan pangan ambil pangan segar dari perikanan dan peternakan diambil sampel 207 sample ada 7 sampel yang positif mengandung formalin. Sementara olahan pangan seperti tahu, kue pia dan nugget diambil 16 sample, tiga positif formalin," jelas Kepala Dinas Ketahanan Pangan Tangerang, Abduh Surahman.

Sebelumnya, aparat menemukan tahu mengandung formalin di pasar tradisional wilayah Kecamatan Sindang Jaya dan Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten. Petugas melakukan pengujian cepat guna memastikan kandungan bahan berbahaya seperti formalin, boraks, metanyl yellow dan rhodamin B. Hasilnya, ditemukan kandungan positif formalin pada sampel produk pangan jenis tahu putih.

Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mengklaim terus mengintensifkan pengujian pangan di pasar tradisonal maupun pasar modern yang tersebar di seluruh wilayah Ibukota. Sejauh ini ada tiga laboratorium pangan milik Pusat Promosi dan Sertifikasi Hasil Pertanian, Pusat Pelayanan Kesehatan Hewan dan Peternakan serta Pusat Produksi, Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan dioperasikan untuk mendukung pelaksanaan pengawasan dan pengujian pangan segar.



Sumber: Suara Pembaruan