Fenomena Tanah Ambles Kembali Terjadi di Gunung Kidul

Fenomena Tanah Ambles Kembali Terjadi di Gunung Kidul
Fenomena tanah ambles terjadi di Dusun Karangawen, Desa Karangawen, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul. Tanah ambles memiliki lebar sekitar tiga meter dengan kedalaman lima meter. ( Foto: Antara / Sutarmi )
/ YUD Senin, 6 Januari 2020 | 17:26 WIB

Gunung Kidul, Beritasatu.com - Fenomena tanah berlubang atau tanah ambles kembali terjadi di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Fenomena tersebut terjadi di lahan persawahan milik Jumadi di Dusun Karangawen, Desa Karangawen, Kecamatan Girisubo.

Kepala Dusun Karangawen, Yuono di Gunung Kidul, Senin (6/1/2020), mengatakan tanah berlubang atau tanah ambles pertama diketahui oleh penggarab sawah Rajiman dan Rukiyem saat keduanya ke ladang untuk melihat tanaman padi.

"Tanah berlubang atau tanah ambles diperkirakan sejak Jumat (3/1) pada saat itu hujan deras yang mengguyur Kecamatan Girisubo. Fenomena tanah ambles ditemukan pada Sabtu (4/1) pagi oleh penggarap sawah Rajiman dan Rukiyem," kata Yuono.

Ia mengatakan tanah ambles memiliki lebar sekitar tiga meter dengan kedalaman lima meter. Lokasi tersebut muncul sekitar 20-an meter dari lokasi, bekas tanah ambles yang terjadi pada 2018.

"Di sini dulunya ada luweng yang berada di dekat telaga itu. Tetapi sudah tertutup tanah, mungkin satu jalur, sehingga menyebabkan tanah ambles. Kemungkinan juga disebabkan hujan deras dengan intensitas tinggi mempercepat tanah ables," katanya.

Yuono mengakui di Dusun Karangawen sejak beberapa tahun terakhir muncul lima lubang di tanah ladang. Saat ini, bekas tanah yang berlubang itu ditanami tumbuhan, agar tidak didekati petani seperti rumput gajah yang tumbuh subur.

"Tanah ambles tidak mengganggu aktivitas petani untuk bercocok tanam dan kegiatan pertanian lainnya," katanya.

Sementara itu, dibekas lubang tanah ambles pada 2018, tempat di Dusun Gilangan sekitar 300 meter dari lokasi ditanami pisang oleh pemiliknya.

"Tidak jauh dari lokasi terdapat papan imbauan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bila daerah tersebut rawan ambles," katanya.



Sumber: ANTARA