Yogyakarta Memiliki Potensi untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi

Yogyakarta Memiliki Potensi untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi
Hilman Tisnawan, Pengarah Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Yogyakarta dan Kepala Perwakilan BI DIY. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Selasa, 7 Januari 2020 | 20:59 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dinilai memiliki banyak potensi untuk bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada 2020. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi DIY di atas 6% atau lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang berkisar pada angkat 5%.

Hal itu menjadi benang merah pendapat tim ahli Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) cabang Yogyakarta terkait prospek bisnis dan ekonomi 2020 di Yogyakarta, Selasa (7/1/2020). Sesuai tradisi, setiap awal tahun ISEI cabang Yogyakarta melakukan kegiatan untuk menjaring pendapat dari sejumlah pengurus dan anggotanya.

Pengarah ISEI Yogyakarta yang juga Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Hilman Tisnawan merasa yakin bahwa ekonomi DIY pada tahun ini dapat tetap tumbuh dengan baik dan semakin berkualitas.

“Di tengah-tengah perekonomian global yang belum membaik dan bayang-bayang perang dagang AS-Tiongkok yang belum kunjung ada kejelasan, ditambah dengan pesatnya perkembangan teknologi digital yang mengubah secara eksponensial berbagai sendi kehidupan, dengan segala tantangan dan peluangnya, ekonomi DIY akan tetap tumbuh,” ujarnya.

Keyakinan itu muncul karena DIY memiliki potensi, seperti sumber daya manusia (SDM) yang unggul, pelaku UMKM yang sangat banyak dan unggul, destinasi wisata yang semakin atraktif bagi turis, bandara internasional baru di Kulonprogo dengan segala peluangnya, serta warisan budaya yang sangat kaya luar biasa. Untuk itu, Hilman mengingatkan, segala sumber daya itu harus mampu dioptimalkan untuk menjadi sebuah kekuatan pertumbuhan ekonomi DIY yang semakin inklusif.

“Artinya, 2020 adalah tahun tantangan sekaligus peluang bagi DIY untuk tumbuh lebih baik lagi,” ujar Hilman.

Pengarah ISEI Yogyakarta lainnya yang juga Kepala OJK DIY, Untung Nugroho mengatakan, pihaknya juga optimistis bahwa tahun ini perekonomian DIY akan tumbuh dengan baik. Seiring dengan itu, ujarnya, secara umum industri keuangan DIY akan tumbuh dengan baik walaupun persaingan akan semakin ketat.

“Khusus bagi BPR dan BPRS perlu meningkatkan kualitas layanan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan teknologi informasi. Itu semua perlu dibangun dengan permodalan yang cukup,” tuturnya.

Sekretaris ISEI Yogyakarta yang juga dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomi Universitas Atmajaya Yogyakarta, Y Sri Susilo mengatakan, pertumbuhan ekonomi DIY pada 2019 lebih dari 6% atau di atas rata-rata nasional yang berkisar 5%. Pertumbuhan ekonomi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh pembangunan infrastruktur, khususnya pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta di Kulonprogo.

Kontribusi sektor pariwisata serta sektor pendidikan dan ikutannya juga cukup signifikan. Pembangunan Bandara Kulonprogo hampir selesai. Ke depan, juga harus dicari sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi bagi DIY. Ekonomi kreatif, termasuk ekonomi digital, perlu didorong dan dikembangkan secara signifikan agar dapat menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi di DIY,” ujarnya.

Pengurus ISEI Yogyakarta yang juga dosen Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi menyoroti defisit neraca migas. Dikatakan, tidak banyak berubah dengan 2019, ekspor migas semakin menurun lantaran lifting migas semakin turun dan diperkiraan mencapai 700.000 barel per hari.

“Impor migas, terutama impor BBM, akan semakin meningkat, sehingga neraca perdagangan migas tetap defisit pada 2020. Kalau ekspor nonmigas tidak naik secara signifikan, defisit neraca migas semakin membebani defisit neraca perdagangan,” kata dia.

Pengurus ISEI Yogyakarta yang juga Dirut PT SID Property, Bogat Agus Riyono menyoroti keberhasilan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjaga tingkat bunga perbankan dan menguatkan nilai tukar rupiah hingga akhir 2019.

“Saya yakin, ini akan terus berlanjut dan merupakan angin segar untuk bisnis properti. Tahun 2020 akan lebih menjanjikan. Kapitalisasi pasar properti akan meningkat. Namun, prospek tersebut akan dipengaruhi juga oleh kinerja para pengembang selama periode yang lalu. Konsumen semakin cerdas dan teliti dalam memantau data dan realisasi di lapangan,” ujarnya.

Sementara, pengurus ISEI Yogyakarta lainnya, Soeharto menyebutkan, kondisi bisnis di luar sektor pariwisata beberapa waktu terakhir sedang mengalami penurunan (slowdown). Omset bisnis semakin menurun, meskipun sampai saat ini masih ada yang bisa bertahan.

Salah satu faktor penyebab kondisi tersebut, kata dia, adalah kondisi perekonomian dunia yang sedang lesu. Perang dagang AS-Tiongkok menjadikan perekonomian dunia belum bisa bangkit.

“Kondisi terakhir adalah memanasnya hubungan AS-Iran dan diprediksi akan menjadikan harga minyak dunia meningkat. Pada akhirnya, perekonomian dunia dalam kondisi tetap stagnan yang berakibat kondisi bisnis di Indonesia dan DIY sebagian tetap lesu,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan