Banjir dan Longsor Akibat Kerusakan Hutan

Banjir dan Longsor Akibat Kerusakan Hutan
Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi, Sudirman (tiga dari kiri) melakukan penanaman pohon penghijauan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Jambi di Taman Rimba Kota Jambi, Jumat, 10 Januari 2020. (Foto: Suara Pembaruan / Radesman Saragih)
Radesman Saragih / JEM Sabtu, 11 Januari 2020 | 19:23 WIB

Jambi, Beritasatu.com -Bencana banjir dan longsor yang sering melanda berbagai daerah di Tanah Air termasukdi Provinsi Jambi, sebagian besar disebabkan kerusakan hutan. Kerusakan hutan di kawasan hulu sungai yang merupakan daerah tangkapan air membuat banjir mudah terjadi.

Kemudian kerusakan hutan juga membuat bencana longsor di daerah perbukitan semakin rawan. Jika kerusakan hutan tidak ditangani secara serius, maka bencana banjir dan longsor di Tanah Air sekan semakin sulit dikendalikan.

Hal tersebut dikatakan Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi, Sudirman ketika melakukan penanaman pohon serentak bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Jambi di Taman Rimba Kota Jambi, Jumat (10/1/2020).

Menurut Sudirman, bencana banjir dan longsor di beberapa daerah di Tanah Air telah mengakibatkan kerusakan dan kerugian harta juga nyawa manusia. Bencana banjir dan longsor tersebut sebagian besar disebabkan kelalaian atau tindakan yang tidak merawat alam.

“Untuk mengurangi kerawanan bencana banjir dan longsor di Tanah Air, khususnya di Jambi, kami mengajak semua pihak, swasta, dunia usaha maupun masyarakat untuk membudayakan kegiatan pelestarian ekosistem dan menjaga keseimbangan alam khususnya dengan menanam dan memelihara pohon,"katanya.

Dikatakan, penanaman pohon serentak di di Jambi tersebut dilakukan secara serentak di seluruh kota dan kabupaten dengan menanam 1.000 pohon di lahan-lahan kritis. Penanaman pohon tersebut merupakan bagian dari kegiatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HPMI). Pohon penghijauan yang ditanam serentak di Jambi terdiri dari pohon matoa, tembesu, bulian, mahoni, kedondong hutan dan durian.

“Tujuan penanaman pohon serentak tersebut, lanjut Sudirman, untuk memulihkan lahan-lahan kritis di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), termasuk daerah hulu DAS Batanghari, Jambi,” katanya.

Dikatakan, gerakan penanaman pohon tersebut diharapkan bisa membangun kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan hutan dan lahan, penyelamatan sumber daya air, peningkatan produktivitas lahan dan perekonomian masyarakat, antisipasi perubahan iklim dan pencegahan bencana hidro meteorologi.

"Urusan pelestarian alam bukanlah masalah kecil karena menyangkut masa depan anak cucu kita. Jika saat ini kita menanam pohon berarti kita sedang menanam doa, harapan dan kerja kita semua untuk keberlanjutan hidup generasi yang akan datang,"paparnya.

Sementara Kapolda Jambi Irjen Pol Muchlis AS pada kesempatan tersebut mengatakan, hutan berperan sebagai penyangga kehidupan dan sekaligus menyediakan hasil kayu, kebutuhan pangan dan ketersediaan air dan sumber energi dan jasa lingkungan lainnya. Namun saat ini dukungan hutan terhadap kehidupan manusia semakin berkurang akibat kerusakan hutan.

“Saat ini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa lingkungan hidup telah rusak, pencemaran udara dan polusi meningkat. Kemudian lahan disekitar sering terlihat gersang, hutan banyak yang rusak terbakar. Kondisi demikian membuat banyak daerah di Indonesia dilanda bencana banjir ketika musim hujan dan dilanda bencana kekeringan ketika musim kemarau,”katanya.

Dikatakan, alam yang dinikmati manusia saat ini tidak boleh dianggap sebagai warisan nenek moyang tetapi sesuatu yang dipinjam dan harus diberikan pada anak cucu.

"Jika saat ini sumber daya alam kita keruk habis, maka anak cucu kita hanya akan menunggu lahan yang gersang, air yang keruh, sumber penghidupan yang makin susah, sumber daya alam juga susah untuk diremajakan lagi,"katanya.



Sumber: Suara Pembaruan