Nelayan Tiongkok di Natuna Disinyalir Tak Sekadar Cari Ikan

Nelayan Tiongkok di Natuna Disinyalir Tak Sekadar Cari Ikan
Pakar Hukum Laut Internasional Hasjim Djalal (kiri) memberikan paparan bersama Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kemenlu Damos Dumoli Agusman (kedua kiri), Anggota Komisi I DPR Sukamta (ketiga kiri) serta Pendiri dan CEO Indonesia Ocean Justice Initiative Mas Achmad Santosa, pada diskusi publik, di Jakarta, Senin (13/1/2020). Diskusi tersebut mengambil tema Kedaulatan RI atas Natuna. ( Foto: ANTARA FOTO / Muhammad Adimaja )
Yeremia Sukoyo / JAS Senin, 13 Januari 2020 | 19:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Nelayan Tiongkok hingga saat ini masih keluar masuk ke dalam wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di perairan Natuna yang merupakan bagian dari kedaulatan Indonesia. Kondisi itu membuat Indonesia terus meningkatkan patroli kawasan di sekitar perairan Natuna

Pakar Hukum Laut Internasional, Hasjim Djalal, mensinyalir ada kepentingan yang lebih besar di balik keberadaan kapal-kapal nelayan di sekitar perairan Natuna. Di antaranya adalah adanya dugaan penyisiran sistem pertahanan bawah laut atau underwater defence teknologi (UDT) di perairan tersebut.

"Cina (Tiongkok, red) melihat ada kepentingan bersama antara Cina dan Indonesia untuk mengecek bersama-sama keberadaan kapal selam maupun kapal di permukaan milik amerika. Dicurigai ada underwater defence teknologi di sekitar perairan itu," kata Hasjim Djalal dalam diskusi Centre for Dialogue and Cooperation bertema "Kedaulatan RI Atas Natuna", Senin (13/1/2020) di Jakarta.

Baca juga: Tiga KRI Usir Kapal Asing di Perairan Natuna Utara

Menurutnya, tidak dapat dimungkiri, selama ini ada dugaan informasi yang menyebutkan perairan Natuna menjadi salah satu akses jalur kapal selam ataupun sistem pertahanan bawah laut negara-negara maju. Kondisi itu diperparah dengan semakin terjepitnya Tiongkok oleh Amerika yang membuat aliansi dengan negara lain seperti Jepang, India, dan bahkan Australia.

"Ini barangkali faktor yang bisa dijadikan pertimbangkan. Apakah perlu indonesia ajak ASEAN untuk bekerja sama? Cina mungkin merasa terjepit oleh sikap Amerika yang mengurung Cina. Aliansi Amerika, mulai dari Jepang, India dan Australia, Membuat Cina terjepit di tengah-tengah," ucapnya.

Karena itulah, dirinya mengingatkan agar Indonesia perlu untuk perkuat kemampuan teknologi, peralatan, psikologis, pengawasan, hingga penegakan hukum di perairan. Indonesia pun perlu untuk melakukan dialog dengan Tiongkok, namun jangan sampai terseret dalam pertengkaran antara Tiongkok dan Amerika.

"Indonesia dan Cina sudah terkenal ada visi dan hubungan yang sangat luas sejak dulu. Mungkin barangkali kita jajaki kita bicara dengan mereka dan pikirkan cara terbaik agar tidak terjebak dengan pertengkaran antara Cina dengan Amerika Serikat. Diskusi dengan Cina sangat penting diadakan," ungkapnya. 

Baca juga: Din Syamsuddin: Masalah Pelanggaran Batas Wilayah Natuna Harus Diselesaikan



Sumber: Suara Pembaruan