Diskriminasi Sawit

Bamsoet: Uni Eropa Merusak Tatanan Perdagangan Global

Bamsoet: Uni Eropa Merusak Tatanan Perdagangan Global
Kelapa sawit. ( Foto: Antara / Syifa Yulinnas )
Hotman Siregar / FER Senin, 13 Januari 2020 | 20:06 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Setelah perang dagang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) terhadap Tiongkok, diskriminasi atau penerapan hambatan non-tarif dalam perdagangan global mungkin tidak akan berhenti pada sikap Uni Eropa (UE) terhadap komoditas crude plam oil (CPO).

Jokowi Gelorakan Industri Pengolahan dalam Negeri

Ketua MPR, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menilai, UE dan AS menjadi contoh tentang dua kekuatan ekonomi yang merusak tatanan atau kesepakatan tentang aturan main perdagangan global yang telah ditetapkan dan disepakati dalam Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO (World Trade Organization).

"Demi kepentingannya masing-masing, negara atau kawasan perekonomian berskala besar itu tidak lagi patuh pada aturan main yang ditetapkan WTO. Perilaku UE dan AS adalah contoh dari kekuatan perekonomian yang bertindak sesuka hati demi kepentingan kawasan masing-masing," kata Bamsoet di Jakarta, Senin (13/1/2020).

Belajar dari perlakuan UE terhadap komoditas CPO, kata Bamsoet, bukan tidak mungkin di kemudian hari komoditas lainnya akan mendapatkan perlakuan serupa. Karena itu, negeri yang kaya akan sumber daya alam (SDA) seperti Indonesia harus coba merumuskan caranya sendiri untuk memaksimalkan potensi itu demi kemakmuran masyarakatnya.

Cisadane Sawit Targetkan Kenaikan Produksi 15%

Menurut Bamsoet, ekspor bahan mentah dengan nilai tambah yang rendah sudah harus dikurangi, dengan mengutamakan pengolahan menjadi barang jadi siap pakai di negeri sendiri. Tantangannya memang tidak mudah, karena angkatan kerja Indonesia mau tak mau harus menaikkan kapasitas dan keahlian. Namun, pilihan itu sulit dihindari dan harus dimulai dari sekarang.

Maka, kata politisi Golkar itu, gagasan dan ajakan Presiden untuk memaksimalkan potensi sawit sebagai bahan bakar alternatif relevan untuk dikaitkan dengan masa depan ketahanan energi. Indonesia mau tak mau harus lebih fokus dan bersungguh-sungguh dalam mewujudkan energi baru terbarukan.

"Jangan melihatnya untuk kepentingan jangka dekat, melainkan demi generasi anak-cucu. Dengan fokus pada program energi baru terbarukan, generasi bangsa terkini menyiapkan landasan yang kuat bagi masa depan ketahanan energi nasional," tandas Bamsoet.



Sumber: Suara Pembaruan