Kejagung Tahan Benny Tjokro, Ini Reaksi Kementerian BUMN

Kejagung Tahan Benny Tjokro, Ini Reaksi Kementerian BUMN
Direktur Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro. ( Foto: Antara / Nova Wahyudi )
/ WBP Selasa, 14 Januari 2020 | 18:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian BUMN menanggapi penetapan tersangka terhadap Direktur Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro, mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Harry Prasetyo dan Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) Heru Hidayat oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).

"Kita apresiasi saja, itu pekerjaan dari teman-teman BPK awalnya. Hasil dari BPK kemudian diambil alih oleh teman-teman di Kejaksaan. Kita hormati," ujar Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga di Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Arya mengatakan bahwa penetapan tersangka terhadap ketiga orang tersebut berarti semua proses terkait kasus Jiwasraya berjalan. "Proses hukumnya berjalan dan kita juga (Kementerian BUMN) akan menyelesaikan bagian kami," kata Arya Sinulingga.

Benny Tjokrosaputro Ditetapkan Sebagai Tersangka Jiwasraya

Menurut Arya, penetapan tersangka merupakan proses yang dilakukan oleh BPK dan kejaksaan. Kementerian BUMN mendorong supaya prosesnya berjalan terus dengan baik.

Sebelumnya Komisaris PT Hanson International Tbk, Benny Tjokrosaputro, ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi oleh PT Asuransi Jiwasraya.

Eks Dirkeu Jiwasraya Ditetapkan Sebagai Tersangka

Selain itu mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Harry Prasetyo dan Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) Heru Hidayat juga ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi perseroan terbatas itu.

Ketiganya dibawa ke Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung untuk ditahan selama 20 hari. Penetapan status tersangka tersebut dibenarkan Muchtar Arifin, kuasa hukum Tjokrosaputro.

PT Asuransi Jiwasraya (Persero) telah banyak melakukan investasi pada aset-aset dengan risiko tinggi untuk mengejar keuntungan tinggi, diantaranya penempatan saham sebanyak 22,4 persen senilai Rp 5,7 triliun dari aset finansial.

Dari jumlah itu, lima persen dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik, sisanya 95 persen dana ditempatkan di saham yang berkinerja buruk. Akibatnya, PT Asuransi Jiwasraya hingga Agustus 2019 menanggung potensi kerugian negara sebesar Rp 13,7 triliun.



Sumber: ANTARA