Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Ditangkap, Aktivitas Dihentikan

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Ditangkap, Aktivitas Dihentikan
Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya Dyah Gitarja, menyebut diri sebagai Sinuhun dan Kanjeng Ratu Kerajaan Keraton Agung Sejagat, yang berlokasi di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. ( Foto: Istimewa )
Stefy Thenu / JAS Rabu, 15 Januari 2020 | 06:45 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Tim Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jateng bersama Polres Purworejo menangkap Raja Keraton Agung Sejagat, Sinuhun Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya Kanjeng Ratu Fanny Aminadia atau Dyah Gitarja, Selasa (14/1/2020) sekitar 17.00 WIB

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat itu ditangkap saat mereka dalam perjalanan menuju ke Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.

Keduanya dibawa ke Mapolres Purworejo untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Penangkapan Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat dipimpin langsung Direktur Reskrimum Polda Jateng Kombes Pol Budi Haryanto.

"Kami telah melakukan upaya paksa penangkapan terhadap dua orang pelaku yang di duga melakukan perbuatan melanggar pasal 14 UU RI No 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana," jelas Budi Haryanto, usai penangkapan.

Pasal 14 UU RI No. 1 Tahun 1946 mengatur "barang siapa menyiarkan berita atau pemberitaan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat di hukum maksimal 10 tahun."

"Selain itu, keduanya juga melanggar pasal 378 KUHP tentang penipuan," tambahnya.

Selain Totok dan istrinya, polisi juga menangkap lima pejabat keraton, di antara adalah pemilik rumah yang dijadikan markas, Chimawan yang berpangkat Resi atau penasihat dan Prasetyawan sebagai maha patih di Keraton Agung Sejagat.

Menurut Budi Haryanto, pihaknya telah memeriksa 10 orang saksi yakni warga Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Bukti-bukti yang disita dari Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat antara lain KTP Totok Santosa dan Fanny Aminadia. Disita pula tombak, pataka kerajaan, lukisan-lukisan dan seragam keraton.

Polisi juga telah memperoleh bukti-bukti dokumen palsu kartu-kartu yang dicetak oleh tersangka untuk melakukan perekrutan anggota Keraton Agung Sejagat.

"Untuk proses hukum, markas mereka kita pasang garis polisi," tandas Budi.

Dengan demikian, seluruh aktivitas kelompok ini dihentikan.

Kemunculan Keraton Agung Sejagat ini mulai dikenal publik, setelah mereka mengadakan acara wilujengan dan kirab budaya, yang dilaksanakan dari Jumat (10/1/2020) hingga Minggu (12/1/2020).

Totok mengklaim Keraton Agung Sejagat merupakan kerajaan atau kekaisaran dunia yang muncul karena telah berakhir perjanjian 500 tahun yang lalu, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu imperium Majapahit pada 1518 sampai dengan 2018.

Perjanjian 500 tahun tersebut dilakukan oleh Dyah Ranawijaya sebagai penguasa imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang barat atau bekas koloni Kekaisaran Romawi di Malaka pada1518.

Dengan berakhirnya perjanjian tersebut, maka berakhir pula dominasi kekuasaan barat mengontrol dunia yang didominasi Amerika Serikat setelah Perang Dunia II.

Menurutnya, kekuasaan tertinggi harus dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Keraton Agung Sejagat sebagai penerus Medang Majapahit yang merupakan Dinasti Sanjaya dan Syailendra.

Keraton Agung Sejagat memiliki 400 an pengikut berasal dari Yogya, Klaten dan Lampung. 



Sumber: Suara Pembaruan